
Jay meminta anak buahnya mengantar barang-barang untuk Paman Hardi. Bibi Fatma dan Ferdi ikut pulang ke rumah untuk menunjukkan jalan pada orang suruhan Jay tadi.
Sementara Jay sendiri tinggal di rumah Lila. Ia mau istirahat sebentar sebelum kembali lagi ke kota. Jay sudah membawa makanan siap saji untuk bekalnya. Ia memakan makanan itu di rumah Lila ditemani segelas teh hangat buatan Lila.
“Terimakasih, Nona. Tidak perlu repot-repot tadi. Air putih saja cukup,” ucap Jay saat Lila membawakan teh untuknya.
“Tidak repot, hanya teh saja. Maaf tidak menyiapkan apa-apa. Saya tidak menyangka akan kedatangan tamu dari kota,” jawab Lila.
“Santai saja, Nona. Bisa bertemu sama Nona saja sudah membuat saya senang. Jadi saya tidak susah-susah mencari Nona,” sahut Jay sambil makan. Pria itu tampak lapar sekali.
“Biru terlalu banyak memberi hadiah. Saya jadi sungkan.”
“Nona tidak penasaran apa isi dalam paper bag itu? Buka saja Nona. Nona pasti suka. Semua ini saya siapkan atas permintaan Tuan Biru?”
“Benarkah?”
“Iya, Nona. Buka saja.”
Lila pun membuka satu per satu paper bag yang ada di ruang tamu. Ia sampai sulit berkata-kata saat melihat ada banyak baju-baju bagus untuknya. “Ini semua untukku?”
“Ya masa buat saya, Nona,” seloroh Jay dengan mulut penuh makanan.
Lila membuka lagi paper bag yang lain. Ada juga vitamin, seperangkat alat makeup, parfum dan juga coklat. “Ada coklat juga,” seru Lila dengan senang.
“Coklat itu enak sekali, Nona. Coklat dari luar negeri. Cobalah. Rasanya enak. Kalau Nona ketagihan dengan coklat itu, minta saja Tuan Biru membawanya lagi kalau dia datang kesini.”
“Memangnya dia bilang mau datang kesini? Kapan?” tanya Lila dengan antusias.
Jay terkekeh. “Nona semangat sekali mendengar Tuan Biru mau datang kesini.”
Blussshhh.
Wajah Lila langsung memerah. Sudah dua kali ia terlihat sangat antusias saat mendengar Biru akan datang. Ah, kan jadi malu sendiri.
“Hmmm...saya hanya bertanya saja. Kalau dia datang, saya kan bisa menyiapkan sesuatu. Tidak mendadak seperti ini,” kata Lila berkilah.
__ADS_1
“Santai saja, Nona. Kalau Nona memang senang Tuan Biru mau datang kesini juga tidak masalah. Dia juga masih mengingat semua kebaikan Nona.”
“Benarkah?”
“Tuh kan semangat sekali kalau membicarakan Tuan Biru,” ledek Jay sambil terkekeh. Sepertinya Jay akan menceritakan hal ini pada Tuannya itu.
***
Sementara itu Reza baru saja mendapat kabar dari temannya bahwa ada orang dari kota yang datang untuk mencari Lila. Temannya juga mengatakan bahwa orang yang datang membawa dua mobil sekaligus.
Reza langsung panik. Ia khawatir yang datang adalah Biru. Bisa saja Biru datang untuk menjemput Lila ke kota.
Ia tentu tak mau hal itu terjadi. Ia pun segera pergi ke rumah Lila untuk memastikan sendiri siapa yang datang.
Reza yang sudah sampai di dekat rumah Lila dapat melihat ada dua mobil terparkir disana. Ia melihat ke arah teras, ada Lila sedang duduk bersama seorang pria, tapi itu bukan pria yang sama dengan kemarin. Ia tau itu bukan Biru.
Siapa pria itu? Apa dia suruhan pria kemarin? Untuk apa dia datang menemui Lila?
Kau sepertinya mengabaikan ancamanku, Lila. Sekarang kau malah menerima tamu lain dari kota. Aku rasa aku tidak bisa lagi mengulur waktu lebih lama untuk mendapatkanmu.
