
Plak
Sebuah tamparan yang cukup keras mendarat di pipi mulus milik Luna. Ia tak menyangka kalau Bisma memintanya datang bertemu di apartemen Bisma hanya untuk mengungkapkan kekesalannya karena wanita itu tidak berhasil mempertahankan Biru menjadi miliknya.
“Dasar bodoh! Kau lebih segalanya dari gadis kampungan itu tapi kau tidak mampu merebut hati Biru!” hardik Bisma dengan murka.
Dari sudut mata Luna tampak mengalir cairan bening. Ia menangis dalam diam menerima tamparan yang cukup menyakitkan dari Bisma. Ia memegang pipinya yang kian terasa panas. Pria ini seperti tidak ada belas kasihan sedikitpun kepadanya.
Bisma tampak sangat gusar. Ia pun menghempaskan bo-kongnya di sofa sambil menatap Luna yang berdiri mematung di tempatnya.
“Seharusnya kau bisa mengendalikan emosimu saat berhadapan dengan gadis kampungan itu. Jangan malah menyakitinya di depan Biru. Itu sama saja kau menunjukkan pada mereka bagaimana sifatmu sebenarnya,” ucap Bisma.
Luna tampak menyeka air matanya lalu ia duduk di sofa yang berhadapan dengan Bisma.
“Apa kau tidak mengerti kalau Biru sangat mencintai gadis itu? Dengan aku berbuat seperti itu atau tidak dia tetap akan memutuskan pertunangan denganku.” Luna mencoba menjelaskan kondisinya.
“Kau harus tetap menolak keinginan Biru untuk memutuskan hubungan kalian. Kita harus bisa mempersulit hubungan Biru dan gadis itu. Sementara itu aku akan memikirkan cara lain untuk mendekati gadis itu. Aku harus selidiki dulu apa gadis itu bisa diajak kerjasama atau tidak. Biasanya gadis-gadis polos dari desa seperti dia akan mudah dirayu dan diiming-imingi dengan uang dan kemewahan,” ucap Bisma yang tampak yakin.
Luna sebenarnya tak yakin Bisma akan berhasil merayu Lila. Gadis itu sepertinya bukan gadis yang Bisma bayangkan. Biru bahkan pernah mengatakan padanya bahwa gadis itu rela menerima Biru meski Biru tak memiliki apa-apa.
Tapi saat ini rasanya ia akan membiarkan saja Bisma berpikiran seperti itu. Setidaknya ia aman dari amukan pria breng-sek di hadapannya ini. Ia ingin berontak tapi terikat dengan hutang budi. Ah, rasanya ia sangat menyesal sekali menerima segala bantuan dari Bisma dulu.
“Terserah kau saja. Aku ikut saja apa rencanamu selanjutnya,” ucap Luna dengan pasrah.
Bisma pun tersenyum sinis mendengar jawaban Luna. Ia senang kalau wanita itu dengan mudah mau mematuhinya.
***
“Waaawww...”
Lila dari tadi tak berhenti takjub memandang jalanan kota besar itu di kala malam. Lampu-lampu yang berwarna-warni di sepanjang jalan menjadi penerang yang sempurna. Belum lagi gedung-gedung besar dan bertingkat di sepanjang jalan. Semua tampak lebih indah di kala malam.
“Bi, jalanan di kota sangat bagus dan terang sekali,” ucap Lila yang masih melihat pemandangan kota dari balik kaca jendela mobil.
Saat ini mereka sedang berada di jalan menuju ke sebuah restoran. Mereka hanya pergi berdua saja dengan Biru yang menyetir mobilnya.
Biru menoleh ke samping sekejap untuk meraih tangan Lila. Ia lalu mengecup tangan itu sehingga membuat Lila tersipu.
“Aku akan sering-sering mengajakmu jalan-jalan keluar kalau kau suka,” kata Biru menanggapi Lila.
“Tentu aku suka. Apalagi aku belum ada kegiatan. Asal tidak mengganggu waktu kerjamu, aku siap diajak jalan-jalan denganmu.”
Biru mengecup lagi punggung tangan Lila. “Iya, Sayang. Setiap ada waktu kita akan jalan-jalan, ya.”
__ADS_1
Biru pun melepaskan tangan Lila. Mereka sudah hampir sampai di restoran yang akan mereka tuju. Ia membelokkan mobilnya masuk ke dalam sebuah kawasan restoran.
“Kita akan makan disini, Bi? Besar sekali seperti tempat penginapan,” bisik Lila pada Biru saat mereka baru turun dari mobil.
Biru tersenyum lalu memberikan sikunya pada Lila. Gadis itu pun langsung menggandengnya. “Ini salah satu restoran favoritku. Kau pasti suka. Ayo kita masuk.”
Mereka pun masuk ke dalam dan duduk di ruang VIP yang sudah direservasi oleh Biru sebelumnya. Di dalam ruangan itu hanya ada mereka berdua. Sebuah ruangan yang di lantai tiga yang jendela kacanya sangat besar sehingga mereka dapat menikmati suasana malam kota itu dari sana.
“Kau suka?” tanya Biru saat melihat Lila menatap kagum ruang VIP itu.
Lila mengangguk dengan cepat. “Tentu. Pemandangan dari sini sangat indah.”
“Dan makanannya juga sangat enak,” timpal Biru.
Biru memesan steak untuk makan malam mereka kali ini. Ia sekalian ingin mengajarkan Lila bagaimana cara makan dengan pi-sau dan gar-pu. Awalnya Lila sedikit bingung. Beberapa kali daging steak yang ia po-tong meloncat ke meja. Bukannya marah, Biru malah tergelak.
