
Biru terus memeluk gadis mungil itu. Ia mengusap-usap punggung Lila yang bergerak-gerak karena menangis sesenggukan. Ia menunggu Lila agak tenang baru ia kembali bertanya tentang apa yang menyebabkan Lila jadi sekacau ini.
“Kau jahat, Bi!” Lila masih terisak, tapi tangisnya mulai mereda. Ia memukul dada bidang milik Biru.
“Kenapa kau baru datang sekarang? Apa kau sama sekali tidak mengingatku lagi? Kau kan tau aku tinggal sendirian. Kau tega meninggalkanku dan tak kembali lagi kesini begitu lama,” kesal Lila. Ia kesal Biru baru datang setelah Reza beberapa kali datang mengancamnya.
Biru melerai pelukannya. Ia menatap wajah gadis di depannya yang tampak sembab. Matanya bahkan terlihat bengkak. Bukannya Biru tak sedih melihat kondisi Lila seperti sekarang ini. Ia tentu sangat sedih dan kesal kenapa ia baru datang sekarang. Tapi itu semua karena ada urusan di kota yang harus ia selesaikan.
Biru tampak menyeka airmata Lila yang tersisa di pipinya. Lalu ia mengecup kening Lila dengan lembut dan penuh kehangatan. Ia pun kembali menatap Lila.
“Maafkan aku, Lila. Maafkan aku baru datang kesini menjemputmu. Ada beberapa urusan di kota yang harus aku selesaikan. Itu yang membuatku lama datang menjemputmu. Tapi asal kau tau, aku tak pernah sedetikpun melupakanmu, Lila. Aku selalu mengingat semua tentang dirimu, tentang kebaikanmu, tentang kenangan kita waktu aku masih di desa dulu. Aku masih ingat semuanya dengan jelas. Mana mungkin aku melupakan gadis penyelamatku ini.”
Biru mencoba memberi penjelasan pada Lila. Tangannya terulur merapikan rambut Lila yang berantakan.
“Sekarang, coba ceritakan padaku apa yang membuatmu menangis seperti ini? Dan pakaianmu...” Biru berusaha menutup kembali baju Lila yang ro-bek. “Kenapa pakaianmu jadi seperti ini?”
Kening Biru tampak berkerut. Jantungnya mendadak berdenyut. Ia sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada Lila sebelum ia sampai ke rumah itu.
“Ini....ini ulah Reza,” jawab Lila sambil menunduk. Gadis itu kembali sesenggukan.
“Kemarin dia datang kesini dan hampir memperko-saku. Dia memintaku menikah dengannya tapi aku tidak mau, Bi.”
Lila kembali menangis lalu Biru dengan cepat memeluk gadis itu lagi. Rahang Biru mendadak mengeras. Ia sangat geram dengan Reza. Pria itu sangat nekat. Bukan hanya sudah memukulinya tapi ia juga berani hampir menyentuh Lila.
Tunggu pembalasanku, Reza! Kau sepertinya harus ku beri pelajaran! Umpat Biru dalam hati.
“Maafkan aku baru sekarang datang menjemputmu. Sekarang, ayo bersiap-siap! Aku akan membawamu ke kota bersamaku,” ajak Biru kemudian.
“Kau serius?” tanya Lila saat melepaskan pelukannya.
Biru mengangguk. “Tentu saja. Kita akan tinggal di kota. Kau tidak akan sendirian lagi. Aku janji.”
Lila mengerutkan keningnya. “Tapi bagaimana dengan tunanganmu? Apa dia tidak akan marah padaku?” tanya Lila dengan polosnya.
Biru menarik sudut bibirnya lalu mengecup kening Lila sekali lagi. “Aku sudah memutuskannya. Karena aku hanya ingin hidup bersamamu, gadis penyelamatku.”
“Ap-apa? Kau....aku....”
“Sudah, jangan terlalu dipikirkan soal itu. Sekarang sebaiknya kau mandi dan bersiap-siap dulu. Setelah itu kita akan pergi ke kota. Pakai pakaian yang pernah aku berikan padamu. Oke?”
Lila pun mengangguk dengan patuh. “Baiklah.”
Biru membantu Lila berdiri. Ia bahkan ikut mengantar Lila sampai ke depan pintu kamar mandi. Baru saja Lila menutup pintu kamar mandi, Jay sudah datang mencari Biru.
__ADS_1
“Ada yang mencari Lila di depan, Tuan,” bisik Jay.
Biru mengangguk. Mereka pun pergi ke depan untuk melihat siapa yang datang.
Begitu melihat wajah Reza berdiri dengan angkuhnya, tanpa bicara separuh katapun, Biru langsung melayangkan pukulan ke wajah Reza.
Bugh.
Reza pun terhuyung ke belakang. Kedua teman Reza yang ikut menemaninya tentu tak tinggal diam. Mereka ingin ikut membalas Biru, tapi kedua bodyguard Biru dengan cepat menahan mereka.
Biru masih belum puas. Wajah Lila yang penuh ketakutan dan kesedihan kembali muncul di kepalanya. Ia kembali menghajar Reza. Ia langsung memukul dan menen-dang pria itu berkali-kali tanpa ampun.
Saat Reza sudah tergeletak di tanah, ia langsung mengin-jak dada pria itu.
“Kau berani macam-macam dengan Lila, padahal aku sudah bilang kalau Lila adalah calon istriku! Dasar breng-sek!” Biru kembali menen-dang Reza sampai pria itu terbatuk-batuk.
