Gadis Pencuri Hati Ceo

Gadis Pencuri Hati Ceo
Bagian 48.


__ADS_3

Setelah menutup pintu kamar Lucas dengan benar, Adelia kembali ke ruang makan.


Saat akan mendekati ruang makan, Adelia mendengar Ibunya menasehati Miranda, tapi bukan nasehat yang menyenangkan hati untuk di dengar.


"Kamu ini, bodoh sekali! kenapa begitu caranya untuk mendekati Lucas, jangan pakai cara seperti itu kalau ingin mendapatkan hati Lucas, kamu harus lebih sabar untuk mendapatkan hatinya, jangan terlalu memaksakan diri, sampai ketahuan seperti itu!" sahut Lisbet memarahi Miranda.


"Maaf Tante, aku sudah berusaha seperti apa yang Tante saran kan, tapi kak Lucas terlalu dingin padaku, sangat sulit untuk menyenangkan hatinya!" ujar Miranda dengan sedih.


"Makanya kamu itu perlu lebih sabar sedikit, kenapa pakai cara memaksa seperti tadi, bertindaklah lebih anggun, jangan terlalu agresif, aku ingin secepatnya dia melepaskan wanita yang tidak tahu asal usulnya itu!" kata Lisbet dengan nada sinis.


"Benar yang Tante katakan, wanita itu pasti sudah mengatakan sesuatu hal, sehingga kak Lucas percaya padanya, atau bagaimana kalau kita selidiki tentang gadis itu, apa Tante tidak melihat kalau gadis itu terlalu muda melahirkan seorang anak lelaki, dan bahkan anak itu sudah berusia empat tahun?" ujar Miranda dengan nada yang penuh kecurigaan terhadap wanita yang sudah menjadi istri Lucas.


Lisbet tampak merenung mendengarkan apa yang dikatakan Miranda.


"Tidak ku sangka kamu ternyata begitu pintar Miranda, aku akan pastikan membuka topeng wanita itu, agar Lucas menceraikan wanita itu setelah mengetahui siapa sebenarnya gadis yang sudah di nikahinya itu!"


"Terimakasih Tante, aku sangat mencintai kak Lucas, hanya saja sangat sulit untuk menyenangkan hati kak Lucas!"


"Tenang saja kamu, ada aku yang akan membantumu, agar Lucas mau dekat dengan mu!"


Adelia yang sedari tadi diam-diam mendengarkan, berdiri di dekat pintu ruang makan, sudah tidak tahan lagi mendengarkan pembicaraan dua wanita beda usia itu.

__ADS_1


"Mama, bukannya kamu pergi melihat Papa di kamar sedang sakit, kenapa malah mengurusi Miranda, biarkan saja dia, Papa sudah mengusir dia tidak boleh datang lagi mulai besok!" sahut Adelia memasuki ruang makan.


"Miranda ponakan ku, dia bebas untuk datang ke mari, Papa tidak ada hak mengusir Miranda!" Lisbet spontan berdiri memandang Adelia dengan tatapan marah.


"Mama mendengarkan perkataan Miranda atau Papa? yang berhak mengambil keputusan di rumah ini siapa? Miranda atau Papa?!" sahut Adelia sudah kembali menaikkan intonasi suaranya.


"Adelia! lancang kamu pada Mama ya, Miranda tidak bersalah!" teriak Lisbet.


"MAMA!!" Adelia sudah tidak tahan lagi, dia benar-benar marah kepada Ibunya tersebut.


Suara Adelia yang begitu kencang membuat Lisbet terkejut, begitu juga dengan Miranda.


Mereka terdiam di tempatnya tidak percaya mendengar teriakan Adelia yang begitu marah.


"Tutup mulutmu Adelia, kamu tidak sopan!" teriak Lisbet melotot kepada Adelia.


Adelia tidak memperdulikan amarah Ibunya itu, dengan cepat Adelia menarik tangan Miranda untuk keluar dari ruang makan tersebut.


"Pergi kamu!" Adelia dengan kuat menarik tangan Miranda untuk pergi meninggalkan Mansion mereka.


"Adelia!" teriak Lisbet panik.

__ADS_1


"Mama diam di situ, pergi urus Papa di kamar, penyakitnya kambuh lagi gara-gara sepupu tidak tahu diri ini, dasar muka tembok!" sahut Adelia tajam.


Miranda mencoba menahan tubuhnya di tarik oleh Adelia, tapi gadis itu begitu kuat menarik tangan Miranda untuk pergi dari ruang makan tersebut.


"Nyonya, Tuan Besar sulit bernafas!" sahut Asisten Ayah Lucas kepada Lisbet, yang berusaha mengejar Adelia yang menarik Miranda dengan paksa.


"Apa?" Lisbet terkejut mendengar perkataan Asisten suaminya itu.


Lisbet pun terpaksa naik ke atas untuk melihat keadaan suaminya.


Sementara itu, Adelia memerintahkan pelayan mereka untuk membantunya menyeret Miranda keluar dari Mansion.


Adelia membuka pintu mobil Miranda, lalu mendorong tubuh Miranda ke dalam dengan kasar.


Brak!


Adelia menutup pintu mobil dengan kencang, lalu berteriak pada sopir Miranda.


"Bawa dia pulang, mulai besok jangan biarkan dia lagi datang ke mari, kalau dia mencoba untuk datang lagi, aku tidak akan membukakan pintu untuknya!" teriak Adelia.


Mobil itu pun perlahan meninggalkan pelataran halaman Mansion Adelia.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2