Gadis Pencuri Hati Ceo

Gadis Pencuri Hati Ceo
Bagian 76.


__ADS_3

Julia membantu sebentar di restoran untuk menyiapkan pesanan pelanggan, untuk menunggu waktu jam pulang sekolah Harry.


Baru saja membantu menyiapkan beberapa hidangan, ponsel Julia berdering.


Julia mengangkat ponselnya, tanpa melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


"Halo!" sahut Julia.


"Sayang, aku tidak bisa ikut menjemput Harry, aku ada urusan sebentar di luar kantor, nanti kalau sudah selesai, aku akan telepon lagi, semoga pertemuannya tidak lama, beritahu padaku nanti, kalian makan siang di mana, agar aku langsung menuju ke sana, oke!"


Ternyata Lucas yang menelepon Julia, memberitahukan, kalau dia tidak bisa ikut menjemput Harry.


"Oke!" jawab Julia setelah menyimak sebentar apa yang dikatakan Lucas.


Kemudian Julia mematikan ponselnya, lalu meletakkannya ke atas meja.


Julia kembali melanjutkan tugasnya.


Sampai jam untuk menjemput Harry pun tiba, dan Julia pun menghentikan tugasnya, dan mengalihkannya kepada koki.


Julia kemudian pamitan pada Tina untuk menjemput Harry.


Julia menghentikan taksi, lalu memberitahu sopir taksi alamat yang di tujunya.


Para orang tua murid menunggu anak mereka di depan pintu masuk sekolah.


Begitu Julia melihat Harry, tangannya dia lambai-lambaikan agar di lihat putranya tersebut.


"Mama!" teriak Harry tersenyum senang begitu melihat Julia melambai ke arahnya.


Harry dengan berlari kecil menghampiri Julia, lalu masuk ke dalam dekapan Julia.

__ADS_1


"Papa mana Ma?" tanya Harry seraya melihat di sekitar Julia.


"Papa tidak bisa menjemput, karena ada tugas di luar kantor, nanti dia akan menyusul kalau sudah menyelesaikan urusannya!" ujar Julia.


"Oh!" Harry tidak bertanya lagi setelah Julia menjelaskan.


"Yok, kita jalan dulu, baru pergi untuk makan siang!" ajak Julia.


"Iya, Ayo Ma!"


Harry terlihat begitu senang sekali, begitu Julia mengajak untu jalan-jalan dulu.


Julia menghentikan taksi yang lewat, dan mereka pun naik taksi menuju taman bermain anak-anak.


"Mama, lihat!" Harry tiba-tiba menunjuk sebuah layar televisi yang cukup besar, yang menempel di dinding sebuah gedung pencakar langit.


Julia menoleh ke arah telunjuk kecil Harry, dan tampaklah pada televisi yang cukup besar, foto sepasang lelaki dan wanita berdiri berdampingan, terlihat begitu harmonis.


Dan si pria terlihat begitu ramah, sepertinya sedang berbicara, saat foto tersebut di ambil.


Televisi besar itu biasanya, untuk tempat iklan, mempromosikan sebuah brand yang sedang viral.


"Itu kan Papa!" sahut Harry.


Julia mengedipkan matanya, tersadar dengan perkataan Harry.


"Itu hanya iklan nak!" ujar Julia, lalu menggeser duduknya, agar putranya itu tidak melihat foto pada layar lebar tersebut.


"Iklan?" tanya Harry bingung.


"Iya nak, mungkin orang itu hanya mirip dengan Papa mu saja, tadi Papa baru saja menelepon Mama, jadi tidak mungkin itu Papa!" kata Julia menjelaskan.

__ADS_1


"Oh!"


Harry tidak lagi mencoba melihat layar besar itu, yang akhirnya dilewati taksi yang mereka tumpangi menuju taman bermain anak-anak.


Perasaan Julia berkecamuk, ada perasaan yang begitu sakit di hatinya, begitu melihat foto Lucas dengan seorang wanita terpampang cukup besar di depan umum.


Semua orang pasti dengan jelas dapat melihat foto tersebut, dan pasti semua orang berpikir kalau Lucas punya hubungan dengan wanita cantik itu.


Tadi Julia sempat membaca tulisan kecil dekat foto yang mirip Lucas itu, 'selalu bersama dalam situasi apapun'.


Apa maksud dari kata-kata yang tertulis pada foto itu? pikir Julia.


Jantung Julia seperti ditusuk oleh jarum, terasa sangat sakit.


Apakah wanita itu cinta pertamanya? mereka terlihat sangat romantis dan akrab! bisik hati Julia menahan sakit di dadanya.


Ck! bodoh sekali aku! Julia mengutuk dirinya, terlalu cepat terpedaya oleh sikap lembut Lucas.


Diam-diam Julia mengepalkan tangannya dengan erat, sampai kukunya menancap ke telapak tangannya.


Dia merasa gadis yang paling bodoh, dan sungguh sangat bodoh sekali.


Julia menggigit bibirnya dengan getir, bayangan foto yang dilihatnya tadi terlintas lagi di depan matanya.


Mereka memang terlihat serasi, yang satu cantik dan yang satu lagi tampan, dan wanita itu sepertinya dari kalangan elit sama seperti Lucas juga! pikir Julia melamun.


Tanpa sadar, Julia merasakan matanya berkabut, hidungnya terasa perih.


Julia merasakan di sudut matanya terasa lembab.


Julia mengangkat tangannya, dan mengelap air matanya yang hampir saja jatuh, dengan punggung telapak tangannya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2