
“Bi,” panggil Lila pada Biru yang saat ini tengah menyetir mobil.
“Kenapa, Sayang? Kau menginginkan sesuatu?” tanya Biru sambil melihat sekilas ke arah Lila lalu fokus lagi menyetir.
“Apa kau setelah ini akan kembali ke kantor?” Lila malah balik bertanya.
“Tidak. Kita kan mau beli laptop. Lalu aku mau mengajakmu jalan-jalan,” jawab Biru. “Kau ada tempat yang mau dikunjungi?”
Lila mengangguk. “Boleh tidak setelah beli laptop nanti kita menjenguk Paman Hardi? Beliau kan di rawat di rumah sakit di kota, Bi. Aku belum menjenguknya sama sekali,” ucap Lila.
Biru pun menepuk jidatnya. Ia sampai lupa dengan keadaan orang tua itu.
“Astaga. Kau benar. Kita belum menjenguknya. Kau tau dimana Paman Hardi di rawat?”
“Aku hanya tau nama rumah sakitnya saja. Kalau tidak salah Rumah Sakit Cahaya Senja,” jawab Lila.
“Aku tau rumah sakit itu. Rumah sakit itu milik rekan bisnisku, Tuan Muda Dirgantara. Ya sudah, kalau begitu kita mampir membeli sesuatu untuk Paman Hardi dulu ya, baru kita ke rumah sakit. Beli laptopnya setelah pulang dari rumah sakit saja, bagaimana?”
Lila mengangguk dengan semangat. “Aku setuju, Bi. Kita ke rumah sakit saja dulu.”
Biru pun memutar arah mobilnya. Mereka akan pergi untuk menjenguk Paman Hardi terlebih dahulu.
__ADS_1
Sesampainya disana, mereka bertanya pada resepsionis tentang ruangan tempat Paman Hardi dirawat. Untunglah tak sulit menemukannya. Paman Hardi sudah dipindahkan ke ruang rawat inap sehari setelah mendapat penanganan dokter atas lu-ka di kepalanya.
Biru dan Lila pun pergi ke ruang rawat inap milik Paman Hardi. Saat mereka masuk ke dalam, Paman Hardi dan istri serta anaknya tampak terkejut dengan kedatangan Lila dan Biru disana.
“Paman, Bibi...” Lila langsung berjalan mendekati Bibi Fatma lalu memeluknya sebentar. Kemudian ia beralih pada Paman Hardi yang masih berbaring di ranjang rumah sakit dalam keadaan lemah.
“Maaf aku baru datang, Paman. Bagaimana keadaan Paman sekarang?” Lila tampak begitu khawatir dengan kondisi Paman Hardi.
Pria paruh baya itu malah tersenyum samar. “Paman sudah lebih baik. Jangan mengkhawatirkan Paman. Kau sendiri bagaimana? Paman lihat penampilanmu sudah lebih baik sejak tinggal di kota. Biru mengurusmu dengan baik, ya?”
Lila menoleh ke arah Biru lalu beralih lagi ke Paman Hardi dan mengangguk. “Iya, Paman. Dia menepati janjinya. Dia menjagaku dengan baik.”
Paman Hardi tampak mengangguk samar. Beliau senang melihat Lila dalam keadaan baik-baik saja. Selanjutnya beliau tiba-tiba meminta agar istrinya mengajak Lila dan Ferdi membeli minuman di kantin sebentar. Ia sengaja melakukan itu karena ingin membicarakan hal yang serius pada Biru.
“Terima kasih sudah menjaga Lila,” ucap Paman Hardi membuka obrolannya. “Dia sudah Paman anggap seperti anak kandung Paman sendiri. Dari mulai beranjak remaja, orang tuanya sudah meninggalkannya, dia hidup sebatang kara dengan sangat mandiri. Paman harap kau serius padanya dan tidak mempermainkan perasaannya. Jika suatu hari nanti kau berubah pikiran dan tak lagi mencintainya, maka pulangkan saja dia pada Paman. Paman akan kembali menjaganya semampu yang Paman bisa,” pesan Paman Hardi yang terdengar sangat serius.
“Aku tidak akan mengembalikannya, Paman,” jawab Biru dengan cepat. “Aku sangat mencintai Lila dengan sungguh-sungguh. Dan aku berjanji akan menjaganya sampai kapanpun. Aku berterima kasih karena selama ini Paman menjaganya dengan sangat baik. Dan untuk ke depannya biarkan aku yang akan menjaganya.”
Paman Hardi mengangguk menyetujuinya. Beliau merasa Biru memang sungguh-sungguh mencintai Lila. Kini Paman Hardi pun bisa bernafas lega, setidaknya Lila sudah berada di tangan yang tepat.
"Syukurlah kalau begitu. Paman sangat senang mendengarnya. Niat baik jangan ditunda terlalu lama. Kalau memang semua sudah siap, segerakanlah untuk menikahinya," pesan Paman Hardi yang diangguki oleh Biru.
__ADS_1
Obrolan mereka pun terhenti saat Lila dan yang lain sudah kembali dari kantin. Mereka tak mau Lila mengetahui apa yang mereka bicarakan karena ini hanya pembicaraan antara kedua pria yang tulus menjaga Lila saja. Setelah selesai menjenguk Paman Hardi, Biru dan Lila pun pergi meninggalkan rumah sakit tersebut sebab pria paruh baya itu masih butuh istirahat yang cukup.
“Bi,” panggil Lila saat mereka sudah di dalam mobil.
“Ada apa, Sayang?”
“Tadi sewaktu aku dan Bibi ke kantin, kalian pasti membicarakan sesuatu kan?” tebak Lila.
Biru pun tersenyum lalu mengangguk. “Kau benar. Paman Hardi memintaku untuk cepat-cepat menikahimu,” jawab Biru sembarangan.
“Ihhh, aku serius,” protes Lila.
“Iya, aku serius. Tapi aku bilang tidak bisa cepat-cepat menikahimu.”
“Kenapa?” tanya Lila sambil menoleh ke arah Biru menunggu jawabannya.
“Karena kau masih dibawah umur,” jawab Biru sambil tergelak. Tentu saja ia tak serius menjawab itu.
Sementara Lila memutar malas bola matanya. Dia sudah menunggu jawaban dengan serius, ternyata Biru malah bergurau saja.
Biru mengacak gemas rambut Lila dengan sebelah tangannya lalu berkata, "Fokus saja dulu dengan pendidikanmu. Jangan memikirkan hal lain, Sayang. Tenang saja, aku masih bisa bersabar menunggumu."
__ADS_1
"Iya, Bi. Aku juga bisa sabar. Tapi aku rasa kau yang sering tidak sabar. Suka tiba-tiba menciumku," sindir Lila.
Biru pun tergelak mendengarnya. "Ya mau bagaimana lagi, kau menggemaskan sih." Kini pipi Lila pula yang dicubitnya.