
Tidak terasa mereka menonton televisi sampai waktunya untuk makan malam.
Tok! tok! tok!
Seorang pelayan wanita tampak berdiri di ambang pintu ruang santai.
"Nyonya, makan malam apakah sekarang sudah bisa untuk di sajikan di meja makan?" sahutnya.
"Sudah jam tujuh ya!" sahut Julia.
"Iya Nyonya!"
"Tunggu sebentar lagi, Tuan Lucas belum pulang!"
"Baik Nyonya, permisi!" jawab pelayan itu, lalu pergi dari sana.
"Katanya Papa sebelum jam tujuh akan pulang, kenapa bisa terlambat?" tanya Harry bingung.
"Papamu seorang pengusaha nak, pasti banyak urusan mendadak yang tidak di duga, jadi tidak bisa di pastikan tepat waktu, kita tunggu saja sebentar lagi, kalau belum pulang juga, kita makan duluan saja!" ujar Julia mengelus kepala Harry.
"Iya Ma!"
Mereka pun menunggu Lucas.
Setengah jam kemudian, pria itu belum datang juga.
__ADS_1
"Ma, aku sudah lapar!" sahut Harry.
"Ayo kita makan!" Julia bangkit dari duduknya.
Julia membawa Harry keruang makan.
"Makan malamnya tolong di sajikan saja Bik, Tuan Lucas sepertinya masih banyak urusan, dia terlambat untuk pulang!" sahut Julia kepada Bibi Koki villa.
"Baik Nyonya, kami akan sajikan makan malamnya!"
"Terimakasih Bik!" sahut Julia.
Akhirnya Julia dan Harry saja yang makan malam.
Sampai mereka selesai makan, Lucas belum juga pulang.
"Papa sepertinya banyak kerjaan, sampai telat pulang!" ujar Harry.
"Iya sayang, Ayo ke kamar, malam ini kamu harus cepat tidur, besok pagi Mama mau mendaftarkan mu masuk sekolah playgroup!"
Julia mengulurkan tangannya untuk memegang tangan Harry.
"Baik Ma!" Harry memberikan tangannya di pegang Julia.
Mereka kemudian naik ke lantai atas, dan langsung menuju kamar Harry.
__ADS_1
Seperti biasa, Harry selalu ingin di bacakan Julia sebuah buku cerita sebelum tidur.
Julia meraih buku cerita untuk anak-anak sebelum tidur dari laci meja kecil, di samping tempat tidur Harry.
Julia menyusun beberapa buku cerita di dalam laci tersebut.
Buku itu sudah berulang kali di baca Julia, tetapi Harry masih tetap menyukai buku itu.
Harry kemudian meletakkan kepalanya di bantal, dan mengambil posisi untuk berbaring.
Julia pun mulai membaca buku cerita yang di pegangnya.
"Pada jaman dahulu kala, ada seorang bayi perempuan terlahir di istana yang megah, bayi dari sepasang Raja dan Ratu yang tampan dan cantik, saat putri Mahkota lahir ada seberkas cahaya bersinar di atas istana, dan tiba-tiba sesuatu terjadi, di wajah putri Mahkota muncul bercak merah di bagian pipi kanan, dan itu membuat Raja dan Ratu panik, semua tabib di Kerajaan itu di panggil untuk menghilangkan bercak merah tersebut, tapi tidak ada satu pun yang berhasil menghilangkan bercak itu, membuat Raja dan Ratu sangat bersusah hati, putri Mahkota yang malang, kecantikannya di tutupi oleh bercak merah tersebut, sehingga putri Mahkota sampai remaja dan dewasa, bercak itu tidak bisa juga hilang, membuat putri Mahkota menjadi bahan cemoohan dari teman-teman sebayanya, dan mereka mengatai sang putri Mahkota sebagai Monster, karena bercak itu semakin menyebar sampai ke lehernya, putri Mahkota yang malang, dia hanya bisa menangis diam-diam, tidak pernah mengeluhkan apa yang terjadi kepada Raja dan Ratu....bla, bla, bla!" Julia membaca dengan intonasi nada yang begitu mendalam, sampai yang mendengar terhanyut seakan masuk ke dalam cerita tersebut.
Julia menoleh ke arah Harry, dan tampaklah putranya itu sudah tertidur dengan pulas nya.
Julia menutup buku dongeng yang di pegangnya, lalu memasukkan kembali buku tersebut ke dalam laci di samping tempat tidur Harry.
Dengan pelan dan perlahan, Julia menarik selimut untuk menyelimuti tubuh putranya itu.
"Selamat tidur nak!" bisik Julia, lalu mengecup kening Harry dengan lembut.
Dengan perlahan Julia turun dari tempat tidur Harry, lalu menyalakan lampu tidur di nakas.
Dan setelah itu mematikan lampu kamar, kemudian menutup pintu kamar dengan pelan.
__ADS_1
Bersambung.....