GADIS PENAKLUK

GADIS PENAKLUK
Chapter 46


__ADS_3

Sementara Mang Asep yang mencoba menolong Aisyah juga mengalami hal yang sama. Darah segar keluar dari mulutnya.


"mamang tidak apa-apa?" tanya Ferdi membantu Mang Asep berdiri


"biarkan aku yang akan menghadapinya" kata Ferdi yang kemudian duduk bersila


Aisyah menatap cemas kepada Ferdi, ia takut jika Ferdi akan mengalami nasib yang sama dengan Bryan dan Ian.


Ferdi segera melantunkan ayat-ayat suci mencoba menghalau serangan demi serangan yang dilancarkan oleh mbah Karto. Namun sekuat apapun pertahanan Ferdi rupanya ilmu iblis mbah Karto jauh lebih mumpuni. Terbukti dari tubuh Ferdi yang mulai terplenting keatas pohon. Beruntung sekelebat bayangan Putih menangkapnya.


**wusshhh!!


Ia segera menyandarkan tubuh Ferdi disamping pohon dan kemudian bayangan putih itu segera masuk kedalam tubuh Ferdi.


Kini ia mulai bangkit dan mengarahkan sebuah kilatan berwarna putih kearah mbah Karto.


**Jraassshhh!!!


**arghhhh!!!


Mbah Karto mengerang kesakitan, lengkingan suaranya memekik dikesunyian malam, tubuhnya ambruk bersimbah Darah.


Sementara Ferdi kemudian menghampiri mang Asep yang terluka. Ia kemudian menyalurkan tenaga dalamnya ketubuh mang Asep. Setelah mang Asep pulih, Dia menggendong Aisyah yang masih terkulai lemas bersandar dipohon.


Ferdi membawanya pulang kerumah, kemudian membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur.


"kenapa kau tak mengambil gelang ditangan dukun itu " kata Aisyah yang masih menahan sakit diulu hatinya


" kau tidak usah khawatir, karena Nyimas sebentar lagi akan terbebas dari kutukannya" jawab Ferdi


" maksud kamu dia akan kembali kealam keabadian? " tanya Aisyah


Ferdi hanya mengangguk, dan tiba-tiba saja pandangan Aisyah mulai kabur dan hanya gelap yang terlihat.


Tubuhnya ditarik masuk kedalam lorong waktu yang membanya kemasa tigaribu tahun silam.


Dalam Kegelapan Aisyah berusaha menyusuri lorong-lorong gua, Ia ingin segera pulang kerumahnya, setelah seharian ia harus melepaskan diri dari kejaran para penyamun.


Kini sinar mentari sudah mulai terlihat, pertanda mulut gua sudah dekat. Ia kemudian mempercepat langkahnya keluar dari gua itu.


sesampainya dimulut gua Ia melihat sepasang mata yang sedang mencari bunga-bunga indah diantara ilalang yang tumbuh meninggi menutupi keindahan sang puspa.

__ADS_1


setelah mendapatkan cukup banyak ia kemudian mengikatnya dan membawanya pulang.


"panglima Arya?? " kata Aisyah yang kini melihat jelas raut wajah laki-laki pemetik bunga itu


Aisyah kemudian mengikutinya dari belakang, pria itu menghentikan langkahnya disebuah rumah kecil yang tak jauh dari Istana Raja.


**tok.. tok.. tok!!


"Nyimas!!, apa kau ada didalam?" kata Arya Panangsang memanggil Nyimas


Namun rumah itu tetap sepi tak ada jawaban, kemudian Arya Panangsang meletakan bunga itu didepan pintu rumah dan meninggalkannya.


Tak berselang lama setelah kepergiannya Pangeran Panji Gumilang datang kerumah Nyimas, Ia hendak menyampaikan pesan dari Ayahnya yang memintanya untuk tampil menari diacara perjamuan tamu istana.


Panji Gumilang belum pernah sekalipun bertemu dengan Nyimas, hanya sering mendengar para kaum adam yang mengagung-agungkan kecantikannya.


Ia menunggunya sembari menatap kearah seikat bunga panca warna yang tertinggal diatas meja.


cukup lama panji Gumilang menunggu kedatangan Nyimas, ketika ia hendak pulang ia melihat seorang wanita cantik turun dari kereta kuda. Wanita itu tersenyum kepadanya, Ia begitu terpikat dengan kecantikannya hingga membuatnya menelan salivanya.


"yang mulia pangeran ada keperluan apa sehingga datang kegubuk hamba" kata Nyimas


Panji Gunilang kemudian menyerahkan bunga itu kepada Nyimas.


