Gadis Penyelamat Tuan Biru

Gadis Penyelamat Tuan Biru
11. Perhatian Biru


__ADS_3

Biru dan Lila kini sudah tiba di rumah. Begitu mereka masuk ke dalam, Lila langsung berbalik menatap Biru dengan alis terangkat sebelah dan tangan bersedekap di dada.


“Kau kenapa?” tanya Biru yang bingung melihat tingkah Lila.


“Justru aku mau bertanya padamu. Kau itu kenapa? Kenapa kau mengaku-ngaku sebagai calon suamiku tadi? Kau masuk bikin satu desa ini heboh karena gosip itu?” Lila menanyakan tentang prihal di pasar tadi rupanya.


“Oh, itu. Tapi kita memang seperti sepasang suami istri bukan? Tinggal bersama, beraktivitas bersama, hanya tidur saja yang belum....awwwhhhh....”


Lila mencubit pinggang Biru hingga pria itu menjerit kesakitan. Setelah puas baru ia melepaskannya.


“Cubitanmu sakit sekali!” Biru mengusap-usap bekas cubitan Lila.


“Makanya jawab pertanyaanku dengan benar!”


Biru tampak menghela nafas berat. Kali ini ia menatap Lila dengan serius. Bahkan ia meletakkan kedua tangannya di pundak Lila. Lila sedikit terperanjat, ia pun balas menatap kedua netra coklat terang di depannya.


“Aku tidak suka melihat pria tadi mengganggumu. Dan apa yang aku lakukan tadi itu karena aku sedang berusaha melindungimu.”


Biru melanjutkan, “selama aku berada di sampingmu, aku akan selalu melindungimu dari pria tadi. Mulai sekarang, aku akan menemanimu kalau kau mau bepergian keluar rumah.”


Lila terdiam sejenak. Lalu ia menurunkan kedua tangan Biru yang berada di pundaknya. “Tidak usah terlalu berlebihan. Aku bisa jaga diri. Selama ini juga aku tinggal sendiri,” ucap Lila yang terdengar getir.

__ADS_1


Gadis itu membalikkan badan menyembunyikan rasa sedih yang menjalar di hatinya.


Bukannya aku tidak senang kalau kau mau melindungiku, tapi aku hanya ragu, bagaimana nanti jika ingatanmu kembali pulih dan kau pergi meninggalkanku? Aku tidak mau menaruh harapan lebih. Batin Lila.


“Lila,” Biru memegang pundak Lila dari belakang. “Kau tidak menyukai pria tadi kan?”


Pertanyaan Biru membuat Lila berbalik ke arahnya lagi. “Tentu saja tidak. Kau kan lihat sendiri tadi aku justru menghindarinya.”


“Lalu kenapa kau terlihat tidak senang aku mau menjagamu darinya?” tanya Biru.


“Huft....” Lila menghembuskan nafas dengan kasar. “Bukan tidak senang, tapi kau kan tidak selamanya bersamaku. Kau sendiri yang bilang kau akan pergi mencari identitasmu kan? Itu artinya kau tidak bisa melindungiku terus menerus. Makanya kau tidak perlu berlebihan melindungiku, aku bisa menjaga diriku sendiri.”


“Dari dulu juga selalu begitu,” lanjut Lila dengan pelan sambil berjalan ke belakang rumah.


Biru merasa tak enak hati pada Lila. Ternyata itu yang membuat Lila tampak sedih. Ia pun pergi ke belakang menyusul Lila. Gadis itu sedang menyusun jerigen-jerigen kosong ke atas gerobak. Sepertinya ia akan mengambil air di sungai. Tanpa berkata apapun, Biru langsung membantu Lila.


“Aku mau ke sungai mengambil air. Aku titip rumah,” ucap Lila yang sedang memegang pegangan pada gerobak untuk didorong.


Biru menarik tangan Lila lalu mengambil alih pegangan gerobak itu. “Aku ikut. Aku sudah janji akan terus menemanimu.”


“Tidak usah, aku...heeiiiii.....”

__ADS_1


Biru tidak mempedulikan Lila yang mencegahnya. Ia langsung mendorong gerobak itu menjauh dari Lila. “Heeeeiiii Biruuuu, tungguuuu......!”


Lila segera berlari mengejar Biru. Mereka pun pergi sama-sama ke sungai.


Begitu sampai disana, Lila langsung menurunkan jerigen, lalu mengambil air sungai dan mengisi jerigen-jerigennya. Biru mengikuti apa yang Lila lakukan.


Namun tiba-tiba Biru seolah mengingat sesuatu saat melihat derasnya aliran sungai itu. Bayangan saat ia tenggelam masuk ke dalam sungai muncul sekilas dalam ingatannya.


Lila menoleh ke arah Biru. Pria itu hanya diam sambil melihat ke sungai. Melihat Biru hanya diam, Lila kira ia sedang melamun sehingga timbul ide jahil di kepala Lila. Ia mengambil air dengan tangannya lalu menyiramnya ke arah Biru.


Biru terkejut. Ia pun lupa dengan ingatannya barusan. “Hei, aku basah,” protes Biru sambil menyeka wajahnya yang terkena cipratan air.


"Sama air saja takut, wleeeee....." Lila menjulurkan lidahnya mengejek Biru. Ia terkekeh lalu menyiramnya lagi beberapa kali.


Biru tersenyum melihat tingkah Lila. Gadis itu sudah tidak bersedih lagi. “Oh, kau mau main-main denganku, ya? Rasakan ini!”


“Aaaahhhh Biru, hentikaaannn....” Lila menjerit saat Biru sengaja mencipratkan air sungai dengan banyak ke arah Lila berkali-kali. Lila pun kembali membalas perbuatan Biru.


Mereka saling menyiram satu sama lain sehingga kondisi mereka sama-sama basah. Gelak tawa mengiringi sepasang anak manusia yang baru kenal selama sebulan belakangan ini. Mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bermesraan.


Tanpa sadar, ada sepasang mata yang menatap dengan penuh cemburu dari balik pohon. Mata itu menatap iri pada Biru yang bisa begitu dekat dengan Lila, gadis yang sudah lama disukainya.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2