Gadis Penyelamat Tuan Biru

Gadis Penyelamat Tuan Biru
55. Pengakuan Luna


__ADS_3

Hari ini Biru benar-benar memanjakan Lila. Mulai dari mengantarnya mendaftar kursus, menjenguk Paman Hardi, setelah itu pergi ke mall untuk membelikan Lila laptop keluaran terbaru. Lila tak hentinya merasa beruntung memiliki kekasih seperti Biru.


Pulang dari membeli laptop, Biru mengajaknya singgah ke sebuah restoran seafood untuk makan malam. Meskipun lelah, tapi rasanya sangat menyenangkan jika bjsa beraktivitas sepanjang hari bersama orang yang kita sayangi.


“Aku sampai bingung mau bilang apa padamu. Rasanya kalau aku mengucapkan terima kasih lagi, kau pasti bosan mendengarnya,” ucap Lila saat mereka sedang berada di restoran.


“Aku juga tidak mengharap ucapan terima kasih terus menerus darimu, Sayang. Cukup ini saja,” jawab Biru sambil menunjuk pipinya.


Lila memutar malas bola matanya lalu menju-lurkan li-dahnya. Biru senang sekali meminta imbalan berupa ciuman darinya.


“Tidak, ah. Yang lain saja, jangan itu terus. Nanti saja kalau kita sudah menikah, baru boleh minta itu setiap hari,” ucap Lila dengan ekspresi malu-malu. Tingkahnya terlihat begitu menggemaskan di mata Biru.


“Kalau minta imbalan lain memangnya boleh?” tanya Biru mulai mencari akal.


“Apa dulu yang kau mau?” Lila balik bertanya. Keseringan diisengi oleh Biru membuatnya lebih hati-hati sekarang.


“Hmmm pijit badanku saja. Boleh? Badanku rasanya pegal-pegal. Daripada aku pi-jat di salon dengan mba-mba salon yang cantik, lebih baik kau saja yang memijatku,” jawab Biru sambil memanas-manasi Lila agar cemburu. Dengan begitu Lila akan menyetujui keinginannya.


“Ih, kenapa harus ke salon pi-jat segala? Biar aku saja yang memijatmu kalau begitu.”


Tuh kan, ide Biru berhasil. Dalam hati ia pun tertawa senang. Kekasihnya yang polos ini mudah sekali ia pancing rasa cemburunya.


“Baiklah, kalau begitu pulang ke apartemen nanti kau pi-jat aku, ya,” tagih Biru.


“Iya, tenang saja. Aku tidak akan ingkar janji,” jawab Lila.


“Bagus kalau begitu. Ya sudah, makan yang banyak ya Sayang, biar ada tenaga saat memijatku nanti,” ucap Biru sambil tersenyum penuh arti.


Lila pun mengangguk lalu melanjutkan makannya dengan sangat lahap. Ia juga merasa sangat lapar setelah seharian beraktivitas kesana kemari.

__ADS_1


Setelah selesai makan malam, mereka pun segera pulang ke apartemen. Namun siapa sangka, di depan pintu apartemen mereka sudah ada seorang wanita yang menunggu kepulangan mereka dari tadi.


“Luna?” Biru terkejut begitu melihat Luna berada di depan pintu apartemennya.


Biru menoleh ke arah Lila. Gadis itu juga sama terkejut sepertinya. Tak hanya terkejut, Lila juga tampak tak suka dengan kehadiran Luna disana. Lila khawatir wanita itu akan mengganggu hubungan mereka lagi saat ini.


“Apa yang kau lakukan disini? Kita tidak ada janji temu sebelumnya bukan?” tanya Biru. Ia tak mau Lila salah paham nantinya.


“Aku memang datang kesini atas keinginanku sendiri. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan pada kalian berdua,” jawab Luna yang semakin membuat tanda tanya besar di kepala Biru dan Lila. Apalagi wanita itu tidak terlihat emosi atau arogan seperti biasa.


“Bicara apa? Katakan saja sekarang!” desak Biru.


“Bisakah kita bicara di dalam saja? Tidak perlu khawatir, aku tidak akan mengganggu kalian. Setelah mengatakan semuanya, aku akan pergi dengan cepat,” pinta Luna.


Biru dan Lila saling pandang. Sebenarnya Biru tampak enggan mengijinkan Luna masuk ke dalam apartemennya. Jujur, Biru khawatir Luna akan mengacau hubungannya dan Lila. Namun, Lila dapat membaca raut kegelisahan di wajah Luna. Rasanya wanita itu ingin mengatakan sesuatu yang penting. Ia pun membujuk Biru untuk memperbolehkan Luna masuk ke dalam.


Kalau Lila yang sudah meminta, mana mungkin Biru akan menolaknya. Meski dengan berat hagi, Biru tetap membuka pintu apartemen dan mengijinkan Luna masuk ke dalam.


“Tidak perlu. Aku hanya sebentar saja. Bisa kita bicara sekarang?” tanya Luna.


Lila menoleh pada Biru, lalu pria itu mengangguk. Barang belanjaan mereka hanya mereka taruh di dekat samping meja saja.


“Sepertinya kau ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting. Kau terlihat terburu-buru dan sangat cemas sekali. Ada apa sebenarnya?” tanya Biru to the point.


