
Lima belas menit Julia di kamar, sudah selesai membersihkan badan, dan berpakaian.
Terdengar suara ketukan di pintu kamar.
Tok! tok! tok!
Dengan langkah cepat Julia menuju pintu kamarnya, dia menduga itu pasti Harry mencarinya.
Julia membuka pintu kamar, dan tampaklah Lucas berdiri di depan pintu kamarnya.
"Mana Harry?" tanya Julia melihat di sekitar Lucas, tidak ada sosok putranya itu.
"Harry makan pizza di temani Lita dan Mer di ruang makan!" jawab Lucas.
"Oh, aku akan turun menemaninya juga!" ujar Julia, lalu berjalan melewati Lucas.
"Tunggu, aku ingin minta maaf, soal semalam aku..."
"Ah, iya! aku baru ingat, kita perlu bicara, aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu!" kata Julia, baru teringat kalau dia ingin bicara pada Lucas.
Lucas merasakan kalau Julia sepertinya sangat serius, dan terlihat dari gestur tubuh Julia, kalau gadis itu merasa tidak nyaman terlalu dekat dengannya.
Julia menutup pintu kamarnya, lalu berlalu dari sana.
"Mau kemana?" tanya Lucas dengan cepat menangkap tangan Julia.
"Bukankah kita mau bicara?" tanya Julia mengerutkan keningnya, lalu dengan sekali sentak menarik tangannya dari tangan Lucas.
"Kenapa tidak di sini saja?" tanya Lucas, pria itu merasakan kalau Julia benar-benar marah padanya.
Ini kesalahannya karena mau saja di ajak makan malam oleh Ibunya, kalau saja dia menolak permintaan Ibunya, pasti keadaan keluarga kecilnya tidak akan jadi kacau seperti ini.
__ADS_1
Lucas sudah membatalkan janji yang dia buat sendiri, dan itu membuat penilaian istrinya terhadapnya jadi berkurang.
"Apakah memang seperti ini cara seorang Ceo yang begitu di hormati, bicara sambil berdiri di depan pintu kamar?" tanya Julia mengerutkan keningnya menatap tajam pada Lucas.
"Bukan begitu maksudku, Ayo masuk ke kamarmu, kita bicara di dalam saja!" ujar Lucas.
Julia menatap tajam pada Lucas, dia merasa pria itu ada maunya, kenapa harus bicara di dalam kamar? pikir Julia semakin menatap tajam Lucas.
Lucas merasakan kalau Julia waspada padanya, dan gadis itu merasa tidak nyaman berduaan dengannya.
"Aku mau bicara, kalau di tempat lain!" ujar Julia dingin.
"Baiklah, bagaimana kalau kita ke ruang baca ku?"
Julia langsung berbalik, dan menuju tangga, dengan langkah cepat dia menuruni tangga.
Kakinya Lucas yang panjang dengan cepat, dapat mengimbangi langkah kaki Julia.
Sesampainya di dalam, Julia langsung menuju sofa, lalu menghempaskan bokongnya ke sofa.
Lucas mengambil tempat duduk di depan Julia.
Kemudian Julia memandang Lucas dengan tatapan dingin, perasaannya masih suram, mengingat kenyataan yang sudah dia dengar tanpa sengaja.
"Katakan yang sebenarnya, kamu jangan bermain-main dengan perasaan seorang wanita, aku tidak ingin menjadi batu sandungan dalam kehidupan mu!" sahut Julia dengan tenang, dia harus berani dan tidak ingin di permainkan.
Lucas mengerutkan keningnya mendengar apa yang dikatakan Julia, batu sandungan? maksudnya apa? pikir Lucas heran.
Julia memandang Lucas dengan lekat, menunggu penjelasan dari pria itu.
"Aku minta maaf, aku salah tidak menepati janjiku untuk pulang ke villa, Mamaku mengajak aku makan malam bersama mereka!" sahut Lucas mulai menceritakan masalah tadi malam.
__ADS_1
Oh, ternyata memang benar, mereka makan bersama di rumah orang tuanya! pikir Julia mengingat perkataan sepupu Lucas di restoran cepat saji tadi.
Tidak tahu, tiba-tiba perasan Julia sangat sakit mengetahui kenyataan, kalau Lucas memang makan malam bersama dengan sepupunya tadi malam.
Julia menelan ludahnya dengan getir, dia merasa kalau dirinya, adalah gadis yang memang tidak berharga dari sejak kecil.
Hak asuh yang di ambil alih oleh Tantenya, karena orang tuanya telah meninggal.
Selalu mendapat penindasan, dan tidak di cintai oleh Tantenya sendiri, hidup Julia yang miris, semakin miris saat dia di jual Tantenya.
Dan kemudian, di perkosa oleh lelaki yang menganggap dirinya wanita mata duitan, lalu memberinya uang, agar tidak menampakkan diri di depannya lagi.
Tapi, setelah melarikan diri selama lima tahun, lelaki itu ternyata mencarinya, dan menemukannya.
Kemudian meminta maaf, karena memperkosanya, dan ingin bertanggung jawab atas tindakannya.
Dan, sekarang setelah itu, pria itu akan mencampakkan dirinya, setelah menyadari perasaannya terhadap sepupunya.
Sudut bibir Julia tersenyum kecut memikirkan itu semua, kehidupan yang di jalaninya memang sangat menyakitkan.
"Kalau begitu, aku akan mengurus surat-suratnya, kamu jangan merasa bersalah lagi padaku, aku sudah memaafkan semuanya, masa lalu, biarlah berlalu, anggap semuanya tidak pernah terjadi, aku bisa sendiri mengurus Harry!" ujar Julia dengan nada datar, dan sikapnya terlihat begitu tenang.
Wajah Lucas sontak berubah mendengar apa yang di katakan Julia, dia tidak mengerti arah dari pembicaraan Julia.
"A..apa maksudmu?!" tanya Lucas menegakkan tubuhnya di tempat duduknya, memandang Julia dengan mata terbelalak.
Julia di tempatnya, merasa heran dengan keterkejutan Lucas tersebut.
Gadis itu merasa Lucas seperti pura-pura tidak mengerti, atau memang sengaja pura-pura terkejut?
Bersambung.....
__ADS_1