
Lila berulang kali menggelengkan kepalanya. Ia menolak dengan keras apa yang Reza lakukan saat ini padanya. Tapi untuk melawan, tentunya akan sulit bagi Lila. Kekuatannya tak sebanding dengan Reza yang bertubuh tinggi dan memiliki tenaga lebih kuat darinya.
“Aku sudah terlalu lama bersabar, Sayang. Makin hari aku semakin tergila-gila padamu. Aku benar-benar sudah tidak tahan untuk memilikimu,” ucap Reza tepat di telinga Lila.
Lila bertambah jijik. Ia berusaha menarik tangannya yang dicekal oleh Reza tapi tetap saja ia tak mampu. Pria itu semakin lama semakin bertambah naf-sunya.
“Aku mohon padamu, Reza. Aku mohon, jangan begini! Jangan apa-apakan aku...” pinta Lila dengan memelas. Bahkan suaranya sudah terdengar serak karena terus berteriak menolak Reza dan terus menangis.
Ia tetap melakukan penolakan dan perlawanan demi menjaga kehormatan dirinya meskipun hanya mampu berteriak dan meminta belas kasihan dari Reza. Tapi pria yang pikirannya sudah tertutup kabut gai-rah itu tak sedikitpun mempedulikan teriakan Lila.
“Baru sekarang kau memohon padaku?” Reza tersenyum sinis. “Kemana saja kau selama ini saat aku memintamu menjadi istriku secara baik-baik? Kau mengabaikanku. Kau tidak mempedulikan aku. Maka sekarang, jangan salahkan aku lagi. Aku terlalu mencintaimu, Lila. Aku terlalu mencintaimu sampai aku ingin memilikimu seutuhnya. Dan aku rasa ini adalah saat yang tepat, Sayang. Kita akan bersenang-senang, setelah itu kau akan menjadi milikku selamanya.”
“Tidaaaakkkk! Aku tidak mauuuu!” tolak Lila dengan tegas.
“Aku tidak peduli!” bentak Reza. “Kau akan tetap menjadi milikku!”
Sreeeekkkk!
“Jangaaaaaannnnnn!” teriak Lila.
Reza menarik baju Lila dengan paksa sehingga menampakkan tubuh bagian atasnya. Melihat itu, Reza semakin menggila. Ia makin tak sabar ingin menyentuh gadis itu.
“Kau benar-benar cantik, Lila,” puji Reza yang menatap Lila dengan penuh naf-su.
Lila terus berpikir bagaimana caranya agar dia bisa lari dari pria itu. Demi apapun, dia tak pernah sudi kalau tubuhnya disentuh oleh pria breng-sek itu.
__ADS_1
Reza kembali mendekat. Ia berusaha mencium Lila, tapi gadis itu dengan cepat nenghindar. Reza bertambah geram. Ia dengan cepat membuka baju kaos yang ia pakai. Kesempatan itu digunakan Lila untuk menendang aset berharga milik Reza dengan kuat.
“Akkhhhh....Lila......sia-lan kau!” Reza menggeram sambil memegang miliknya.
Sementara Lila segera bangkit dan mengambil sebuah gun-ting yang ia simpan di laci kamarnya. Reza pun dengan cepat bangun hendak mengejarnya. Tapi saat Reza mau mendekat, Lila segera mengancungkan gun-ting itu pada Reza.
Reza tersenyum sinis dengan satu tangannya yang masih memegang asetnya. “Kau mau mengancamku dengan itu? Hah? Kau mau melukaiku? Lakukan kalau kau berani!” tantang Reza.
Lila menggeleng. “Aku lebih baik mati daripada harus disentuh olehmu,” ucap Lila dengan serius.
Reza sempat terkejut. Ternyata Lila mengancam untuk bu-nuh diri dengan gun-ting itu.
“Jangan bodoh, Lila! Singkirkan gun-ting itu!” titah Reza.
“Tidak!” bantah Lila dengan cepat. “Kalau kau masih tidak mau pergi, lebih baik aku mati sekarang juga!” teriak Lila yang sudah putus asa. Ia kembali menangis. Sudah tak ada jalan lain lagi baginya untuk menghindari dari Reza.
