Gadis Pencuri Hati Ceo

Gadis Pencuri Hati Ceo
Bagian 64.


__ADS_3

Julia membawa Lucas dan Harry ke ruang VIP, ruang yang memiliki balkon menghadap ke arah taman restoran.


Ruang khusus model lesehan dengan meja berkaki pendek, sangat cocok untuk Harry, bisa duduk dengan bebas.


"Tunggu sebentar, aku akan membuat makan malam kita!" sahut Julia kepada Lucas, setelah Lucas dan Harry duduk di bantalan kursi sebagai tempat duduk di ruang khusus tersebut.


"Tidak, jangan kamu yang memasak, biarkan koki restoran yang memasak untuk kita, kamu tetap di sini bersama kami!" ujar Lucas memegang tangan Julia.


"Baiklah, aku akan pesan makanan apa saja yang akan kita makan malam ini, sesuai dengan rekomendasi dari aku!" ucap Julia menuruti perkataan Lucas.


Lucas melepaskan pegangan tangannya memegang pergelangan tangan Julia, dan membiarkan Julia keluar dari ruang khusus tersebut.


Julia kemudian memberitahukan kepada Chef menu makan malam yang diinginkannya.


"Baik Nyonya, kami akan selesaikan dalam sepuluh menit, dan akan kami buat yang terbaik dan yang paling lezat!" sahut Chef dengan bersemangat.


"Terimakasih Joni!"


"Sama-sama Nyonya!"


Julia kembali ke ruang VIP, bergabung kembali bersama Lucas dan Harry.


"Kita menunggu sekitar sepuluh menit, mereka sedang siapkan di dapur!" sahut Julia saat masuk kembali ke ruang VIP.

__ADS_1


Julia melangkah ke arah tempat duduk Harry, tapi dengan cepat tangan Julia di raih tangan panjang Lucas.


"Duduk di sebelah sini!" sahut Lucas menarik Julia duduk di sebelahnya.


Harry yang tengah asik dengan alat tulis tabletnya, tidak memperdulikan interaksi ke dua orang tuanya.


Julia terpaksa menuruti tarikan tangan Lucas, dan duduk di sebelah Lucas.


"Apa saja yang kamu kerjakan, kenapa sampai lupa waktu?" tanya Lucas menggenggam tangan Julia ke dalam ke dua telapak tangannya, dan membawanya ke atas pangkuannya.


"Aku menambah resep baru untuk makanan pembuka, dan mengajarkannya kepada koki!" jawab Julia.


"Apakah semuanya memang ide mu?" tanya Lucas, pria itu penasaran dengan ke ahlian Julia memasak.


Lucas menatap Julia dengan lekat, dia jadi merasa semakin kagum pada Julia, gadis yang mempunyai bakat luar biasa.


Lucas tahu dari hasil penyelidikan Edward, kalau Julia tidak sekolah sampai bangku Universitas, dan juga tidak memiliki sertifikat kursus memasak.


Tapi Julia bisa menjadi Chef di restorannya sendiri, itu kemampuan yang luar biasa.


Dan hasil masakannya, hampir sama lezat dan rasanya dengan restoran termahal di kota mereka tersebut.


"Apakah ada seseorang mengajarkan kamu memasak?" tanya Lucas menatap dengan lekat mata istrinya itu.

__ADS_1


Tangan Julia masih dalam genggaman Lucas, dan sesekali pria itu meremas dengan lembut.


"Tidak ada, aku belajar sendiri, waktu itu aku sedang hamil empat bulan, aku berpikir untuk membuka restoran yang berkualitas, karena aku harus bisa menghasilkan uang banyak untuk anakku kalau dia lahir!" Julia mulai menjelaskan kenapa dia bisa menjadi ahli memasak makanan ala restoran kelas atas.


"Dan kamu berencana tidak akan pernah lagi kembali ke kota kelahiranmu?" tanya Lucas pelan, ada rasa sedih di hati Lucas, mengetahui kalau Julia sebenarnya tidak berniat untuk kembali lagi.


"Ya!" jawab Julia dengan cepat, tanpa merasa ada keraguan sama sekali.


Lucas menatap Julia tidak percaya dengan jawaban gadis itu, gadis yang sudah menjadi Ibu dari anaknya.


Gadis yang masih sama mudanya setelah lima tahun berlalu, begitu tega dengan cepat menjawab pertanyaannya, dengan kata 'ya' tanpa merasa perduli dengan perasaannya.


Lucas menelan ludahnya dengan kelu, lalu meremas lagi tangan Julia dalam genggamannya.


"Kenapa?" tanya Lucas ingin mendengar isi hati Julia yang sebenarnya.


"Kenapa?" Julia bingung dengan pertanyaan Lucas tersebut, "Tentu saja karena aku hamil di luar nikah, dan bukan lagi seorang gadis lugu yang masih perawan, tanteku pasti akan lebih menyiksaku, dan dia pasti akan mengatur hidupku lagi, dan bagaimana jadinya hidupku dan bayiku kalau tanteku menemukanku, dan terutama aku juga takut kamu melihatku, karena kamu sudah mengatakan jangan sampai aku terlihat lagi di depan matamu!"


Lucas merasa bersalah begitu mendengar penjelasan Julia tersebut, pria itu menarik Julia ke dalam dekapannya.


"Maafkan aku, aku memang benar-benar bajingan, sudah membuat dirimu semakin menderita, aku memang tidak pantas untuk di maafkan, tapi aku sangat ingin sekali di maafkan oleh mu, aku ingin memberikan kebahagiaan yang hilang itu padamu!" Lucas semakin erat mendekap tubuh Julia, membenamkan wajahnya ke balik leher Julia.


Harry yang tadinya fokus dengan alat tulisnya, jadi menoleh ke arah ke dua orang tuanya yang berpelukan.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2