
Julia tidak ingin lagi mendengarkan apa yang di bicarakan oleh ke dua wanita, yang duduk di belakang kursinya tersebut.
Perlahan Julia membungkuk ke depan, berbicara dengan suara pelan kepada Harry.
"Nak, Ayo kita pulang, kita bungkus makan di rumah saja pizza nya, oke?" sahut Julia sembari tersenyum pada putranya itu.
"Oke Ma!" Harry mengangguk setuju.
Memang anak yang pintar, dan pengertian.
Julia melambaikan tangannya kepada pelayan restoran siap saji tersebut, yang kebetulan berdiri tidak jauh dari mereka.
Setelah pelayan itu menghampiri mereka, Julia meminta tolong dengan sopan, kalau sisa pizza yang belum habis, di bungkus untuk mereka bawa pulang.
Pelayan tersebut mengerjakan apa yang diinginkan Julia.
"Terimakasih!" sahut Julia dengan ramah pada pelayan yang telah membungkus sisa pizza.
"Sama-sama Nyonya!" jawab pelayan itu dengan sopan, sembari membungkukkan sedikit tubuhnya.
Julia pun bergegas membawa Harry keluar dari restoran siap saji tersebut.
Pembicaraan terakhir yang di dengar Julia saat meninggalkan tempat duduk mereka, wanita yang di kenal Julia sebagai sepupu Lucas itu mengatakan, kalau sikap Lucas sudah mulai hangat padanya.
"Kesabaran yang begitu panjang, akhirnya membuahkan hasil, Lucas luluh juga padaku!" sahut wanita itu.
__ADS_1
Julia merasa semakin tidak nyaman mendengarkan ocehan wanita itu, perasaannya campur aduk tidak tenang.
Julia menyetop sebuah taksi, yang ke betulan lewat, saat mereka keluar dari restoran siap saji tersebut.
Mobil taksi kemudian membawa Julia dan Harry, ke alamat yang di berikan Julia.
"Mama, apakah tadi Mama ada mendengar tidak, tante-tante cantik yang duduk di belakang kursi Mama, mengobrol menyebutkan nama Papa?" tanya Harry begitu mereka sudah berada di dalam mobil.
Astaga!
Julia terkejut mendengar pertanyaan putranya tersebut, ternyata Harry mendengar apa yang di bicarakan oleh ke dua wanita itu.
"Mama tidak dengar nak, mungkin mereka membicarakan orang lain yang namanya sama seperti Papa!" ujar Julia dengan lembut, lalu mengelus kepala putranya itu.
"Benarkah?"
"Ah, iya! benar juga kata Mama, mungkin nama Papa anak orang lain!" sahut Harry menganggukkan kepalanya, merasa perkataan Ibunya masuk akal.
Tidak berapa lama mereka pun sampai di villa.
Julia mengangkat tubuh Harry saat akan turun dari mobil taksi, dan menurunkan putranya itu dengan perlahan setelah mereka keluar dari dalam mobil taksi.
Julia terkejut bukan main saat membuka pintu villa, di depan pintu telah berdiri Lucas dengan wajah yang begitu kusut.
"Papa!" panggil Harry.
__ADS_1
Lucas langsung berjongkok begitu putranya tersebut memanggilnya, pria itu lalu meraih Harry ke dalam pelukannya.
"Maafkan Papa nak, semalam Papa tidak menepati janji untuk segera pulang, ada masalah yang Papa hadapi!" ujar Lucas memeluk putranya itu dengan erat.
Julia yang sempat terkejut tadi, perlahan kembali ke mode normal, tidak begitu memperdulikan permintaan maaf Lucas kepada Harry.
Julia melangkah masuk ke dalam villa, membiarkan saja lelaki itu bersandiwara kepada putra mereka.
Gadis itu membawa pizza, yang tadi di bawa dari restoran siap saji ke ruang makan.
Meletakkan kotak pizza di atas meja, setelah itu pergi naik ke lantai atas menuju kamarnya.
Perasaan Julia sangat suram, memikirkan apa yang sebenarnya terjadi tadi malam.
Dia ingin menenangkan dirinya dulu, baru setelah itu akan bicara pada Lucas mengenai hubungan rumah tangga mereka ke depannya.
Julia merasa, hubungan rumah tangga yang mereka jalani ini, harus di akhiri.
Rumah tangga yang mereka jalani ini, tidak perlu di teruskan lagi.
Hak asuh anak akan mereka bicarakan pelan-pelan, dia dan Harry harus pergi dari kehidupan Lucas.
Julia akan memaafkan kesalahan Lucas, tentang pemerkosaan yang lelaki itu lakukan, dia tidak akan meminta pertanggung jawaban pria itu.
Dia akan merawat Harry sendirian, karena nantinya Harry akan menjadi penghalang bagi Lucas kalau berumah tangga dengan wanita itu.
__ADS_1
Harry pasti akan di benci oleh wanita itu, karena cinta Lucas akan terbagi, tidak sepenuhnya kepada wanita itu.
Bersambung.....