Gadis Penyelamat Tuan Biru

Gadis Penyelamat Tuan Biru
41. Kenapa Kau Lama Sekali?


__ADS_3

Malam ini Biru tidur dengan gelisah. Yang ada di pikirannya hanya bayangan Lila yang terus memanggil namanya dengan panggilan “Bi” secara berulang-ulang. Mungkinkah Lila saat ini sedang merindukannya? Ia pun sama, juga merindukan gadis itu. Untuk itu, besok subuh ia akan berangkat ke desa untuk menjemput Lila pindah ke kota.


Ia sudah menyiapkan kado berupa coklat berbentuk hati yang akan ia hadiahkan untuk Lila. Lila pasti sangat suka pikirnya. Ia tak sabar sekali rasanya menunggu besok. Ia berharap saat ia datang menjemput Lila, gadis itu mau diajak pindah olehnya ke kota.


Biru sudah mempersiapkan apartemen untuk Lila tempati selama di kota. Apartemen yang dekat dari kantornya. Selain itu, apartemen itu juga dekat dengan salah satu kampus ternama di kota itu. Biru berharap Lila mau melanjutkan pendidikannya. Atau kalau tidak, ada banyak kursus-kursus lain yang bisa ia pelajari. Lila harus bisa beradaptasi dengan kehidupan di kota dan memiliki kesibukan selama tinggal disini nanti.


“Tunggu aku, Lila. Besok aku akan segera menjemputmu,” ucap Biru lalu memejamkan matanya.


Sementara di sudut kamar di sebuah rumah kecil di desa, gadis yang ia khawatirkan sedang terduduk sambil memeluk kedua lututnya. Sejak kedatangan Reza ke rumahnya tadi pagi, Lila sama sekali tidak beranjak dari tempat itu. Bahkan sekedar menghidupkan lampu-lampu di rumahnya pun tidak. Ia sangat tertekan sampai tak berani keluar dari kamarnya. Ia tahan tak makan dan tak minum saking takut Reza akan datang kembali.


Dari tadi beberapa kali ia terus memanggil-manggil nama Biru dan meminta pria itu untuk datang. Mungkin hal itu jugalah yang membuat Biru kepikiran terus tentangnya. Saat dirinya merasa sudah sangat lelah karena terlalu banyak menangis, akhirnya ia pun tertidur dengan posisi duduk.


Hanya beberapa jam saja tidur, Biru sudah kembali terbangun setelah mendengar alarmnya berbunyi. Masih pukul tiga pagi tapi ia sudah harus segera berangkat menjemput Lila ke desa. Kali ini ia tak pergi sendiri. Ada Jay dan dua bodyguard lain yang akan mengawalnya. Biru harus berjaga-jaga semisal nanti ada si pengganggu Reza yang menghalanginya.


Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, kondisi mobil juga baik, ia pun meninggalkan rumahnya untuk melanjutkan perjalanan ke desa.


***


“Lila....Lila.....”


Sayup-sayup Lila mendengar suara seseorang memanggilnya. Matanya tampak bergerak untuk membuka perlahan. Suara itu kembali terdengar di telinganya.


“Lila.....Lila......”

__ADS_1


Lila menegakkan kepalanya meskipun terasa berat. Ia melihat sinar matahari sudah masuk dari celah-celah jendela kamarnya pertanda hari sudah pagi.


“Suara itu...seperti suara Biru,” gumam Lila dengan suara seraknya.


“Apa mungkin Biru datang?”


Lila menggeleng cepat. Tidak mungkin Biru tiba-tiba datang ke rumahnya di desa sementara Biru sendiri tinggal di kota. Ia malah berpikiran kalau itu adalah suara Reza karena kemarin Reza mengatakan akan menjemputnya pagi ini.


"Tidak! Aku tidak mau menikah dengannya," gumam Lila dengan takut.


Lila kembali tersudut sambil memeluk kedua kakinya dengan erat. Ia tak mau Reza datang untuk menikahinya.


Sementara Biru yang sudah berada di luar rumah Lila merasa heran. Rumah Lila tampak sangat sepi dari luar. Dipanggil beberapa kali tapi tidak ada yang menyaut dari dalam. Lila selalu bangun pagi. Apa mungkin dia tidak ada di rumahnya?


“Tidak, aku yakin Lila ada di dalam.”


Biru mencoba meraih handle pintu dan memutarnya. Ternyata pintu itu tidak terkunci.


“Tidak dikunci! Aku akan masuk ke dalam. Kau jaga disini saja,” titah Biru. Perasaannya sudah tidak enak mendapat pintu tidak terkunci.


Biru pun segera menerobos masuk ke dalam rumah Lila. Rumah itu tampak kosong tak berpenghuni.


“Lila....Lila.....ini aku Biru. Kau dimana?” teriak Biru sambil terus mencari Lila hingga ke dapur.

__ADS_1


Mendengar nama Biru, barulah Lila mendongakkan kepalanya. Matanya yang berkaca-kaca tampak berbinar penuh harap. Akhirnya pria yang ia tunggu datang juga menolongnya.


Brakkk.


Biru membuka pintu kamar dengan kasar. Matanya langsung tertuju pada sesosok gadis yang ia rindukan. Gadis yang tampak kacau sedang duduk tersudut di ujung kamar.


“Lila....” lirih Biru. Hatinya langsung berdenyut melihat kondisi gadis penyelamatnya terlihat menyedihkan seperti itu.


Melihat sosok Biru secara nyata di depan matanya membuat mata Lila memanas tiba-tiba. Matanya berkaca-kaca menatap Biru penuh harap untuk segera membawanya pergi dari sana.


Biru pun segera menghampiri Lila. Tanpa bicara apapun, ia langsung memeluk gadis itu dengan erat.


“Lila, aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu. Apa yang terjadi padamu, Lila?” ucap Biru sambil memeluk Lila kuat-kuat. Ia pun dapat merasakan Lila balas memeluknya dengan erat.


“Kau jahat, Bi. Kau jahat!” marah Lila sambil terisak dalam pelukan Biru.


“Kenapa kau lama sekali datang kesini? Kau tega sudah melupakanku!” Lila masih terus menangis. Sesekali tangannya memukul-mukul punggung Biru dengan lemah, tenaganya sudah tak ada.


Biru merasa sangat bersalah. Ia tak mau bertanya macam-macam dulu. Ia terus memeluk Lila untuk memberikan ketenangan pada gadis itu. Sesekali ia bahkan mencium puncak kepalanya Lila dengan lembut.


“Tenang, Lila. Tenang, ya. Aku sudah disini. Kau aman bersamaku. Aku sudah datang menjemputmu.”


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2