***
“Iya, karena banyak pepohonan disini,” sahut Lila.
“Tuan Biru kemarin pasti betah disini. Tempatnya sangat asri,” lanjut Jay.
Lila menggeleng. “Dia tidak betah disini. Fasilitas disini sangat terbatas, dia juga tidak punya pekerjaan apapun yang bisa dia lakukan.”
Lila mengingat kembali kenangan sewaktu Biru berada di rumahnya. Pria itu banyak mengeluh. Ia bahkan tak nyaman dengan tempat tidurnya yang tidak empuk. Mengingat itu, Lila tersenyum pahit.
“Kenapa Nona tidak mempekerjakan Tuan Biru mengelola kebun mangga Nona saja?” tanya Jay sambil terkekeh. Lila pun ikut tertawa. “Nona, jangan bilang pada Tuan Biru ya saya ngomong seperti ini, bisa-bisa saya dipecatnya,” lanjut Jay.
“Saya akan mengadukannya,” kata Lila menakuti Jay.
“Ah, Nona tidak asik. Tidak bisa diajak menggibah,” protes Jay sambil memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Lila pun tertawa melihat ekspresi Jay yang cemberut.
Saat memalingkan wajahnya, Jay tak sengaja melihat seorang pria yang sedang melihat ke arah mereka dari arah jalan. Pria itu menatap Lila dan Jay dengan ekspresi tidak suka.
“Nona, siapa pria itu? Sepertinya dia sedang melihat kesini. Apa Nona mengenalnya?” tanya Jay.
Lila mengikut arah pandang Jay dan melihat Reza sedang berdiri menatap mereka. Ia menatap tajam pada Lila lalu pergi meninggalkan tempat itu. Wajah Lila mendadak pucat, Jay pun bisa menangkap raut ketakutan dari wajah Lila.
“Nona, kau tidak apa-apa? Apa kau kenal pria tadi?” tanya Jay.
Lila tampak bingung menjawabnya. "Hmm...ya, aku kenal dia. Dia pria yang suka menggangguku,” jawab Lila jujur.
“Mengganggu bagaimana maksud Nona?” Jay penasaran. Gadis ini tinggal sendiri dan rumahnya jauh dari rumah warga lain. Tentu saja Jay tiba-tiba cemas padanya.
“Ah, tidak. Tidak masalah. Dia mengganggu biasa saja. Aku sudah memberitahu Paman Hardi kalau dia pernah menggangguku. Paman Hardi akan mengurusnya,” jawab Lila tak mau Jay khawatir.
“Nona yakin?”
“Iya, tidak perlu khawatir,” jawab Lila tapi raut wajah takutnya tak bisa berdusta.
Jay tentu tak percaya begitu saja. Sepertinya ia akan mengadukan hal ini pada Biru nanti.
Setelah merasa cukup beristirahat, Jay pun pamit pulang. Tapi sebelum itu ia sempat mengambil foto Lila terlebih dahulu. Ia akan mengirim foto itu pada Biru setelah sampai di kota karena di desa tidak ada signal sama sekali.
"Ayo, Nona. Tersenyum, ya. Tuan Biru pasti senang melihat foto Nona yang sedang tersenyum." Jay mengarahkan Lila untuk tersenyum.
Lila dengan malu-malu pun berusaha tersenyum hingga menampakkan deretan gigi putihnya. Jay pun segera mengambil beberapa kali foto Lila.
Setelah itu Jay sempat mengantar Lila ke rumah Paman Hardi dengan mobilnya sekalian berpamitan pada keluarga Paman Hardi. Barulah kemudian ia pergi meninggalkan desa itu untuk kembali ke kota.
Sebelum meninggalkan rumah Paman Hardi, lagi-lagi Jay melihat Reza sedang mengintip di balik pohon. Mata pria itu tampak tertuju pada Lila yang sedang melambaikan tangan padanya.
Jay merasa aneh melihat gelagat yang mencurigakan dari Reza. Ia yakin pria itu pasti memiliki niat buruk pada Lila. Ia harus mengabari Biru secepatnya.
.
__ADS_1
Bersambung...