
“Ayah, aku mau bicara hal penting sama Ayah,” ucap Reza tanpa basa-basi.
Tumben sekali pria itu mau bicara pada ayahnya. Sepertinya ada sesuatu yang ia inginkan dari sang ayah.
Ayah Reza yang sedang memberi makan burung peliharaannya tak langsung menggubrisnya. Pria paruh baya itu tetap melanjutkan aktivitasnya sampai selesai lalu menggantung kembali sangkar burungnya di dekat teras rumah.
“Kita bicarakan di dalam,” jawab ayah Reza lalu masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu.
Pria paruh baya itu menelisik wajah anak tunggalnya itu. Anaknya tampak kesal dan menyimpan uneg-uneg dalam benaknya.
“Jadi, apa yang mau kau bicarakan?” tanya sang ayah.
“Aku mau menikah,” jawab Reza to the point.
“Ya bagus, daripada kau tiap malam keluyuran tidak jelas, lebih baik kau menikah dan mengurus keluargamu nanti.” Ayahnya tampak setuju.
“Untuk itu aku mau minta ayah melamar gadis yang aku suka.”
“Siapa gadis itu?”
“Lila, Ayah. Aku ingin menikahi Lila.”
Dahi ayah Reza tampak mengkerut. Ia mencoba mengingat gadis di desa itu yang bernama Lila.
“Lila yang anak yatim piatu itu? Tetangga Paman Hardi bukan?” tebak ayahnya.
“Iya, Ayah. Lila yang itu.”
“Tapi ayah tidak pernah melihatmu dekat dengannya. Apa dia juga menyukaimu?” selidik ayahnya.
Reza tampak diam sejenak. Dia sedikit bingung mau beralasan apa pada ayahnya.
“Kita sudah saling mengenal, Ayah. Aku ingin segera menikahinya. Jadi aku harap, ayah mau melamarnya untukku.”
“Pertanyaan ayah, apa dia juga menyukaimu? Apa dia tau kau akan melamarnya?” ulang ayah Reza menuntut jawaban yang pasti.
“Aku hanya minta ayah melamarnya untukku. Masalah suka atau tidak, itu urusan kami berdua.”
__ADS_1
Ayah Reza tersenyum kecut. Bisa ditebak, hanya anaknya saja yang menyukai Lila, sedangkan gadis itu tidak.
“Lebih baik kau urungkan niatmu dulu. Jika dia tidak menyukaimu, maka jangan dipaksakan!”
“Apa susahnya sih Yah, tinggal melamarnya saja?” suara Reza mulai meninggi pada ayahnya.
Sang ibu yang mendengar suara ribut-ribut langsung menyusul ke ruang tamu. Ibunya pun ikut duduk di samping ayahnya.
“Ada apa ini? Kenapa suaramu besar sekali pada ayahmu? Apa bicaranya tidak bisa pelan-pelan?” tanya sang ibu menengahi.
“Aku hanya meminta ayah untuk melamar Lila untukku. Masih bagus aku tidak langsung memperko-sanya supaya aku bisa menikahinya.”
“Reza! Tutup mulutmu!” bentak sang ayah dengan marah hingga urat lehernya terletak jelas.
“Ayah membesarkanmu bukan untuk jadi anak kurang ajar seperti ini! Kalau begini caranya meminta pada orang tua, jangan harap ayah akan menyetujui rencanamu untuk melamar Lila!” ancam sang ayah.
Bukannya takut dengan ancaman sang ayah, Reza malah tampak murka. Ia langsung berdiri dari duduknya dan menatap sang ayah dengan tatapan menantang.
“Aku sudah berusaha melakukan cara yang baik. Tapi ayah menentangku. Maka jangan salahkan aku kalau aku akan tetap memaksa Lila agar menikah denganku, apapun caranya,” balas Reza.
“Alah, aku tidak peduli! Aku hanya mau Lila. Titik!”
Reza pun melengos keluar rumah begitu saja mengabaikan teriakan ibunya.
“Reza...Reza tunggu! Bicarakan baik-baik dulu, Nak,” cegah sang ibu yang diabaikan oleh Reza.
“Ayah, bagaimana ini Yah? Apa tidak sebaiknya kita turut saja maunya Reza? Ayah lamar saja Lila untuknya,” bujuk ibu Reza yang membuat suaminya geram.
“Bu, berhenti menuruti semua keinginan anakmu itu! Begini ini jadinya kalau apa-apa mau anak dituruti. Saat dia tidak mendapat apa yang dia inginkan, maka dia akan menghalalkan segala cara untuk merebutnya.” Ayah sangat tak setuju dengan pendapat ibu. Bagi ayah Reza, kedua belah pihak harus sama-sama setuju kalau memang mereka mau menikah, bukan karena paksaan.
