
Harry cemberut saat mereka sudah berada di dalam mobil, kelihatannya dia sangat kesal sekali.
"Papa, aku tidak mau lagi datang ke rumah Kakek, Nenek jahat sekali pada Mama, aku tidak suka, aku marah! marah sekali!" sahut Harry dengan nada tinggi, sembari memukul ke dua tangannya ke kedua pahanya.
"Baiklah nak, kalau Nenek sudah minta maaf pada Mama, baru kita berkunjung lagi ke rumah Kakek, oke!" ujar Lucas mengelus kepala Harry dengan lembut.
"Aku lapar, lapar sekali! jadi semakin lapar mendengar teriakan Nenek, tidak berhenti mengomel terus, bikin perutku sakit!" sahut Harry semakin cemberut sembari memukul kembali tangannya ke pahanya.
Julia tadi merasa sakit hati karena di hina oleh mertuanya, tapi mendengar perkataan Harry barusan, sakit hatinya jadi menghilang entah kemana.
Gerutuan Harry terdengar lucu, perutnya jadi sakit karena mendengar Neneknya merepet.
Julia mengulurkan tangannya membelai kepala putranya itu, lalu menciumnya dengan lembut.
"Kita makan di rumah saja ya, Mama akan langsung masak setelah kita sampai di rumah!" ujar Julia kepada Harry.
"Tidak, jangan, biarkan Bibi saja yang memasak, kamu sudah capek sayang, kita langsung makan sesampainya di rumah, aku sudah kirim pesan ke villa!" sahut Lucas.
"Oh, baiklah!"
Tidak berapa lama mereka pun sampai di villa, dan makan malam mereka yang terlewat sudah tersaji di meja makan.
Harry makan dengan lahap, dia benar-benar lapar sekali, sampai nambah sekali lagi.
__ADS_1
Lucas merasa bersalah melihat putranya itu, makan dengan cepat, dia terlihat lapar sekali.
"Pelan-pelan makannya nak!" sahut Lucas.
Harry mengurangi gerakan mengunyahnya ke mode lamban, dia mendengarkan apa yang dikatakan Ayahnya.
"Maaf, Mamaku memang keterlaluan, dia terlalu protektif, membuat sakit kepala!" sahut Lucas kepada Julia.
"Tidak apa-apa, aku akan mencoba untuk menyelami sikap Mamamu, mungkin selama ini, dia ingin memiliki menantu yang sesuai dengan pilihan hatinya!"
"Pilihannya semua tidak ada yang beres, semuanya gadis yang tidak ku sukai, wanita bermuka dua!" sahut Lucas.
"Dari mana kamu tahu? dulu saja kamu menilai aku gadis yang seperti itu juga!" ujar Julia memandang Lucas.
"Uhuk..uhuk!" Lucas mendadak terbatuk begitu Julia menyinggung tentang lima tahun lalu.
"Maaf, waktu itu aku terlalu cepat menilai kamu, tapi begitu aku tahu saat aku melakukannya padamu, aku baru tersadar, kalau ada yang salah dalam menilai ku, dan terbukti setelah Edward menyelidiki tentang kamu, aku tahu kamu adalah wanita yang istimewa!" Lucas meraih tangan Julia, lalu meremasnya perlahan.
Mereka saling memandang satu sama lain, beberapa detik mereka seperti itu.
Menyelami kedalaman, apa yang tersirat dalam bola mata masing-masing.
Perlahan tangan Lucas mengelus pipi Julia, dan itu membuat Julia tersadar dengan lamunannya.
__ADS_1
Julia mengedipkan matanya.
"Ehem!" Julia berdehem, "Lalu mengalihkan matanya kembali ke piringnya, melanjutkan makannya kembali.
Lucas tahu, kalau Julia tersipu karena elusannya pada pipi istrinya itu, warna kulit pada pipi Julia terlihat bersemu merah.
Lucas semakin terpesona melihat Julia, istrinya itu terlihat menggemaskan.
Setelah mereka selesai makan, mereka bersantai sebentar di ruang tivi.
"Malam ini aku ingin tidur bersama Papa dan Mama, di kamar Papa!" sahut Harry tiba-tiba.
Lucas dan Julia sontak menoleh ke arah Harry.
"Apa?" tanya Julia terkejut.
"Aku mau tidur bersama Papa dan Mama, aku ingin tidur sambil di peluk!" sahut Harry.
"Nak, kenapa kamu tiba-tiba begini manja? kamu kan sudah biasa tidur tanpa dipeluk?" sahut Julia heran.
"Malam ini aku mau tidur bersama dengan Papa dan Mama!" ulang Harry lagi, tanpa menjawab pertanyaan Julia.
Sementara Lucas sudah senang sekali mendengar permintaan putranya itu.
__ADS_1
Lucas ingin mengangkat Harry ke dalam pelukannya, dan berbisik pada putranya itu untuk mengucapkan terimakasih.
Bersambung......