GADIS PENAKLUK

GADIS PENAKLUK
Chapter 41


__ADS_3

"arrghhhh" teriak Ian mengerang kesakitan karena kakinya mengeluarkan darah yang cukup banyak


Mencium bau amis darah dari kaki Ian membuat mahluk itu tertawa menyeringai. Ia Kemudian berusaha menyerang Ian dengan brutal.


Ia terus saja mengejar Ian, Aisyah tak tinggal diam melihat Ian yang sudah terpojok. Ia segera mengambil balok kayu dan memukulkan kearah mahluk astral itu.


*bruuughhh!!!


Mahluk itu jatuh terkena pukulan Aisyah, kini taringnya bertambah panjang dengan sorot mata merah yang penuh kemarahan. Ia berbalik menyerang Aisyah yang terus menghindar dari serangannya.


Aisyah sudah kehabisan tenaga, dengan nafas yang tersengal - sengal ia berusaha melawan mahluk yang disebut kuyang itu dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.


Melihat lawannya sudah kehabisan tenaga, mahluk astral itu tertawa menyeringai, menunjukan taringnya yang tajam. Karena ketakutan Aisyah segera berteriak memanggil Nyimas.


"tante!!!!, tante Nyimas!!!, tolong Ais!!!" teriak Aisyah


"tante Nyimas tolong!!!!, tolong Ais!!! "


Mahluk itu semakin mendekat kearahnya, Membuatnya beringsut mundur menghindarinya. Ian berusaha bangkit dan berlari kearah Aisyah untuk menyelamatkannya. Baru saja ia melayangkan sebuah balok kayu kearah mahluk itu, namun justru balok itu malah mengenai Aisyah yang kemudian ambruk jatuh dan pingsan.


"hahahahah!!! " terdengar tawa dari mahluk yang begitu senang melihat Ian salah sasaran.


"dasar an**ng!!" maki Ian yang kemudian melayangkan kembali baloknya kearah mahluk itu


"arghhhh!!! " Ian mengerang kesakitan tatkala dedemit itu mulai mengigit bahunya


Mahluk itu tak melepas gigitannya walaupun Ian berusaha menarik rambut panjangnya. Mahluk itu justru semakin dalam menancapkan taringnya dan menghisap darahnya.


**jraaaasssshhhh!!!!!


Sebuah kilatan berwarna putih menghantam mahluk astral itu, membuatnya melepaskan gigitannya.

__ADS_1


Seketika mahluk itu jatuh lunglai ketanah, tak menyia-nyiakan kesempatan itu Nyimas kembali melancarkan kilatan berwarna Biru yang tepat mengenai organ tubuhnya.


**aaaarrggghh!!!!


Suara erangan mahluk itu memekik membelah kesunyian malam. Kini mahluk itu telah hilang, berubah wujud menjadi wanita paruh baya dengan mulut yang berlumuran darah, dan mata yang melotot hampir keluar dari tempatnya.


Perlahan Aisyah mulai membuka matanya, menatap kearah tubuh seorang wanita yang memghadapi sakaratul maut. Pelan-palan ia beringsut melangkahkan kaki kearahnya, betapa terkejut ia ketika melihat sosok yang terbaring didepannya.


"mak ipah!! " panggil Aisyah sambil tak percaya


"Aisyah, maafkan emak, terpaksa aku melakukan ini semua atas perintah suami emak" setelah berkata seperti itu Ia segera menghembuskan nafas terakhirnya dengan mata yang melotot dan mulut menganga


"inna lillahi wa inna ilaihi rojiun" kata Aisyah sambil mencoba menutup mata mak ipah dan juga mulutnya yang masih menganga


Kini ia beralih mendekati Ian yang lunglai karena kehilangan banyak darah. Aisyah segera memapah Ian menaiki motornya. Ia memberanikan diri mengendarai motor Ian membawanya menuju rumah sakit.


"tante... bantu Ais mengendarai motor ini" pinta Aisyah kepada Nyimas


Aisyah melesatkan motor Ian dengan kecepatan tinggi, ia tak ingin Ian kehabisan darah lebih banyak lagi. Ian masih memeluk erat tubuh Aisyah, wajahnya mulai terlihat pucat.


Sesampainya dirumah sakit Aisyah segera membawa Ian masuk kedalam, dan dua orang suster segera membawanya masuk ke UGD.


Aisyah mencoba menghubungi Adel, memberikan kabar tentang keadaan kakaknya itu.


"halo, del"


"kenapa malam-malam lo nelpon gue? "


"gue lagi ada dirumah sakit, Ka Ian di UGD sekarang? " Aisyah coba menjelaskan


"kenapa Ka Ian??, jangan bilang gara-gara nyelametin lo ka Ian jadi celaka" kata Adel yang balik bertanya

__ADS_1


"datang aja kerumah sakit, nanti aku ceritain disana" jawab Aisyah


"awas aja kalo sampe terjadi sesuatu sama Ka Ian, lo bakal tanggung akibatnya" ancam Adel yang kemudian menutup teleponnya.


Aisyah masih menunggu cemas kabar dari para dokter yang kini sedang menangani Ian.


"ya Allah mudah-mudahan ka Ian baik-baik saja" kata Aisyah cemas


Ia masih berjalan mondar-mandir didepan ruang UGD.


**Plaaakkk!!!


Sebuah tamparan keras mendarat diwajahnya, Adel melayangkannya dengan penuh amarah.


"awas kalo ka Ian kenapa-napa, lo harus tanggung jawab!" kata Adel sambil menunjuk kearah Aisyan


"sudahlah del, kita berdoa saja semoga Ian baik-baik saja" kata pak Frans mencoba menenangkan putrinya


Ia mengajak Adel duduk sambil berusaha menenangkannya. Tak berapa lama seorang dokter keluar dari ruang UGD.


"yang mana keluarga dari Pasien yang bernama Ian" tanya Pak Dokter


"saya ayahnya" kata Pak Frans yang segera mendekatinya


"anda harus bersabar pak, karena kehabisan banyak darah anak anda tak dapat kami selamatkan" kata Dokter sambil menepuk bahu pak Frans


"jadi anak saya meninggal dok" kata Pak frans meyakinkan apa yang didengarnya


Dokter hanya mengangguk, sementara Adel langsung berteriak histeris.


"tidakk!!!!!, kak Ian !!!!!" teriak Adel yang langsung menerobos masuk kedalam ruang UGD.

__ADS_1


__ADS_2