“Bukan maksud ibu mau membela Reza, Yah. Tapi kita coba dulu bicarakan sama Lila. Mana tau Lila mau kita bujuk supaya mau menikah dengan Reza. Ibu hanya tidak mau sampai Reza berbuat nekat sama Lila, Yah,” jelas ibu yang merasa sangat dilema.
“Ayah tidak mau! Kalau Lila juga mencintainya, baru ayah setuju menikahi mereka. Tapi kalau hanya Reza saja yang berambisi menikahi Lila, maka ayah tidak akan mendukungnya. Reza sudah dewasa, Bu. Dia sudah harus bisa menerima kenyataan kalau tidak semua yang dia inginkan bisa dia dapatkan,” sanggah Ayah yang tak mau dibantah lagi.
Pria itu tak mau berdebat lagi. Ia masuk ke dalam kamar untuk menenangkan dirinya. Jika Reza bersikeras untuk menikahi Lila dengan paksa, maka ayahnya akan lebih keras lagi menentangnya.
Satu hal yang masih mengganjal di pikiran orang tua itu adalah bagaimana kalau sampai Reza nekat berbuat tidak senonoh pada Lila agar dia bisa menikahi gadis itu. Tentu itu akan sangat menyakiti perasaan Lila. Dan ayah Reza tak mau sampai hal itu terjadi.
__ADS_1
Setelah bertengkar dengan sang ayah ternyata Reza langsung mengintai Lila yang berada di rumah Paman Hardi. Dia sengaja menunggu sampai Lila keluar dari rumah itu.
Tahan ia menunggu sampai sejam lamanya. Ketika melihat Lila keluar dari rumah Paman Hardi untuk kembali ke rumahnya, Reza pun mengikutinya dari belakang dengan mengendap-endap. Sampai di jalan yang sudah cukup sepi, ia segera menghampiri gadis itu.
“Aku sudah meminta ayahku melamarmu,” ucap Reza secara tiba-tiba.
Lila tentu saja terkejut dan menghentikan langkahnya. Melihat Reza sudah berada di dekatnya, Lila berusaha lari tapi pria itu mencekal tangannya.
“Lepaskan aku!”
“Dengarkan aku dulu!” bentak Reza yang membuat Lila takut dan langsung terdiam.
“Aku hanya mencintaimu, Lila. Apa itu salah? Aku juga sudah bicara dengan ayahku. Aku memintanya untuk melamarmu. Aku sudah melakukan cara yang baik untuk memilikimu. Jadi aku harap, kau jangan mengecewakanku,” ancam Reza dengan suara pelan tapi penuh penekanan.
Lila menggeleng dengan cepat antara takut dan tidak menyetujui perkataan Reza.
“Tapi kau tau aku tidak mencintaimu,” ucap Lila takut-takut.
“Aku akan membuatmu mencintaiku setelah kita menikah,” bantah Reza.
“Itu tidak semudah yang kau bayangkan,” sanggah Lila lagi.
“Berhenti membantahku, Lila!” Sekali lagi Reza membentak Lila. Ia tak sadar dengan sikapnya yang seperti itu justru membuat Lila malah semakin tidak suka padanya. Wanita mana yang suka dipaksa dan diperlakukan dengan kasar.
“Sudahku bilang kesabaranku ada batasnya. Keluargaku akan segera datang melamarmu dan kau harus menerimanya. Kalau kau menolak, aku akan lakukan cara lain yang mungkin tidak akan kau sukai,” ancam Reza lalu melepaskan cekalan tangannya.
Reza pun berbalik dan pergi meninggalkan Lila begitu saja. Setelah kepergian Reza, Lila langsung menangis katakutan dan segera berlari pulang ke rumahnya.
Di dalam rumah ia menangis sejadi-jadinya. Ia menelungkupkan wajahnya di atas bantal.
Ia merasa sangat lemah dan tak mampu untuk melawan Reza. Kalau sudah begini, ia jadi rindu dengan almarhum kedua orang tuanya. Seandainya orang tuanya masih hidup sampai sekarang, tidak mungkin dengan mudah Reza bisa mengancamnya. Ia pasti bisa berlindung dibalik dekapan kedua orang tuanya.
“Ayah, Ibu, Lila rindu sama Ayah dan Ibu,” isak Lila dengan deraian airmatanya.
.
Bersambung....
__ADS_1