“Hanya segini kekuatanmu, hah?! Aku ingat dulu kau sangat sok jagoan sekali! Kau bahkan berani mengancam, Lila. Sekarang tunjukkan padaku mana kekuatanmu!” Sekali lagi Biru menendang pria itu.
Mendengar ada keributan, beberapa warga datang berkumpul. Mereka terkejut melihat Reza yang sudah tak berdaya setelah dipukul oleh Biru.
“Ada apa ini? Kenapa main hakim sendiri? Anda siapa? Kenapa anda tiba-tiba memukul warga desa ini?” tanya salah satu warga yang merupakan ketua RT disana.
“Mereka orang kota, mereka tiba-tiba menyerang Reza, Pak,” jawab salah satu teman Reza.
Biru memberi kode pada anak buahnya untuk melepaskan teman-teman Reza. Reza pun dibantu untuk berdiri.
“Aku adalah calon suami Lila. Aku akan menikahinya hari ini,” ucap Reza meski kondisinya masih belum kuat berdiri. Kedua temannya yang membantu memapahnya di kiri dan kanan.
“Berhentilah bermimpi! Lila tidak akan pernah menjadi istrimu. Asal bapak-bapak sekalian tau, pria ini adalah pria yang pernah mengeroyoki saya bersama teman-temannya. Dia juga bahkan datang mengancam Lila dan hampir memper-kosa Lila kemarin,” ungkap Biru sambil menunjuk ke arah Reza.
“Dia berbohong!” sangkal Reza.
“Biru tidak berbohong!” teriak Lila dari depan pintu. Gadis itu tampak sudah bersiap dengan pakaian yang Biru berikan padanya.
Lila pun mendekat ke arah Biru sambil menatap Reza dengan penuh benci.
“Dia memang melakukan hal itu! Dia bahkan sudah berkali-kali mengancamku! Bahkan dia juga yang sudah menabrak Paman Hardi. Dia yang mengakuinya padaku. Dia sengaja mencelakai Paman Hardi agar tidak ada lagi orang yang bisa melindungiku. Dengan begitu dia bisa lebih mudah memaksaku untuk menikah dengannya. Dasar laki-laki baji-ngan!” maki Lila dengan kesal.
Biru langsung merangkul bahu Lila agar gadis itu kembali tenang. Lila tampak begitu emosi melihat wajah Reza.
“Semua aku lakukan demi kau, Lila!” ucap Reza.
“Dan itu membuatku membencimu dan jijik padamu! Jadi sebaiknya kau ditangkap dan diadili! Kau sudah mencelakai Paman Hardi,” ucap Lila dengan emosi.
__ADS_1
“Benar begitu Reza? Kami tidak sangka kau sampai nekat mencelakai orang lain. Kalau begitu kau harus dibawa ke balai desa. Kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu! Bawa dia ke Balai desa!” titah ketua RT.
“Tidak! Aku tidak mau! Aku akan menikah dengan Lila hari ini,” tolak Reza.
“Bawa paksa dia!”
Reza yang sudah tak berdaya tentu tak dapat menolak. Ia dibawa paksa oleh warga lain untuk diadili di Balai desa. Bahkan teman-teman Reza juga tak mampu membantu karena dalam hal ini Reza memang bersalah.
“Lila.....aku mencintaimu, Lila. Kau harus menikah denganku!” teriak Reza saat dibawa oleh warga.
“Dasar pria gila!” Umpat Biru.
Lalu ia beralih menatap Lila. Gadis itu tampak jauh lebih cantik dengan pakaian yang ia berikan.
“Lila, kau siap ke kota sekarang?” tanya Biru.
Lila mengangguk dengan yakin. “Aku siap, yang penting aku selalu bersamamu.”
Biru pun langsung memeluk Lila sekilas. Tak peduli Jay dan kedua bodyguard nya melihat mereka.
“Kalau begitu kita berangkat sekarang.”
***
Dalam perjalanan Lila tampak disuapi Biru makanan yang ia bawa untuk bekal perjalanannya. Gadis itu sehari semalam tak makan. Lila makan dengan lahap karena disuapi Biru. Segala ketakutan dan kesedihannya telah hilang dengan datangnya Biru di sisinya.
“Aku juga membawakan coklat untukmu,” ucap Biru.
“Aku mau. Apa sama coklatnya dengan yang pernah kau berikan padaku dulu?” tanya Lila.
“Ini lebih enak.”
“Mau, mau, mau,” ucap Lila sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
“Iya, nanti setelah makanan ini habis. Kau habiskan dulu makanan yang ini supaya perutmu terisi,” jawab Biru lalu menyuapkan lagi makanan ke mulut Lila. Lila tampak mengangguk mematuhi perkataan Biru.
Jay yang melihat kemesraan mereka dari kaca spion, ikut merasa bahagia. Baru kali ini Biru tampak begitu perhatian terhadap seorang wanita. Bahkan waktu bersama Luna ia tak pernah memanjakan wanita itu sampai sebegitunya. Tapi dengan Lila, ia rela berbuat apa saja.
“Jangan kebanyakan senyum-senyum sendiri, Jay! Fokus dengan jalanan di depan,” sindir Biru yang tau Jay sedang melihat mereka.
Jay pun terkekeh. “Siap, Tuan.”
.
__ADS_1
Bersambung...