
Julia mencoba untuk menggeser duduknya, tapi tangan Lucas yang merangkul pinggangnya, menahan tubuh Julia untuk tidak menjauh.
"Kenapa? apakah kamu tidak percaya padaku? aku jatuh cinta padamu, tidak tahu sejak kapan, selama lima tahun aku selalu memikirkan mu, mencari mu ke setiap kota dan juga ke luar negeri, dalam pikiranku hanya ada kamu, aku begitu takut tidak dapat menemukanmu lagi!" gumam Lucas di depan wajah Julia.
Tangan Lucas perlahan mengelus pipi Julia yang terlihat bengong, mata Julia begitu lekat menatap Lucas.
Senyuman Lucas mengembang melihat raut wajah Julia yang bengong.
Cup!
Lucas mendaratkan kecupannya ke bibir Julia, dan Julia tersentak merasakan bibirnya di kecup Lucas lagi.
Julia mengedipkan matanya.
"Kenapa bengong? kamu masih tidak percaya?" tanya Lucas dengan senyuman yang terus masih mengembang.
"A..apa kamu yakin dengan perasaanmu padaku? kamu harus memikirkan lagi!" ujar Julia akhirnya bersuara.
"Tidak perlu di pikirkan lagi, aku lebih tahu mengenai perasaanku sendiri, aku beberapa hari ini baru sadar, kalau aku memang sudah jatuh cinta padamu!" ucap Lucas kembali mengelus pipi Julia.
Julia mengedipkan matanya.
"Maukah kamu menerimaku? aku ingin menjadi suami yang akan selalu melindungi dan menjagamu dan Harry, putra kita!"
Julia kembali termangu dan tidak bisa berkata-kata, dia kembali merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan Lucas.
"Tidak perlu menjawabnya sekarang, aku akan menunggu kamu, mengatakan kalau kamu juga mencintaiku, aku tidak ingin kamu merasa terpaksa menerima cintaku!" ujar Lucas lagi.
__ADS_1
"Aku akan menunggumu dengan sabar sayang!" bisik Lucas di telinga Julia.
Julia menelan ludahnya dengan gugup, bisikan Lucas terasa lembut di telinganya.
Drrtt!
Tiba-tiba ponsel Lucas bergetar.
Dengan malas Lucas merogoh sakunya, mengambil ponselnya, dan melihat siapa yang meneleponnya.
Sesaat Lucas dan Julia terdiam melihat nama yang tertera di layar ponsel Lucas tersebut.
Karena jarak Julia begitu rapat dengan Lucas, jadi dia bisa melihat siapa yang menelepon Lucas.
Mama.
Biasanya seorang anak akan senang menerima telepon dari Ibunya, tetapi bagi Lucas telepon dari Ibunya adalah sesuatu yang membuat sakit kepala.
Dengan enggan Lucas menerima telepon Ibunya tersebut, menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Halo!" sahut Lucas.
"Lucas, kenapa kamu tidak datang, kami dari tadi sudah menunggu mu untuk makan malam, cepatlah datang!" sahut suara dari dalam ponsel Lucas.
"Aku sedang makan di luar bersama istri dan anakku, aku tidak bisa datang makan malam bersama dengan kalian!" jawab Lucas dengan nada yang tenang.
"Lucas, kamu kenapa semakin hari semakin berubah, apakah wanita itu yang menghasut mu agar tidak datang lagi ke rumah?" sahut Ibu Lucas dengan nada yang kencang.
__ADS_1
"Mama, jangan keterlaluan, wanita yang di sebutkan oleh Mama itu adalah menantu Mama!" ujar Lucas dengan tenang, mencoba tidak terpancing emosi mendengar perkataan Ibunya itu.
"Aku belum mempunyai menantu, dia itu orang asing yang tidak ku kenal, cepat pulang sekarang, kami sudah menunggu mu untuk makan malam!"
Tit!
Hubungan ponsel terputus.
Lucas memandang smartphone tersebut dengan wajah yang datar.
"Pergilah, kami makan berdua saja dengan Harry, jangan sampai mereka jadi terlalu malam menunggumu, nanti Mamamu semakin marah!" ucap Julia memandang Lucas yang tengah menatap ponselnya dengan tatapan dingin.
Lucas dengan cepat mengangkat wajahnya memandang Julia.
"Apa maksudmu?" mata Lucas tajam menatap Julia, dia tidak senang mendengar perkataan Julia tersebut.
Julia menunjuk ponsel Lucas.
"Mamamu sedang menunggu kamu untuk pulang makan malam bersama mereka!" ucap Julia.
"Aku tidak akan pergi, Mama kalau semakin di turuti, akan semakin sesuka hatinya memerintahkan apapun, dia semakin menunjukkan kekuasaannya sebagai seorang Mama, dia semakin tidak pernah mau mendengarkan perkataan Papa dan aku, perkataannya yang selalu harus di turuti!" ujar Lucas dengan nada yang datar.
"Dia nanti akan berpikiran negatif tentangku, kalau kamu tidak pulang, dia akan berpikir, kalau aku yang menahan mu untuk tidak pulang ke rumah orang tuamu!" kata Julia, gadis itu merasa akan ada masalah yang lebih besar lagi, kalau Lucas tidak menuruti permintaan Ibunya untuk pulang makan bersama mereka.
Lucas menekan pelipisnya tidak senang, wajahnya semakin datar memikirkan sikap Ibunya yang pemaksa.
Bersambung.....
__ADS_1