"terima kasih yang mulia" kata Nyimas


Aisyah yang menyaksikan pemandangan itu tiba-tiba tubuhnya seperti ditarik oleh seseorang yang membawanya pada peristiwa yang berbeda.


Ia melihat Nyimas yang sedang dikerubuti oleh sekumpulan wanita yang sedang menghajarnya, kemudian mengikatnya dan membawanya kesebuah jurang.


"dasar wanita penggoda, enyahlah kau dari dunia ini" kata salah seorang dari mereka yang mendorongnya ke bibir Jurang.


Sesosok bayangan hitam segera menangkap tubuh Nyimas yang terjun kejurang.


Ia kemudian membawanya kekediamannya.


Samar-samar Nyimas mulai membuka matanya menatap sesosok pria yang menutupi wajahnya dengan topeng yang telah menolongnya. Lelaki itu segera pergi dari rumah Nyimas setelah melihat Nyimas tersadar. Ia hanya melempar senyum kepadanya dan segera berlalu pergi, tak berselang Lama Panji Gumilang datang ke gubuk Nyimas.


"syukurlah kau baik-baik saja? " kata Panji Gumilang


"terima kasih yang mulia telah menolong hamba" kata Nyimas

__ADS_1


Panji Gumilang kaget mendengar kata-kata Nyimas, karena sebenarnya bukan dia yang menolongnya, tapi karena ia sangat mengharapkan cintan darinya maka ia hanya mengangguk pelan. Untuk mendapatkan hati Nyimas terpaksa ia berbohong dengan menyatakan bahwa ia yang menolongnya.


"sama-sama dinda, aku pasti akan menolongmu, karena kamu adalah wanita yang aku cintai" kata Pangeran Panji sambil memeluk Nyimas


Laki-laki bertopeng itu kembali dengan membawa ramuan dan buah-buahan, tapi melihat wanita pujaannya tengah berpelukan dengan Pangeran Panji membuatnya mengurungkan niatnya untuk menemuinya. Ia kemudian meninggalkan buah-buahan dan ramuannya diatas meja.


"kau memang lebih pantas dengannya daripada bersamaku" batin laki-laki bertopeng itu. Dia kemudian membuka topengnya dan meninggalkan topengnya bersama buah-buahan yang ia bawa.


"panglima Arya??? "kata Aisyah yang sedari tadi betdiri dibalik pintu.


Seketika Aisyah kembali ditarik oleh lorong waktu yang membawanya kembali kesebuah ruangan rumah sakit. Ia mulai membuka matanya menatap sekeliling kamarnya dilihatnya Ferdi yang sedang tertidur disampingnya menemaninya disebuah ruangan rumah sakit.


Aisyah menggoyang-goyangkan tangan Ferdi mencoba membangunkannya.


"alhamdulillah kamu sudah sadar ais? " kata Ferdi yang sangat senang melihat Aisyah yang sudah tersadar dari komanya.


"aku dimana? " tanya Aisyah


"kamu dirumah sakit, sudah tiga hari kamu koma" jawab Ferdi


"tiga hari?" bati Aisyah


Bahkan ia merasa hanya beberapa jam saja, ia pergi ke masa tigaribu tahun silam itu. Ia mencoba untuk duduk sambil mengingat semua kejadian yang dialaminya. Ferdi membantunya duduk, tersenyum menatap kearah Aisyah.


Aisyah seperti mengenali senyuman yang tak asing baginya.


"panglima Arya?? "kata Aisyah yang terus menatap kearah Ferdi


"siapa panglima Arya? " kata Ferdi


"dialah cinta sejati Nyimas, iya selama ini nyimas tak menyadarinya? " kata Aisyah mulai menyimpulkan semua kejadian yang dilihatnya


Tiba-tiba sesosok wanita cantik berbusana khas kerajaan berdiri dihadapannya.


"tante Nyimas? " kata Aisyah


"bagaimana kau bisa keluar dari gelang itu? " kata Aisyah bingung


"karena kau sudah menemukan cinta sejatimu, maka aku juga terbebas dari kutukan itu? " kata Nyimas


"maksud tante? " Aisyah balik bertanya

__ADS_1


"iya kau tahu bahwa sebenarnya orang yang mencintaiku dengan tulus bukanlah pangeran Panji Gumilang tapi Panglima Arya panangsang, begitu juga dirimu. Ferdi adalah cinta sejatimu Walaupun dengan kekurangan yang ia miliki dahulu, ia selalu berusaha menjagamu hingga kini? " jawab Nyimas


Aisyah hanya terdiam mendengar penjelasan dari Nyimas sambil terus menatap Ferdi yang selalu setia menemaninya. Dialah yang menjadi teman satu-satunya yang selalu membelanya disekolah.


__ADS_2