Gadis Penyelamat Tuan Biru

Gadis Penyelamat Tuan Biru
21. Dia Bukan Calon Suamimu


__ADS_3

Tok tok tok.


Suara ketukan pintu membangunkan tidur Lila. Terlalu banyak memikirkan Biru membuatnya susah tidur sampai akhirnya ia harus kesiangan bangun pagi ini. Lila membuka matanya dengan malas. Dengan langkah gontai ia pergi keluar untuk melihat siapa yang datang.


“Bibi? Tumben sekali Bibi datang sepagi ini,” ucap Lila saat melihat Bibi Fatma sudah berada di depan pintu rumahnya.


“Pagi? Ini sudah jam delapan, Lila. Sudah siang. Kau baru bangun? Tumben sekali bangunmu siang begini.”


Lila mengucek kedua matanya lalu melihat dengan benar. Ternyata memang dirinya yang kesiangan.


“Iya, Bi. Ternyata sudah siang. Ayo Bi, masuk dulu,” ajak Lila.


“Tidak usah, Bibi hanya singgah sebentar saja mau memberikan roti padamu.” Bibi Fatma memberikan kantong plastik berisi roti buatannya dan Lila pun menerimanya.


“Terimakasih banyak, Bi. Banyak sekali rotinya, sekarang kan aku cuma tinggal sendirian, Bi,” ucap Lila saat melihat isi dalam kantong tersebut.


“Rotinya baru Bibi buat. Kau bisa simpan untuk beberapa hari ke depan.” Bibi Fatma mengusap-usap lengan Lila. “Makanlah yang banyak biar badanmu sedikit berisi. Jangan terlalu sering tidur larut malam sampai membuatmu kesiangan. Tidak perlu terlalu banyak memikirkannya.”


Bibi Fatma seolah tau apa yang membuat gadis di depannya ini bangun kesiangan. Ia menebak, Lila pasti susah tidur karena memikirkan Biru yang sudah kembali ke kota.


Bibi Fatma sendiri sudah seperti seorang ibu bagi Lila. Wanita itu selalu memperhatikan Lila dengan baik dan memperlakukan Lila layaknya anak gadisnya sendiri.


“Tidak kok, Bi. Aku hanya kesiangan saja, bukan karena memikirkannya,” elak Lila.


Bibi Fatma tersenyum. Ia tau Lila berbohong. “Tidak salah memikirkannya. Yang penting jangan terlalu banyak berharap padanya. Kau harus tetap menjalani hidupmu seperti biasa, seperti sebelum dia datang di kehidupanmu.”


Lila mengangguki nasehat Bibi Fatma. Apa yang dikatakan Bibi Fatma barusan terasa benar bagi Lila. Memang sudah seharusnya ia tak berharap Biru akan kembali. Terserah bagaimana takdir saja mengatur pertemuan mereka lagi.

__ADS_1


"Ya sudah, Bibi mau ke tempat lain lagi. Bibi pamit dulu."


"Iya, Bi. Sekali lagi terimakasih banyak atas rotinya. Roti buatan Bibi selalu enak," ucap Lila sambil mengacungkan jempolnya.


Bibi Lila mengangguk lalu mengusap kepala Lila sekilas. Setelah itu barulah ia pergi meninggalkan rumah Lila.


***


Merasa bosan di rumah, akhirnya Lila memutuskan untuk pergi ke sungai. Bukan untuk mengambil air tapi untuk menenangkan diri sejenak disana. Suasana di tepi sungai yang teduh dan sejuk, membuat suasana hatinya lebih baik dan ia merasa sangat nyaman disana.


Lila duduk di sebuah batu besar dengan kaki menjuntai ke bawah. Kakinya menendang-nendang air sungai yang beriak. Sedang asik memainkan kakinya di air, tiba-tiba ada suara yang mengejutkannya.


“Kau sendirian saja?”


Lila sedikit berjingkit mendengar suara yang tiba-tiba datang mengagetkannya. Ia menoleh ke sumber suara, ternyata itu adalah suara Reza.


Lila pun cepat-cepat berdiri saat Reza menghampirinya.


Lila tau betul bahwa pria itu jarang sekali datang ke sungai. Apalagi ia datang sendirian dengan tangan kosong tanpa membawa apa-apa. Mana mungkin ia mau mengambil air disana. Sudah bisa ditebak ia pasti sedang mengikuti Lila.


