Gadis Penyelamat Tuan Biru

Gadis Penyelamat Tuan Biru
36. Ancaman Luna


__ADS_3

“Tapi aku takut melakukan itu,” bantah Luna. Yang benar saja pikirnya, masa iya dia harus sampai sebekat itu? Kalau nanti Biru tidak termakan ancamannya, apa mungkin ia harus melu-kai dirinya sendiri?


“Berhenti membantah, Luna! Kau jangan penakut! Sedikit goresan di tanganmu tidak akan membuatmu mati!” bentak Bisma.


“Ak-aku belum pernah melakukannya,” ucap Luna takut-takut.


“Kau mau aku yang melukaimu atau kau melakukannya sendiri, hah?!” ancam Bisma dengan suara yang menggelegar. Luna pun jadi ciut mendengarnya.


“Ba-baiklah. Baiklah, biar aku saja. Aku akan mencobanya,” jawab Luna dengan terpaksa.


Tok tok tok.


“Luna, buka pintunya, Sayang. Mama ingin bicara sebentar.”


Terdengar suara sang ibu dari depan pintu kamarnya. Luna yakin ibunya pasti sedang berusaha membujuknya.


“Mamaku datang. Kita sambung nanti,” ucap Luna.


“Gunakan kesempatan ini. Buat orang tuamu ikut panik juga.” Bisma masih sempat-sempatnya berpesan pada Luna.


“Iya, akan aku lakukan. Sudah dulu.”


Klik.


Luna pun mengakhiri panggilan itu. Ia tak langsung membuka pintu. Ia malah bergegas pergi ke lemari nakasnya dan mencari sebuah cut-ter disana.


“Ini dia! Semoga aku baik-baik saja,” ucap Luna dengan sebuah cut-ter di tangannya. Sejujurnya ia tak berani jika harus melukai dirinya sendiri.


Tok tok tok.


“Luna, buka dulu pintunya! Biarkan Mama masuk dan bicara padamu,” bujuk sang ibu.


“Tidak! Aku tidak mau. Katakan pada Biru, lebih baik aku mati saja daripada menanggung malu karena dia memutuskan pertunangan ini!” teriak Luna dari dalam kamarnya.


Mendengar hal itu tentu saja ibunya jadi panik. Wanita itu mencoba membuka pintu tapi sayangnya sudah dikunci dari dalam.

__ADS_1


“Luna, semua bisa dibicarakan baik-baik. Kau jangan nekat seperti itu!” cegah sang ibu.


“Tidak! Tidak ada yang bisa dibicarakan lagi. Lebih baik aku mati saja,” ancam Luna.


Sang ibu tentu bertambah panik. Ia segera berlari ke ruang tamu dan memberitahu apa yang terjadi. Luna mengurung diri di kamar dan mengancam akan bu-nuh diri.


Yang lain tentu ikut panik. Mereka akhirnya ikut ke kamar Luna untuk membujuknya. Kali ini Biru yang mengetuk pintu kamar Luna. Ia berusaha membujuk Luna dengan lembut.


“Luna, ini aku Biru. Tolong buka pintunya, Luna! Kita bicarakan dulu baik-baik. Jangan seperti ini!” bujuk Biru.


“Tidak! Pergi sana! Kau bilang mau memutuskan pertunangan denganku kan? Biar aku mati saja sekalian,” teriak Luna dari dalam kamar.


“Bagaimana ini? Bagaimana kalau Luna sampai nekat?” tanya ibu Luna yang membuat suasana semakin panik.


“Tante punya kunci cadangan? Biar aku coba bujuk dia,” tanya Biru.


“Tidak ada. Kuncinya ada pada Luna semua.”


“Ya sudah, dobrak saja pintunya sebelum terlambat!” usul Ayah Biru.


Biru pun mundur beberapa langkah ke belakang, lalu dengan sekali dobrak pintu itu pun langsung terbuka.


Luna yang sedang berdiri sambil memegang cut-ter di tangannya langsung terkejut. Ia tak menyangka pintu kamarnya akan didobrak paksa. Sekarang tangannya jadi gemetar. Ide Bisma memang sangat gila.


“Keluar dari sini!” usir Luna. “Biarkan aku mati saja!”


“Luna, please, jangan seperti ini! Kita bicarakan ini baik-baik,” bujuk Biru sambil mencoba melangkah mendekati Luna.


“Berhenti disitu, Biru! Aku tidak main-main dengan perkataanku!” teriak Luna sambil mendekatkan cut-ter itu ke salah satu pergelangan tangannya.


“Oke, oke. Aku tidak akan mendekat. Aku mohon jangan lakukan itu.” Biru mencoba menenangkan Luna.


Luna tampak mulai mengeluarkan air mata untuk menarik simpati Biru. “Kau tega padaku, kau ingin memutuskan pertunangan kita begitu saja. Kau tidak memikirkan bagaimana perasaanku!” kata Luna sambil terisak.


Biru mulai serba salah dibuatnya. Ia tampak menghela nafas beberapa kali untuk menenangkan dirinya sendiri. Ia tak boleh salah mengambil keputusan. “Luna, tenanglah dulu. Baiklah, aku tidak jadi memutuskan pertunangan kita. Tapi aku mohon  jangan bertindak bodoh seperti ini. Oke?”

__ADS_1


Biru mencoba melangkah lagi mendekati Luna. Dalam hati Luna bersorak gembira. Ternyata ide Bisma berhasil juga. Kalau begini, ia tidak perlu susah payah lagi berpura-pura menyakiti dirinya sendiri.


Biru yang sudah berada di dekat Luna langsung meraih cut-ter itu dan menjauhkannya dari Luna. Dengan cepat Luna langsung berhamburan memeluk Biru.


“Berjanjilah untuk tidak meninggalkanku lagi. Aku sangat mencintaimu, Biru,” ucap Luna di sela-sela isak tangisnya.


“Jangan lakukan ini lagi. Ini bisa membahayakanmu,” sahut Biru menenangkan Luna.


"Aku seperti ini karena dirimu. Kau tega padaku!"


"Iya, iya, sudahlah. Sekarang aku sudah disini bersamamu. Kau harus tenang dan jangan mengulangi hal seperti ini. Janji?"


Luna tersenyum dalam dekapan Biru. "Baiklah, aku tidak akan mengulanginya lagi," jawab Luna dengan pelan.


***


“Jadi, kau tetap melanjutkan pertunanganmu dengan Luna?” tanya sang ibu saat mereka berada di perjalanan pulang ke rumah.


“Tentu saja pertunangan itu tetap batal, Bu. Aku juga tetap akan menjemput Lila,” jawab Biru dengan entengnya.


“Tapi tadi kau bilang pada Luna....”


“Aku terpaksa,” potong Biru. “Kalau tidak begitu, dia bisa benar-benar melukai dirinya tadi,” sambung Biru.


Abimanyu tersenyum mendengar jawaban putranya. “Dasar anak nakal!”


“Aku kan mencontoh Ayah,” sahut Biru sambil balas tersenyum pada ayahnya.


Sementara ibunya hanya bisa menggelengkan kepala mendengar jawaban putranya. “Terserah kau saja. Yang penting, ibu tidak mau sampai ada kejadian seperti tadi.”


“Baik, Bu. Ibu tidak perlu khawatir. Semua akan baik-baik saja.”


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2