“Ini tentang Bisma,” jawab Luna dengan cepat.


Biru mengerutkan dahinya. Ia tak mengerti mengapa tiba-tiba Luna menyebutkan nama sahabatnya itu.


“Bisma kenapa?” tanya Biru penasaran.

__ADS_1


“Apa kau ingat dengan kecelakaan mobil yang menimpamu beberapa bulan lalu?” tanya Luna yang diangguki oleh Biru. “Dia adalah penyebabnya. Dia sengaja merusak mesin mobilmu agar tidak berfungsi dengan baik saat itu,” lanjutnya.


Biru langsung melebarkan matanya. Bagaimana bisa sahabat baiknya melakukan hal seburuk itu padanya? Apa Luna sedang berkata benar atau hanya mengada-ngada saja?


“Apa maksudmu menjelek-jelekkan Bisma di depanku? Dia sahabatku, dia tidak mungkin seperti itu!” sanggah Biru.


“Di depanmu dia memang bersikap seperti seorang sahabat, tapi di belakangmu dia ingin menghancurkanmu, mengambil alih perusahaanmu, Biru. Percayalah padaku. Kau tau, aku bisa mengenalmu dan tau apa kesukaanmu juga semua karena dia yang memberitahuku. Dia yang memintaku menjadi kekasihmu lalu kita menikah dan aku meminta sekian persen saham perusahaan keluarga Adhitama padamu. Setelah itu, dia akan mengambil alih perusahaanmu. Itu rencananya,” ungkap Luna dengan jujur.


“Bagaimana mungkin dia bisa berbuat begitu? Apa sebabnya?” tanya Biru setengah tak percaya pada pengakuan Luna.


“Itu karena dia ingin membalaskan dendamnya. Sejak perusahaan Adhitama semakin maju, perusahaannya tersingkir, bangkrut dan ibunya sakit sampai tidak bisa berobat. Dia kesal pada keluarga kalian, untuk itu dia ingin membalasmu, Biru. Dan aku, aku selama ini diperalat olehnya untuk menghancurkanmu,” jelas Luna lagi.


“Lalu apa alasanmu sekarang berpaling haluan mengkhianati Bisma? Apa mungkin kau menginginkan sesuatu dari Biru?” tanya Lila dengan penuh curiga. Wajar saja ia curiga. Ia tak mau Luna malah mengambil simpati Biru atas pengakuannya ini.


“Aku tau apa yang ada di pikiranmu, Lila. Tapi aku tidak seperti itu. Aku sudah lelah menjadi jahat. Aku tidak mau terus menerus menjadi boneka Bisma lagi. Aku ingin keluar dari semua rencana jahatnya. Aku ingin hidup bebas,” jawab Luna dengan sungguh-sungguh. Terus menerus berada di bawah tekanan Bisma sungguh membuatnya merasa tersiksa. Sebab itu ia ingin mengakhiri semua ini.


Biru menghela nafas dengan berat. “Ini semua terasa mustahil, Luna. Aku masih belum bisa peecaya padamu sepenuhnya,” ucap Biru dengan jujur.


“Aku mengerti posisimu. Dia sahabatmu, tentu kau tidak akan langsung percaya dengan apa yang aku katakan. Tapi percayalah, aku tidak sedang berbohong padamu. Aku juga memberitahu kalian agar kalian lebih berhati-hati lagi padanya, terutama kau Lila.” Luna menatap serius pada gadis itu. “Kau adalah target Bisma selanjutnya.”


Lila jadi tak nyaman mendengar itu. Entah benar atau tidak yang Luna katakan, tapi yang jelas itu membuatnya was-was.


Luna melanjutkan, “Bisma sudah tau semua ceritamu dengan Lila. Bagaimana kau begitu mencintainya dan sangat melindunginya. Jadi sebaiknya, Lila harus berhati-hati lagi. Bisma akan terus mengincarmu sebagai orang yang paling dicintai Biru saat ini.”


Setelah mengatakan itu, Luna pun segera berdiri. “Aku harus pergi. Aku tidak bisa lama-lama disini. Yang jelas, aku sudah berkata jujur pada kalian. Aku harap kalian mempercayaiku dan segera menangani Bisma. Karena dengan begitu aku pun akan aman,” ucapnya lalu berpamitan pada Biru dan Lila.


Setelah kepergian Luna, baik Biru dan Lila jadi merasa cemas. Terutama Lila, dia belum lama tinggal di kota. Dia tidak tau bahaya apa saja yang bisa mengintainya. Sementata Biru masih sulit percaya dengan apa yang diungkapkan oleh Luna tadi, karena selama ini Bisma selalu berlaku baik padanya dan tak pernah menjnjukkan ketidak sukaannya pada Biru.


“Bi, apa yang Luna katakan tadi benar? Menurutmu bagaimana?” tanya Lila dengan perasaan cemas.

__ADS_1


Biru lalu merangkul bahu Lila agar kekasihnya itu bersandar di dadanya. “Aku akan selidiki dulu soal itu, Sayang. Kau jangan khawatir. Tidak perlu cemas, aku akan selalu melindungimu,” ucap Biru yang sedang berusaha menenangkan Lila agar gadis itu tidak ketakutan.


__ADS_2