“Kenapa kau sewot sekali? Aku kan hanya bertanya, apa kau sendirian saja? Kemana pria asing yang mengaku-ngaku sebagai calon suamimu itu?” ulang Reza dengan nada menyindir. Pria itu sudah tau bahwa Biru telah pergi meninggalkan desa itu dan kembali ke kota.


Saat Biru menumpang truk untuk kembali ke kota, ada salah satu temannya yang melihat itu dan melaporkan padanya. Karena itulah ia tau Biru pergi ke kota. Ia juga sudah menyelidiki siapa Biru sebenarnya. Ternyata dugaannya benar. Biru hanya pria pendatang di desanya itu, bukan penduduk disana.


“Bukan urusanmu. Sebaiknya kau jangan mencampuri urusan orang lain.” Lila malas meladeni Reza. Ia pun beranjak pergi dari sungai itu tapi Reza menahan tangannya. Lila langsung memelototi pria itu.


“Aku sudah tau, dia hanya pria asing yang kau selamatkan. Dia bukan calon suamimu. Sekarang dia sudah kembali ke kota. Dan dia tidak mungkin akan kembali lagi kesini bukan?” suara Reza terdengar mengejek Lila.

__ADS_1


“Lalu, kenapa kalau dia tidak kembali lagi?”


“Baguslah kalau dia tidak kembali. Karena memang dia tidak cocok untuk jadi calon suamimu. Yang cocok menjadi suamimu hanya aku,” jawab Reza dengan penuh percaya diri.


Lila menarik tangannya. Ia menatap Reza dengan pandangan tak suka.


“Aku rasa aku bukan baru sekali ini menolakmu kan? Apa kau tidak mengerti juga? Aku tidak menyukaimu. Sampai kapanpun aku tidak mau kau menjadi suamiku. Kenapa sih kau terus memaksaku menerimamu?" tolak Lila secara terang-terangan.


“Kau bisa bicara begitu sekarang. Tapi ingat, kesabaranku ada batasnya Lila.” Reza berbicara dengan rahang yang tampak mengeras karena kesal.


“Apa maksudmu?” tanya Lila mulai panik. Masalahnya mereka hanya berdua saja di sungai itu. Lila khawatir juga kalau Reza akan berbuat macam-macam padanya disana. Sudah pasti tidak akan ada orang yang menolongnya sekalipun dia menjerit sekuat tenaga.


“Aku berulang kali menyatakan perasaanku padamu dengan sangat sopan. Aku selama ini selalu sabar menunggumu untuk menerimaku. Tapi lama-lama kesabaranku mulai habis. Jadi, berhentilah menolakku sebelum aku menggunakan cara yang tak kau sukai.” Suara Reza terdengar mengancam.


“Kau mengancamku?”


“Bukan, Sayang. Ini bukan ancaman, tapi peringatan.” Pria itu tampak tersenyum tapi Lila tau itu senyum kepura-puraannya.


Lila merasa makin benci saja dengan pria di depannya ini. “Kau manusia aneh! Sekalipun kau paksa, aku tetap tidak mau! Sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik Reza. Di desa ini bukan hanya ada satu perempuan. Dan aku yakin, masih banyak perempuan lain yang menyukaimu. Jadi aku harap, berhentilah menggangguku."


Setelah mengatakan itu Lila segera meninggalkan Reza. Jujur, ia merasa takut juga dengan pria nekat itu. Bisa saja Reza berbuat buruk padanya karena terus ditolak Lila.


Reza tersenyum sinis menatap kepergian Lila. Semakin ditolak malah membuatnya semakin merasa ingin segera memiliki Lila. Memang betul kata Lila, ada banyak gadis lain yang menyukainya. Tapi sayang, hatinya sudah terpaut pada satu nama yaitu, Lila.


“Pikirkan perkataanku baik-baik, Lila,” teriak Reza yang menggema di udara. Tentu saja Lila dapat mendengar suara itu. Makanya Lila mempercepat langkahnya agar bisa segera sampai ke rumah.


Lila berencana untuk mengadukan Reza pada Paman Hardi. Ia butuh perlindungan saat ini mengingat dirinya hanya tinggal sendirian saja di rumahnya. Kapan saja Reza mau, ia bisa saja menyelinap masuk.ke dalam rumahnya. Lila sangat takut hal itu akan terjadi.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2