
"biarlah aku yang mengantarmu, aku tidak mau sesuatu terjadi denganmu lagi" jawab Ferdi
"tidak usah Fer, aku tak mau kau mengalami nasib yang sama dengan Bryan dan Ian" kata Aisyah yang tak mau Ferdi jadi korban berikutnya karena mendekatinya
"tidak perlu takut Ais, hidup mati seseorang sudah ditentukan oleh Allah, bukan oleh mahluk gaib" jawab Ferdi yang mantap dengan keputusannya
Aisyah tak dapat mencegah keinginan Ferdi, ia hanya berdoa semoga tak terjadi sesuatu dengannya.
*******
Sesampainya dirumah sakit Aisyah segera menelusuri selasar rumah sakit mencari keberadaan ayahnya.
Ia kemudian masuk kesebuah ruang dimana ayahnya dirawat, Lulu mendapati ayahnya sedang tertidur .
"syukurlah ayah selamat" kata Aisyah sambil memeluk Ayahnya
Pak Hasan terbangun saat menyadari putrinya berada disampingnya.
"kamu sudah pulang nak? " tanya pak Hasan
"udah yah, ayah udah baikan belum? " kata Aisyah
"alhamdulillah tadi ada yang nolong ayah, jadi ayah sudah baikan sekarang"
"temen kamu siapa namanya, kok diem aja? " tanya Pak Hasan
"saya Ferdi pak" jawab Ferdi
"oh nak Ferdi, titip Lulu ya, akhir-akhir ini aku suka bermimpi buruk, banyak yang ingin mencelakainya, tolong jaga dia" pinta Ayah Lulu pada Ferdi
"insya Allah, Ferdi akan menjaga Ais, pak" jawab Ferdi
Aisyah terdiam mendengar ayahnya berkata seperti itu.
*******
__ADS_1
Adel yang kesal karena aksinya digagalkan oleh Ferdi segera membanting pintu kelasnya, sehingga suaranya yang keras mengagetkan semua yang ada dikelas.
Bu Via yang sedang mengajar disebelahnya merasa terganggu, ia segera mendatangi Adel dan memberinya teguran.
Tentu saja Adel tidak terima ketika bu Via menegurnya.
"tunggu aja tanggal mainnya, lo bakal nyesel karena udah berani menghukumku" gerutu Adel kesal
"lagi ngapain lo del? " tanya Cindy
"menurut lo? " Adel balik bertanya sambil melempar sapu kearahnya
"iya maaf del, cuma bercanda aja kok marah sih? " kata Cindy
"udah lo ikut gue sekarang? " Ajak Adel yang menarik tangan Cindy
Adel mengajak Cindy masuk kedalam mobilnya, ia kemudian melesatkan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"kita mau kemana sih del, buru-buru banget"
"mau apa lagi del? " tany Cindy
"udah lo ikut aja, tar lo juga tau" jawab Adel yang semakin menambah kecepatan mobilnya
Sore hari Adel dan Cindy sudah tiba di gubuk mbah Karto.
"ada apa lagi kalian kemari? " tanya mbah Karto
"mbah harus kasih saya yang lebih dari kemarin, karena sicupu ternyata masih selamat sampai saat ini" kata Adel menjelaskan maksud kedatangannya
"lo berani bayar berapa kalau mbah menyanggupi permintaanmu" jawab Mbah Karto
"terserah mbah mintanya berapa gue pasti kasih"
"sebenarnya kenapa lo ingin sekali membunuh anak itu, toh dia juga tak mengganggumu" mbah Karto coba menelisik
__ADS_1
"mbah pasti udah taulah... kenapa gue benci banget sama dia? " jawab Adel
"hmmm, karma memang akan terjadi, tapi asal kamu ingat gadis itu memiliki pelindung yang cukup kuat" kata Mbah Karto sembari membersihkan keris yang ada ditangannya
"gue gak mau tau...dia udah membuat ka Ian meninggal jadi aku juga ingin ia membayarnya dengan nyawanya" kata Adel
"tapi itu sepertinya sulit nona" jawab Mbah Karto
"kalau mbah tidak mampu setidaknya kasihlah referensi teman mbah yang bisa membantu gue" kata Adel memohon
"sama saja, sebenarnya hanya kau yang bisa mengalahkannya, karena itu sudah karma yang harus ia terima sampai ia bertemu cinta sejatinya" jawab mbah karto menjelaskan
"maksudnya aku yang harus ngebunuh dia dengan tanganku sendiri gitu? " kata Adel
"iya, karena dulu yang bisa mengalahkan Nawang Wulan cuma Putri Maheswari"
"tapi kan Aisyah ada yang melindungi, pastinya gue bakal kalahlah melawan mahluk gaib pelindungnya"
"itulah alasannya, mahluk itu akan semakin kuat jika terus bersamanya? " mbah Karto menambahkan
"terus gimana donk jalan keluarnya" tanya Adel bingung
"lo harus temuin penjaga sekolah yang bernama mang Asep, dia menyimpan gelang yang bisa mengurung Nyimas Nawang Wulan, ambil gelang itu darinya dan berikan padaku" kata Mbah karto
"baiklah, terus Aisyah gimana, gue gak mau ngotorin tanganku hanya untuk membunuh si cupu itu" kata Adel
"itu mudah diatur jika gelang itu sudah ditanganku" kata mbah Karto
"ok, satu lagi buat laki-laki yang ada digambar ini membenci wanita itu" kata Adel sambil menyerahkan foto Ayahnya dan foto bu Via
Setelah itu Adel mengeluarkan amplop coklat yang berisi uang kepada Mbah Karto, kemudian dia pergi meninggalkannya.
Pagi harinya Adel segera masuk kerumah mang Asep yang berada dibelakang sekolah. Saat Adel masuk kerumahnya, mang Asep tidak ada didalam rumah.
"sepi" kata Adel sambil menengok kanan kiri
__ADS_1
"ini kesempatan bagus, gue harus segera mencari gelang itu, sebelum mang Asep kembali" gumam Adel