
Jay kembali melanjutkan perjalanan ke kota. Sepertinya ia akan sampai di kota sekitar jam delapan malam. Sungguh perjalanan yang cukup melelahkan. Tubuhnya terasa pegal kebanyakan duduk untuk menyetir. Kalau tidak karena perintah Biru yang memintanya untuk pulang di hari yang sama, mungkin ia akan menginap dulu di desa. Ia suka dengan suasana desa yang sejuk dan nyaman.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya Jay pun sampai ke apartemennya jam delapan lebih lima belas menit. Sesuai dengan perkiraannya.
Ia tak langsung menghubungi Biru. Ia mandi dan berganti pakaian terlebih dahulu. Setelah itu ia juga makan malam dengan makanan yang sempat ia beli saat perjalanan pulang tadi.
Setelah selesai makan hingga perutnya kenyang barulah ia duduk di ruang nonton TV sambil mengirim pesan pada Biru. Pesan itu berisi semua foto-foto Lila yang ia ambil di desa tadi.
“Tuan Biru pasti senang melihat foto Nona Lila yang aku kirim padanya,” ujar Jay.
Ia meletakkan handphone-nya di atas meja setelah mengirimkan beberapa foto pada Biru. Kemudian ia bersandar pada sofa sambil menengadahkan kepalanya agar lebih rileks.
Drrttt drrrt drrttt drrrt.
Tak lama handphone Jay bergetar. “Tuan Biru pasti mau memuji hasil kerjaku. Aku kan memang asisten pintar.” Jay membanggakan dirinya sendiri. Ia pun segera menjawab panggilan Biru.
“Hallo, Tuan.”
“Jay, kau mau mati, ya?!”
Hah?
Jay terkejut. Suara Biru terdengar seperti orang yang sedang marah. Apa salahnya?
__ADS_1
“Tuan, ada apa Tuan? Kenapa Tuan tiba-tiba marah pada saya?” tanya Jay deg-degan.
“Kau masih bertanya? Berani sekali kau berselfie dengan Lila! Tadinya aku mau memberikanmu bonus. Tapi karena kau sudah berani berselfie dengan Lila, aku potong gajimu bulan depan 50 persen!”
“Apa?" Jay membelalak. "Tu-Tuan, jangan Tuan. Jangan 50 persen, Tuan. Mau makan apa saya Tuan kalau Tuan memotong gaji saya sampai 50 persen. Cicilan apartemen saja belum lunas, Tuan,” pinta Jay dengan memelas.
Ia dengan cepat memeriksa pesan yang ia kirimkan pada Biru tanpa mematikan panggilan itu. Ia pun mengutuk dirinya sendiri karena tak sengaja mengirim fotonya dengan Lila juga. Ia hanya iseng saja berfoto berdua, bukan ada tujuan apa-apa.
Di foto itu tampak Jay berada di depan kamera sambil tersenyum lebar. Di belakangnya ada Lila yang tersenyum malu-malu. Jelas saja Biru langsung kesal saat melihat foto mereka berdua. Biru mendadak iri. Dia saja tidak pernah berfoto berdua dengan gadis itu.
“Itu urusanmu! Kau sudah berani berfoto dengannya. Gajimu tetap aku potong!” ketus Biru.
“Tolonglah Tuan, jangan dipotong gaji saya. Kalau saya edit saja fotonya bagaimana? Wajah saya akan saya ganti dengan wajah Tuan. Mau?” tawar Jay. Mana tau dengan begitu gajinya tak jadi dipotong.
Bahu Jay tampak meluruh. Ia harus siap kehilangan gajinya 50 persen. Tapi kemudian ia teringat akan sesuatu. Ia teringat tentang pria yang tadi mengintai Lila.
Aha! Jay menjentikkan jarinya. Sepertinya Jay akan menukar informasi ini untuk menyelamatkan 50 persen gajinya.
“Tuan benar-benar mau memotong gaji saya? Padahal saya baru saja mau memberi berita penting pada Tuan. Ini ada hubungannya dengan Nona Lila,” ucap Jay.
“Ohhh, kau berani mengancamku?” suara Biru terdengar menggeram.
“Tidak, Tuan. Tidak. Ya sudahlah, saya akan beritahu informasi ini. Karena ini memang penting.” Jay akhirnya menyerah juga.
__ADS_1
“Tadi sewaktu saya berada di rumah Nona Lila, ada seorang pria yang mengintai kami berdua. Lebih tepatnya dia seperti memperhatikan Nona Lila, Tuan. Dan kata Nona Lila, pria itu suka mengganggunya. Waktu melihat pria itu, wajah Nona Lila tampak ketakutan,” lapor Jay.
“Lalu? Kau apakan pria itu? Apa kau tidak menghajarnya?” tanya Biru antusias. Ia yakin itu pasti Reza. Biru jadi sangat khawatir pada Lila sekarang.
“Kata Nona Lila, dia sudah mengadukan pada Paman Hardi. Biar Paman Hardi saja yang mengurus pria itu,” jawab Jay apa adanya.
Biru tampak menghembuskan nafas dengan kasar. Ia masih belum bisa tenang begitu saja. Ia tau bagaimana Reza yang sangat licik itu. Ia bahkan pernah dikeroyok oleh Reza dan teman-temannya.
“Tuan, hallo Tuan...” Jay tak mendengar suara apapun dari seberang sana.
“Ya hallo. Ya sudah, terimakasih informasimu. Aku sudah tau siapa pria itu,” sahut Biru.
“Baik, Tuan. Jadi, bagaimana dengan....”
Tut.
Biru langsung memutuskan panggilan begitu saja.
“Tuan...hallo Tuan...Tuan....” Jay melihat layar handphone-nya yang sudah tak tersambung lagi dengan Biru.
“Hiksss....tega sekali Tuan Biru. Gaji 50 persenku hangus begitu saja,” rengek Jay sambil memeluk handphone-nya.
.
__ADS_1
Bersambung...