“Oke, baiklah. Kalau kau mau bu-nuh diri, lakukan saja! Setelah itu aku akan mengantarkan Paman Hardi, Bibi Fatma dan anaknya Ferdi ikut menyusulmu. Biar kau bisa berkumpul dengan mereka di alam lain,” ucap Reza dengan nada mencemooh.
Lila tercengang, kenapa harus keluarga Paman Hardi yang jadi sasaran kemarahan Reza? Ia jadi teringat kasus penabrakan Paman Hardi. Apa mungkin memang Reza yang melakukan itu?
“Jangan bilang kau yang menabrak Paman Hardi,” tebak Lila.
Reza langsung mengangguk. “Tentu saja aku. Siapa lagi,” jawabnya enteng.
Ia melipat kedua tangannya di dada sambil menatap Lila. “Dan kalau kau berani melawanku lagi sekarang, akan aku pastikan keluarga mereka akan celaka,” ancam Reza.
__ADS_1
“Kau gila!” teriak Lila dengan kesal.
“Ya, aku memang gila! Aku hanya menginginkanmu menjadi istriku. Apa susahnya? Sekarang keputusan ada di tanganmu. Menikah denganku atau ku habisi juga nyawa mereka!”
Lila mendadak gemetar. Ancaman Reza sepertinya tak main-main. Melihat Lila mulai ketakutan, Reza dengan cepat menepis gun-ting di tangan Lila lalu menyudutkan gadis itu ke dinding. Satu tangannya mencengkram leher Lila.
“Kau tidak akan mampu melawanku, Sayang. Sekarang aku akan melepaskanmu, tapi berjanjilah padaku untuk bersedia menikah denganku besok. Kalau kau tidak mau, aku renggut kesucianmu saat ini juga!” ancam Reza tepat di depan wajah Lila.
Lila semakin ketakutan. Tampak butiran bening kembali mengalir dari sudut matanya. Hatinya menolak dengan keras. Ia tak mau menikahi pria itu. Tapi saat ini, ia sudah lemah dan tak bisa melawan apa-apa. Belum lagi ancaman yang Reza berikan untuk menyakiti keluarga Paman Hardi, membuat Lila akhirnya mengangguk dengan pasrah. Ia terpaksa setuju menikah dengan pria itu.
Reza tersenyum melihat Lila mengangguk lalu melepaskan cengkramannya. Ia mengusap pipi Lila dengan lembut. “Akhirnya kau setuju juga. Ingat, jangan coba lari dariku karena aku pasti akan menemukanmu! Bersiap-siaplah untuk besok karena kita harus menikah, tidak boleh gagal lagi.”
Lila sudah tak berani melawan. Ia hanya mengangguk dengan airmata yang tak berhenti jatuh membasahi pipinya. Ia sangat ketakutan.
“Gadis yang manis. Kau sangat manis kalau menurut seperti ini, Sayang,” ucap Reza lalu mengusap rambut Lila dengan lembut.
Setelah itu Reza kembali mengambil bajunya dan memakainya seperti semula. “Ingat! Jangan mencoba lari! Besok pagi aku akan datang menjemputmu untuk menikahimu.”
Lila hanya diam di tempatnya sementara Reza langsung pergi meninggalkan rumah itu. Ia tak melanjutkan perbuatannya karena miliknya masih terasa sakit habis ditendang Lila. Tapi ia merasa puas karena Lila sudah setuju untuk menikah dengannya. Lila sudah tak bisa lari lagi, pikirnya. Ia pasti berhasil menikahi Lila besok. Ia harus menyiapkan semua kebutuhan untuk menikahi Lila hari ini juga, termasuk mengatakan hal ini pada orang tuanya.
Mendengar suara pintu depan rumahnya ditutup, Lila yakin Reza pasti sudah pergi.
Ia pun meluruh terduduk di lantai sambil terus menangis. Rasa takut dan sedih bercampur jadi satu. Kondisinya terlihat sangat kacau dengan rambut yang berantakan, mata yang sembab dan baju yang sudah sobek. Ia pun memegang erat liontin di kalung pemberian Biru yang masih berada di lehernya. Jauh di lubuk hatinya, ia masih berharap Biru akan datang menolongnya.
“Bi...kau dimana? Kenapa kau tidak datang menjemputku, Bi?” lirih Lila yang terdengar sangat memilukan.
__ADS_1
.
Bersambung....