Gadis Penyelamat Tuan Biru

Gadis Penyelamat Tuan Biru
38. Mencelakai Paman Hardi


__ADS_3

“Akh, si-al! Berani sekali Lila menolak lamaranku!” umpat Reza sambil menendang sebuah batu di depannya.


Saat ini Reza sedang bersama teman-temannya di sebuah gazebo tempat mereka biasa berkumpul.


“Jadi, apa rencanamu selanjutnya? Lila sudah menolakmu,” tanya Dani, teman Reza. Dani tau betul bagaimana Reza begitu menginginkan Lila. Pria itu tak mungkin hanya diam saja mendapat penolakan dari Lila.


“Sepertinya dia memaksaku untuk berbuat kasar padanya,” jawab Reza yang penuh dengan tanda tanya.


Dani dan satu teman yang lain saling pandang. Mereka tidak mengerti apa lagi yang akan dilakukan oleh temannya itu.


“Memaksa bagaimana maksudmu? Kau pasti susah mendekatinya karena saat ini Lila menumpang tinggal di rumah Paman Hardi untuk sementara,” tanya Dani lagi.


Reza pun menoleh pada Dani lalu menampakkan senyum jahatnya. “Justru target awalku adalah pria tua itu, Paman Hardi. Selama ini Lila hanya berlindung padanya saja kan? Aku mau lihat nanti setelah aku berhasil mencelakai Paman Hardi, dia akan lari kepada siapa lagi untuk meminta perlindungan.”


“Kau serius? Itu sangat beresiko,” ucap Dani.


“Tenang saja. Aku tidak menghabiskan nyawanya. Hanya memberikan sedikit peringatan saja,” jawab Reza dengan enteng.


“Reza, menurutku sebaiknya kalu pikirkan baik-baik niat burukmu ini. Paman Hardi itu orang baik. Jangan libatkan dia! Dia tidak salah apa-apa,” kata salah seorang teman Reza menasehati.


Paman Hardi memang sangat dikenal dan cukup disegani di kampung itu. Apalagi kebaikannya yang senang membantu atau mengobati orang sakit tanpa meminta imbalan. Teman Reza tentu tak tega jika orang baik seperti Paman Hardi ikut kena getahnya.


“Aku tidak melibatkannya tapi dia yang melibatkan dirinya sendiri dengan melindungi Lila. Selama dia selalu melindungi Lila, tentu aku tidak bisa mendekati gadis itu,” bantah Reza.

__ADS_1


Dani menggelengkan kepalanya melihat Reza yang sudah kehilangan akal sehat demi mendapatkan Lila. Ini bukan lagi cinta namanya, tapi ambisi semata.


“Terserah kau sajalah mau berbuat apa untuk mendapatkan Lila. Tapi ingat pesanku, jangan sampai kau membahayakan nyawa orang lain. Gadis di desa ini tidak hanya Lila,” saran Dani.


“Aku tau apa yang akan aku lakukan. Kalian tidak perlu khawatir. Yang terpenting jangan ada di antara kalian yang membongkar rencanaku ini. Kalau sampai rencanaku terbongkar, maka kalian adalah orang pertama yang aku cari,” ancam Reza yang tak terlihat main-main.


***


Malam ini sesuai rencana Reza, ia sengaja sudah mengintai Paman Hardi sedari sore tadi. Pria paruh baya itu saat ini sedang mengunjungi salah satu rumah warga lainnya. Seperti biasa, Paman Hardi mengobati salah satu warga disana.


Reza sudah menunggu di jalan yang akan dilalui Paman Hardi saat pulang ke rumahnya nanti. Jalanan itu cukup gelap tidak ada penerangan. Disanalah nanti ia akan mencelakai pria paruh baya itu.


Reza sudah bersiap-siap dengan sebuah sepeda motor milik warga desa lain yang ia pinjam. Rencananya ia akan menabrak Paman Hardi agar pria itu terluka. Dengan begitu, tak akan ada lagi yang melindungi Lila.


Beberapa menit kemudian, yang ditunggu baru kelihatan batang hidungnya. Paman Hardi tampak berjalan kaki seorang diri dengan menyandang tas di bahunya. Tas yang selalu ia bawa kemana-mana saat mengobati orang sakit.


Reza segera memakai topeng yang menutup seluruh wajahnya, hanya menyisakan mata, hidung dan mulut saja yang terlihat. Ia segera menyalakan motornya dan menghampiri Paman Hardi.


Melihat ada sebuah cahaya lampu motor dari arah berlawanan di depannya, Paman Hardi merasa silau. Ia menghentikan langkahnya dan berlindung dengan tangannya untuk menghindari cahaya. Ia sama sekali tak menyangka kalau pengendara motor itu akan menabraknya karena ia sudah berdiri di pinggir, bukan di tengah.


Motor itu semakin lama semakin melaju kencang mendekatinya. Hingga akhirnya....


Brrruuuggghhhh.

__ADS_1


Paman Hardi terpental jatuh ke belakang. Kepalanya terbentur aspal dan ia pun tak sadar diri. Da-rah segar langsung mengalir membasahi kepalanya.


Reza berhenti dan melihat Paman Hardi yang tergeletak tak sadarkan diri. Bukannya menolong, ia malah meninggalkan pria paruh baya itu begitu saja.


***


"Bibi Fatma....Bibi Fatma...." teriak salah seorang warga desa saat mendatangi rumah Paman Hardi.


Bibi Fatma dan Lila yang mendengar suara itu segera membukakan pintu dan melihat siapa yang datang.


"Ada apa, ya? Mau mencari siapa?" tanya Bibi Fatma.


"Bi, aku ingin memberitahu kalau Paman Hardi ditemukan tergeletak di jalan. Paman Hardi luka parah," jawab warga desa itu yang membuat Bibi Fatma dan Lila terbelalak.


"Luka parah?" ulang Lila seolah tak percaya. Padahal saat meninggalkan rumah tadi keadaan Paman Hardi baik-baik saja.


Pria itu mengangguk. "Sekarang Paman Hardi ada di Balai desa, Bi. Sedang diperiksa oleh mantri disana. Tapi sepertinya lukanya cukup parah. Ayo lihat kesana sekarang!" lanjut pria itu.


Bibi Fatma dan Lila mendadak gemetar. Mereka risau bukan main mendengar kabar itu. Bibi Fatma bahkan sudah mengeluarkan airmata mendengar kabar buruk tentang suaminya.


"Bi, sabar ya, Bi. Ayo kita lihat kondisi Paman Hardi," bujuk Lila karena melihat Bibi Fatma sangat shock dengan berita itu.


Bibi Fatma pun mengangguk pasrah. Mereka mengajak Ferdi juga untuk pergi melihat kondisi Paman Hardi secara langsung. Setelah mengunci pintu rumah, mereka pun pergi bersama pria tadi ke Balai desa.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2