Gadis Penyelamat Tuan Biru

Gadis Penyelamat Tuan Biru
26. Pergi Ke Desa


__ADS_3

Sesuai dengan perintah Biru, Jay langsung menyiapkan apa yang bosnya itu minta. Mulai dari kebutuhan pokok, pakaian dan barang-barang lain untuk Lila. Semua sudah dicatat dengan baik oleh Jay. Dapat dipastikan tak ada satupun barang yang akan terlewatkan.


Jay bahkan mengambil foto satu per satu barang yang akan ia bawa besok ke desa. Setelah itu ia akan mengirimkannya pada Biru sebagai laporan agar bosnya merasa puas akan pekerjaan yang telah ia lakukan.


Keesokan harinya, Jay berangkat pagi-pagi sekali ke desa. Ia tidak berangkat sendiri melainkan dengan mobil lain yang membawa kebutuhan pokok untuk Lila dan juga Paman Hardi. Dari jam empat subuh mereka sudah berangkat dari kota menuju ke desa. Jay sudah mengantongi alamat lengkap dari Biru.


Biru bahkan menjelaskan dengan detail dimana rumah Lila jika ia nanti sampai di lapangan besar di desa itu. Tinggal bagaimana nanti Jay saja mengikuti petunjuk dari Biru. Kalau untuk berkomunikasi via handphone sepertinya akan sedikit sulit sebab tidak akan ada signal disana. Penduduk disana bahkan jarang ada yang memiliki handphone.


Dengan penuh semangat, perjalanan pun dimulai. Jay menyusuri jalanan subuh yang masih sepi dan sejuk. Perjalanan mungkin akan memakan waktu hingga enam jam lamanya untuk sampai ke desa.


***


Sementara itu Lila yang berada di dalam rumahnya tidak berani keluar kemana-mana. Ia masih trauma dengan kedatangan Reza tadi malam ke rumahnya. Ingin mengadu pada Paman Hardi dan Bibi Fatma, tapi ia sendiri tidak tau apakah mereka sudah pulang atau belum. Makanya Lila memutuskan untuk berdiam diri saja di dalam rumah. Ia bahkan tidak membuka pintu dan jendela rumahnya. Semuanya masih tertutup rapat.


“Mending aku masak saja untuk makan hari ini,” ucap Lila pada dirinya sendiri.


Lila pun ke dapur untuk memasak makanannya hari ini. Ketika membuka tempat beras, ternyata beras itu sudah habis. Ia lupa membelinya lagi.


“Ck, malang sekali nasibku. Aku makan apa kalau begini,” keluh Lila sambil menatap tempat beras yang kosong.

__ADS_1


Ia kembali membuka persediaan makanannya. Hanya ada sayuran saja disana. Dengan lemah Lila duduk di kursi makannya lalu melihat ada mangga disana.


“Huft, ya sudahlah. Aku makan mangga saja untuk mengganjal perut.”


Lila pun sarapan pagi dengan mangga miliknya. Sambil makan ia sesekali melihat ke arah depan rumahnya. Berharap Reza tak akan datang lagi mengganggunya.


Baru saja berpikiran tentang Reza, pintu rumahnya tiba-tiba diketuk dengan kuat. Lila pun berjingkit ketakutan.


Tok tok tok.


Pintu kembali diketuk dengan kuat.


Wajah Lila tampak pucat. Ia mulai ketakutan lagi. Ia segera mengambil pi-sau yang ia gunakan barusan untuk mengupas mangga. Ia memegangnya dengan erat untuk melindungi dirinya jika Reza berani berbuat macam-macam padanya.


“Lila....apa kau di rumah?”


Mata Lila membesar. Ia tau itu suara Bibi Fatma. Ia meletakkan pi-sau itu di atas meja, lalu dengan cepat ia berlari ke depan untuk membukakan pintu.


“Bibi....” Lila berhamburan memeluk Bibi Fatma dengan kuat.

__ADS_1


“Hei, hei, kau ini kenapa? Seperti orang dikejar se-tan saja. Ada apa denganmu, Lila?” tanya Bibi Fatma khawatir. Tak biasanya Lila seperti itu. Wajahnya juga tampak sangat pucat.


Lila pun melerai pelukannya. “Iya, Bi. Memang ada se-tan berwujud manusia yang datang ke rumahku dan menakuti ku semalam," jawab Lila dengan serius.


“Kau serius?” Bibi Fatma tampak panik.


“Iya, Bi. Se-tannya Reza. Dia datang menakutiku. Aku mau ke rumah Bibi tapi tidak ada orang disana. Aku takut sekali, Bi. Dia mengancam akan datang lagi.” Lila mengadu semuanya.


“Bibi pergi ke desa sebelah untuk bertemu adik Bibi. Ya sudah, kalau begitu kau ikut ke rumah Bibi saja. Ceritakan semua pada Paman Hardi mu juga. Biar Paman bisa membantumu.”


Lila mengangguk setuju. “Iya, Bi. Ayo kita pergi sekarang sebelum dia datang. Sekalian aku numpang makan ya, Bi. Aku mau masak tapi berasku habis. Mau belanja tapi takut dikejar sama Reza.” Lila sebenarnya malu mengatakan itu tapi perutnya memang sudah lapar sekali.


Lila terlihat menyedihkan sekali di mata Bibi Fatma. Wanita itu mengusap kepala Lila dengan penuh kasih sayang. “Ya sudah, ayo ke rumah Bibi. Bibi punya makanan untukmu.”


“Bibi memang yang terbaik!” seru Lila sambil menggandeng tangan Bibi Fatma.


Mereka segera meninggalkan rumah Lila dan pergi ke rumah Bibi Fatma. Sepanjang jalan ia tak melepas gandengannya pada Bibi Fatma.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2