
Hari ini Biru belum berangkat ke perusahaannya. Ia memerlukan istirahat yang cukup. Rencananya hari ini juga akan datang dokter keluarga untuk memeriksa kondisinya. Biru harus mendapat perawatan medis yang lebih intense. Maklum saja, selama di desa ia hanya mendapat pengobatan seadanya dari Paman Hardi.
Setelah sarapan pagi, Biru pergi ke ruang keluarga bersama sang ibu. Ibunya sudah tidak sabar ingin mendengar cerita Biru selama dua bulan belakangan ini.
“Jadi, ceritakan pada ibu, bagaimana kejadiannya sampai kau bisa kembali lagi kesini. Siapa orang baik yang sudah menyelamatkanmu, Nak? Orang itu pantas diberi imbalan.” Riana duduk menyamping melihat putranya yang duduk di sebelahnya.
“Ibu benar. Aku juga berencana memberikan imbalan pada orang-orang yang sudah baik padaku selama aku di desa. Terutama pada gadis penyelamatku.” Bayangan wajah Lila langsung muncul di kepala Biru.
“Gadis penyelamat?” ulang Riana penasaran.
Biru mengangguk. “Namanya Lila. Dia gadis yang menyelamatkanku, Bu.”
Biru membetulkan duduknya dan mulai bercerita sejak awal mobilnya jatuh ke dalam jurang.
“Mobilku masuk ke jurang dan aku berusaha keluar dari mobil sampai akhirnya aku terjatuh dan hanyut terbawa arus sungai. Beruntungnya Lila menemukanku dan membawaku pulang ke rumahnya. Ibu tau, dia membawaku pulang dengan gerobak yang biasa dia gunakan untuk mengambil air di sungai. Meski tubuhnya kecil tapi tenaganya sangat perkasa.” Biru tertawa kecil mengingat gadis lincah itu.
“Disana aku diobati oleh Paman Hardi, tetangga Lila yang sudah seperti ayahnya sendiri,” lanjut Biru.
“Apa orang tua gadis itu tidak keberatan kau tinggal di rumahnya?” tanya Riana.
“Lila yatim piatu, Bu. Dia tinggal sendirian. Dia menghidupi dirinya dengan mengambil orderan cucian dan menjual mangga hasil kebunnya. Dia gadis yang tangguh dan baik hati. Dan selama aku disana, dia selalu merawatku dengan baik. Dia juga selalu memberikan makan dengan cukup, padahal hidupnya sangat pas-pasan. Aku berhutang banyak padanya, Bu.”
__ADS_1
Raut wajah Biru berubah sendu, tiba-tiba ia memikirkan gadis desa itu. Beberapa hari sekali Lila akan mengambil orderan cucian dan akan mencuci baju-baju itu pagi hari. Saat sore ia akan mengangkat kembali pakaian itu dan merapikannya.
Saat panen mangga tiba, ia akan memetik mangganya sendiri di kebun belakang rumah. Setelah itu ia jual ke pasar. Huhhh, Lila sangat tangguh sekali. Biru sangat salut padanya. Ia juga sangat prihatin dengan nasib Lila. Ia bertekad untuk memberikan uang yang banyak pada gadis itu nanti.
Entah apa yang sedang Lila lakukan sekarang. Apa gadis itu sudah sarapan pagi? Atau dia sedang mencuci orderan bajunya? Yang jelas, Biru merasa khawatir dengan Lila sekarang.
Oh ya! Biru juga baru teringat tentang Reza yang memukulinya malam itu. Akh, kenapa dia sampai lupa?! Biru harus mengurus soal Reza juga nanti.
“Apa kau sedang khawatir padanya?” tanya Riana yang bisa membaca raut wajah anaknya.
“Sudah dua bulan ini kami tinggal bersama. Dia juga ikhlas merawatku dengan baik, Bu. Aku rasa wajar kalau tiba-tiba aku khawatir padanya kan, Bu?”
Biru terdiam sejenak. Khawatir atau rindu? Mungkinkah ia merindukan Lila?
“Aku.....”
Belum selesai Biru menjawab, seorang pelayan datang memberitahu bahwa Luna, tunangan Biru datang ke rumah itu. Riana pun meminta pelayan tersebut mempersilahkan Luna masuk ke ruang keluarga mereka.
“Biru?” Mata Luna langsung berkaca-kaca melihat sosok tunangannya sudah ada di depan matanya. Ia langsung berlari menghamburkan diri memeluk Biru.
“Kau kemana saja selama ini? Aku selalu cemas memikirkanmu, Biru.” Luna menangis dalam dekapan tunangannya itu.
__ADS_1
Biru membalas pelukan Luna dan mengusap punggungnya agar Luna merasa tenang. “Jangan sedih lagi, aku sudah kembali sekarang.”
Biru melerai pelukannya dan menyeka airmata Luna. “Kau sendiri, bagaimana kabarmu? Kau tampak lebih kurus,” tanya Biru.
“Aku baik-baik saja disini. Aku kurus karena terus memikirkanmu. Aku selalu khawatir dengan keadaanmu. Kenapa kau lama sekali kembali kesini? Apa kau tidak tau aku merindukanmu?” tanya Luna.
Biru terdiam sejenak mendengar pertanyaan itu. Rindu? Kenapa dia selama ini tidak merindukan tunangannya sendiri? Apa mungkin karena dulu ia sempat hilang ingatan? Tapi setelah ingatannya kembali, ia tetap tidak merasa rindu pada wanita itu.
“Kau tidak merindukanku?” ulang Luna. Bibirnya mencebik menunjukkan kalau ia merujuk Biru tak merindukannya.
“Tentu saja aku rindu, kita sudah dua bulan tidak bertemu,” jawab Biru hambar.
“Aku sangat senang kau kembali,” sahut Luna.
Luna tersenyum mendengar jawaban Biru. Tapi Riana dapat merasakan bahwa Biru menjawab seperti itu hanya untuk menyenangkan Luna saja. Ada perbedaan yang sangat ketara saat tadi Biru bercerita tentang Lila dan berbicara pada Luna. Riana bisa menebak siapa yang sebenarnya Biru rindukan.
.
Bersambung...
__ADS_1