Gadis Penyelamat Tuan Biru

Gadis Penyelamat Tuan Biru
30. Mengunjungi Rumah Lila Lagi


__ADS_3

Malam ini Reza tampak sudah bersiap-siap. Sepertinya pria itu akan pergi. Ya, dia memang berniat untuk mengunjungi rumah Lila lagi. Kali ini ia bertekad akan memberikan ancaman yang pasti membuat Lila ketakutan.


“Kau mau kemana malam-malam begini?” tanya ayah Reza saat berpapasan dengan anaknya di teras.


“Aku ada urusan,” jawab Reza sambil melengos pergi.


Pria paruh baya itu menatap heran pada anaknya. Wajah anaknya tampak kesal. Ia tak mau saja kalau Reza sampai pergi keluar untuk berkelahi dengan seseorang. Terkadang Reza memang suka seperti itu. Senang menantang pria lain di desanya. Ia selalu merasa sok kuat.


“Kenapa masih di luar malam-malam begini? Ayah tidak masuk ke dalam?” tegur sang istri yang melihat suaminya hanya berdiri di teras menatap Reza yang sudah menghilang dari pandangan.


“Anakmu malah baru keluar malam-malam begini. Dia itu mau kemana, sih? Awas saja kalau sampai dia berbuat onar lagi,” jawab ayah Reza.


“Mungkin dia hanya kumpul-kumpul dengan teman-temannya seperti biasa, nanti juga dia pulang. Dia sudah tidak pernah pulang pagi lagi kok,” bujuk ibu Reza sambil mengusap lengan sang suami.


“Jangan terlalu memanjakan Reza, dia itu suka berbuat onar. Berantem saja kerjanya,” ucap ayah Reza dengan kesal lalu melangkah masuk ke dalam. Sang istri pun hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah anak dan suaminya.


Sementara Reza sendiri sudah sampai di depan rumah Lila. Sama seperti malam sebelumnya, ia pergi tepat ke depan jendela kamar Lila. Ia tersenyum menyeringai melihat jendela itu. Tanpa buang waktu, tangannya pun terulur mengetuk jendela kamar itu.


Tok tok tok.


Reza tersenyum sinis. Sebentar lagi Lila pasti akan ketakutan pikirnya. Ia menunggu sekejap tapi tak mendengar suara apapun dari dalam.


Apa dia sudah tidur? Batin Reza.

__ADS_1


Tok tok tok.


Reza mengetuk dengan lebih keras. Kalau Lila tidur, ia harus bisa membangunkannya.


Masih belum ada suara apapun dari dalam. Reza merasa aneh. Ia pun kembali ke depan dan mengetuk pintu depan rumah Lila.


Tok tok tok tok.


Ketukan di pintu terdengar sangat keras dan lebih lama. Reza mengetuk pintu dengan emosi.


“Si-al! Kemana dia?”


Reza pun mengetuk kembali pintu itu. Kemudian ia menempelkan telinganya di dekat pintu agar dapat mendengar dengan jelas apa yang terjadi di dalam rumah. Bisa saja Lila sengaja tak bersuara, pikir Reza. Atau mungkin Lila sedang berdiam diri dalam ketakutan? Ya, Reza tentu sangat mengharapkan hal itu.


“Akh, si-al! Dia pasti tidak ada di rumah! Beraninya kau mempermainkanku, Lila!” Reza tampak menggeram. Ia mendendang pintu rumah Lila sehingga pintu kayu itu bergegar.


“Sepertinya aku tau dia ada dimana.”


Reza pun segera berbalik meninggalkan rumah Lila. Satu-satunya rumah yang dapat menampung Lila saat ini tentu saja rumah Paman Hardi. Pria itu pun segera pergi kesana.


Ia tentu tak masuk ke dalam. Ia hanya mengintip saja dari luar. Ia mencoba menajamkan pendengaran dan berhasil mendengar tawa renyah Lila dari dalam rumah. Oh, dia sungguh tergila-gila pada gadis itu! Mendengar tawa Lila saja bisa membuat hatinya sejuk.


“Hahaha...gigimu belepotan coklat. Jorok sekali,” ejek Lila pada Ferdi.

__ADS_1


Mereka sedang asik memakan coklat pemberian Biru.


“Coklatnya enak sekali, Kak. Aku suka. Minta Kak Biru bawa lagi ya kalau kesini,” seru Ferdi dengan bahagia.


“Ferdi, tidak baik seperti itu. Tidak boleh meminta-minta. Kalau dikasih, itu berarti rejeki, tapi kalau tidak dikasih ya sudah, jangan minta-minta. Tangan di atas lebih baik daripada.....”


“Tangan di bawah,” jawab Ferdi dan Lila bersamaan saat Bibi Fatma menasehati mereka.


Mereka kembali tertawa bersama. Sementara Reza di luar malah terbakar cemburu saat mendengar Lila sedang memakan coklat pemberian Biru. Rahangnya tampak mengeras. Ia tak suka Lila menerima pemberian dari Biru.


Ternyata benar. Yang datang tadi adalah orang suruhan pria itu. Apa jangan-jangan benar kalau Lila adalah calon istrinya? Reza kembali mengingat kejadian di pasar saat Biru mengatakan bahwa Lila adalah calon istrinya.


Tapi rasanya tidak mungkin. Kenapa dia memilih Lila sebagai istrinya? Aku rasa masih banyak wanita lain di kota yang bisa dia jadikan istri.


Akh, masa bodoh! Aku tidak peduli dengan urusannya. Yang jelas aku harus cari cara agar dapat mendekati Lila. Lila sekarang malah bersembunyi di rumah Paman Hardi. Dia sepertinya mencari perlindungan disini. Ini tidak boleh dibiarkan. Aku harus segera mendapatkannya!


Dengan kesal Reza pun pulang dari rumah itu. Ia sangat kesal karena rencananya malam ini gagal. Ternyata Lila lebih pintar dari yang ia bayangkan. Gadis itu mencari tempat perlindungan baru.


Mendengar ada langkah kaki orang berjalan membuat Paman Hardi pergi keluar untuk memeriksanya. Pria paruh baya itu melihat dari teras ada sosok pria yang baru saja meninggalkan kawasan rumahnya.


Meski hanya melihat belakangnya saja, tapi Paman Hardi dapat mengenal siapa pria itu. Itu pasti Reza yang mencari Lila. Muncul kekhawatiran dalam diri Paman Hardi. Sepertinya Reza tak akan berhenti mengganggu Lila sampai ia mendapatkan apa yang ia inginkan dari gadis itu.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2