“Tidak apa-apa, Sayang. Ayo coba lagi,” kata Biru menyemangati Lila.
Lila mengangguk lalu mencoba lagi untuk kesekian kali. Sesekali Biru akan membantu Lila untuk memo-tong steak itu. “Pelan-pelan saja, Sayang. Tu-suk dagingnya dengan gar-pu, po-tong dengan perlahan seperti ini, lalu suapkan ke mulut.”
“Hmmm enak,” seru Lila.
“Enak kan? Ini steak favoritku,” ucap Biru. “Kalau kau mau kita bisa sering-sering kesini.”
Setelah selesai makan malam, Biru mengajak Lila ke mall. Ia mengajak Lila untuk berbelanja beberapa barang untuk gadis itu. Meskipun Lila menolak, tapi Biru tetap memaksa. Akhirnya Lila pun membeli tas, sepatu, parfum, lotion dan beberapa pernak-pernik lainnya. Tangan mereka kini sudah penuh dengan belanjaan.
“Banyak sekali belanjanya. Lama-lama duitmu bisa habis kalau boros begini, Bi,” ucap Lila.
Biru hanya tersenyum saja. Lila tidak tau berapa banyak saldo yang ada di rekening kekasihnya itu.
“Kau mau es krim?” tanya Biru kemudian.
“Boleh,” jawab Lila dengan semangat.
“Itu disana ada es krim.” Biru menunjuk salah satu stand es krim dengan dagunya. “Ayo kita kesana.”
“Oke.”
Mereka pun membeli dua ice cream cone dan memakannya sambil duduk di bangku yang tersedia di mall itu. Rasanya sangat menyenangkan sekali bisa menghabiskan waktu berdua dengan seseorang yang dicintai. Mereka tampak seperti sepasang remaja yang sedang pacaran. Melakukan hal sederhana seperti ini terasa sangat berarti kalau dilakukan bersama dengan orang yang tepat.
Bersama Lila, Biru merasa lebih bahagia dan bisa melakukan apa saja. Seperti saat sekarang makan es krim berdua sambil duduk melihat pengunjung mall yang berlalu lalang. Kalau dengan Luna, sudah pasti wanita itu tak mau melakukan hal receh seperti ini. Pacaran pun mau yang elegan. Semua harus terkesan mewah dan nyaman bagi dirinya. Biru menoleh ke arah Lila yang masih asik dengan es krimnya. Memang tak salah ia memilih Lila sebagai calon istrinya.
Pulang dari mall, Lila kira mereka akan langsung kembali ke apartemen. Ternyata Biru mengajak Lila pergi ke sebuah taman kota yang dekat dengan pelabuhan. Dari taman itu mereka bisa melihat laut lepas dan kapal laut yang masih berlayar di kala malam.
__ADS_1
Mereka turun dari mobil dan duduk di salah satu kursi panjang yang tersedia disana. Saat itu suasana cukup sepi. Mungkin karena bukan akhir pekan.
“Aku pernah kesini beberapa kali,” ucap Biru sambil memandang laut di depannya. “Aku kesini sendiri,” lanjut Biru lagi.
“Melepas lelah?” tebak Lila.
Biru menoleh lalu mengangguk. “Melepas lelah dan mencari ketenangan. Dulu aku sangat gila bekerja. Aku memang suka bekerja. Tapi ada masanya aku juga butuh ketenangan, butuh hiburan.”
“Kau yakin hanya kesini sendiri?” selidik Lila. Setau Lila Biru sudah lama tunangan dengan Luna, tapi kenapa dia tidak pernah mengajak wanita itu kesini juga.
“Aku tau yang ada di kepalamu. Kau mau bertanya kenapa aku tidak mengajak Luna kan?” tebak Biru sambil mencubit pelan hidung Lila.
Lila pun terkekeh. “Kau tau saja isi kepalaku seperti apa.”
“Kau itu mudah ditebak, Lila. Kau selalu bersikap apa adanya. Dan itu yang aku suka darimu.”
“Terus kenapa sekarang kau mengajakku kesini? Nanti kau tidak dapat ketenangan lagi,” tanya Lila.
Biru memiringkan posisi duduknya menghadap Lila. Ia mengulurkan tangannya untuk menangkup kedua pipi gadis manis di depannya ini.
“Aku sudah mendapatkan semuanya saat aku berada di sampingmu, Lila,” jawab Biru sambil menyelami kedua bola mata gadis itu.
“Aku mendapatkan ketenangan, kebahagiaan, cinta dan semua yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Dan yang paling penting aku juga mendapatkan ketulusan darimu. Karena itu....aku selalu jatuh hati padamu.”
“Benarkah kau merasakan semua itu?” tanya Lila dengan lirih. Ia merasa terharu dengan segala yang Biru ungkapkan padanya.
“Tentu saja. Apa kau tidak merasakan itu juga saat aku berada di dekatmu?” Biru balik bertanya.
“Aku juga merasakan hal yang sama. Berada di dekatmu membuatku lebih tenang. Aku merasa dilindungi dan dicintai, Bi,” jawab Lila dengan jujur.
Biru pun tersenyum. Detik berikutnya ia sudah menempelkan bibirnya pada bibir Lila, bahkan sedikit memagut bibir manis merah muda itu.
Oh iya, dia lupa ijin terlebih dulu pada Lila saat melakukan ini. Tapi biar sajalah, pikirnya. Mumpung Lila juga ikut menikmatinya.
.
Bersambung......
.
NOTE :
Hai pembaca setia, mohon maaf untuk giveaway akan aku undur sampai akhir bulan ya karena suatu hal 🙏 Harap tetap setia menunggu 🤗🙏 Terimakasih. 🙏😘
__ADS_1