
Ini yang tak Biru inginkan. Ia menyesal tak menjelaskan semuanya di awal pada Lila. Ia sendiri juga tak menyangka Luna akan datang mendadak ke rumahnya.
Biru menatap wajah Lila, gadis itu tampak kecewa. Biru dapat membaca ekspresi wajah Lila dengan baik.
“Lila,” Biru menggenggam tangan gadis itu. “Ayo kita ke atas dulu,” ajak Biru.
Ia tak mau membiarkan Luna berbicara yang bukan-bukan dulu pada Lila. Biarlah ia yang menjelaskan semuanya pelan-pelan. Ia khawatir Lila akan merasa tersudut dengan adanya Luna disana.
Lila pun hanya mengikuti Biru yang berdiri dari duduknya. Melihat mereka berdiri, Luna malah ikut berdiri. “Sayang, kau mau kemana? Aku baru saja datang. Masa kau langsung meninggalkanku begitu saja sih, Sayang?”
Luna dengan sengaja memanggil Biru dengan sebutan sayang. Ia semakin senang melihat gadis yang bersama Biru merasa terpojok.
“Aku ke atas sebentar. Nanti aku akan turun lagi,” jawab Biru.
“Kenapa buru-buru sekali? Kau juga belum mengenalkanku pada gadis itu. Dia siapa? Saudaramu?” tanya Luna pura-pura tidak tau.
“Biru, sebaiknya bawa Lila ke atas dulu. Baru selesaikan urusanmu dengan Luna.” Akhirnya ayah Biru juga yang ikut menengahi. Ayah Biru kasihan melihat wajah Lila yang cukup terkejut dengan kedatangan Luna.
__ADS_1
“Baik, Ayah,” ucap Biru sambil mengangguk. “Ayo Lila, kita ke atas.” Biru semakin erat menggenggam tangan Lila. Ia menuntun gadis itu hingga ke lantai dua rumahnya. Ia terus menarik tangan Lila sampai masuk ke kamarnya.
Sementara Luna tak berani membantah apa-apa kalau ayah Biru sudah bersuara. Ia hanya diam dan kembali duduk meski ia sangat geram karena Biru lebih memilih gadis itu ketimbang dirinya. Agar suasana tidak canggung, Luna pura-pura mengajak ibunya Biru untuk mengobrol.
Di kamar Biru sendiri, Biru mengajak Lila untuk duduk di pinggir tempat tidurnya. Sangat empuk dan nyaman, itu yang Lila rasakan saat duduk di atas spring bed mahal itu. Pantas saja Biru tak nyaman tidur di rumahnya.
“Ini kamarku, Sayang. Nantinya akan jadi kamar kita kalau kita sudah menikah nanti,” ucap Biru membuka pembicaraan.
Lila hanya senyum seadanya menanggapi Biru. Hatinya masih terasa sesak saat tau wanita di bawah tadi adalah tunangannya Biru. Kalau Lila mendadak minder, tentu wajar bukan? Penampilan mereka saja jauh berbeda meski Lila saat ini memakai pakaian yang Biru berikan.
“Sayang,” Biru menaikkan dagu Lila agar mereka bertemu pandang. “Kau masih kepikiran soal Luna? Jangan khawatir, aku akan segera menyelesaikan urusanku dan dia,” ucap Biru kemudian.
Biru menggeleng. “Dan kau calon istriku. Aku hanya akan menikahimu. Aku sudah datang ke rumahnya bersama orang tuaku untuk memutuskan pertunangan kami, tapi saat itu ia mengancam mau bu-nuh diri.”
Lila langsung terkejut. Ia tak menyangka Luna senekat itu. “Lalu kalau nanti dia mengancam mau melakukan hal yang sama lagi bagaimana?” Lila tampak panik.
“Aku tidak peduli!” Biru menggenggam kedua tangan Lila dengan erat. “Apapun yang akan dia lakukan aku tidak peduli. Aku tetap memilihmu menjadi istriku,” ucap Biru dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
“Kau yakin? Kau tidak merasa terpaksa kan memilihku?”
“Sayang, kau meragukanku? Aku benar-benar mencintaimu.” Biru beralih memegang kedua bahu Lila. “Aku mencintaimu, Lila. Kalau aku tidak mencintaimu, mana mungkin aku menjemputmu sampai ke desa.”
Hati Lila mendadak tenang mendengar ucapan Biru. Sejujurnya ia sendiri dapat merasakan cinta Biru kepadanya. Pria ini sudah berbuat banyak untuknya. Mengirimi dia hadiah, membebaskannya dari ancaman Reza dan sekarang sudah membawanya tinggal bersama di kota. Masih kurang kah pembuktian cinta Biru padanya?
Biru pun menempelkan keningnya pada kening Lila hingga membuat ujung hidung mereka saling bersentuhan. “Kita hadapi semua sama-sama, ya. Kita sudah memutuskan untuk bersama, jadi setiap apapun rintangan yang ada di depan kita, kita harus lalui bersama. Kau mau kan, Sayang? Aku akan selalu ada untukmu.”
"Percayalah padaku, Lila. Aku akan terus mencintaimu dan terus bersamamu. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Aku janji," sambung Biru.
Lila pun akhirnya mengangguk. Ia harus kuat jika ingin terus bersama Biru. Dan seperti apa yang Biru bilang barusan, masalah yang datang akan mereka hadapi bersama-sama.
“Tentu saja aku mau. Kita hadapi semua masalah bersama,” jawab Lila dengan senyum manis di bibirnya. Barulah nampak wajah cantik khas Lila di mata Biru. Kalau wajahnya mendung seperti tadi, Biru jadi gelisah dibuatnya.
Biru pun ikut tersenyum, sedetik kemudian ia langsung menempelkan bibirnya pada bibir Lila hingga membuat gadis itu membulatkan matanya.
.
__ADS_1
Bersambung...