
Lila pulang dengan tergesa-gesa dari sungai setelah bertemu dengan Reza. Ia berencana akan langsung ke rumah Paman Hardi saja. Tak dinafikkan kalau Lila merasa takut pria itu akan nekat berbuat macam-macam padanya.
Sebenarnya ini bukan kali pertama Reza menyatakan perasaan pada Lila. Sebelumnya pria itu juga sudah beberapa kali mengatakan langsung pada Lila kalau ia menyukai gadis itu dan berharap Lila akan menjadi istrinya. Tapi tentu saja Lila selalu menolaknya. Lila tak suka dengan sikap Reza yang sok keren dan sok paling kuat di desanya.
Reza memang termasuk pria yang tampan di desa itu. Banyak pula para gadis lain yang menyukainya, tapi itu tidak berlaku pada Lila. Lila tak pernah menaruh perasaan apapun pada pria itu.
Sebelum ini jika Reza menyatakan perasaan pada Lila dan gadis itu menolaknya, ia tak pernah sampai mengancam untuk berbuat macam-macam. Namun sekarang kesabaran Reza seolah sudah habis untuk menunggu Lila lebih lama. Dan ini hal yang paling dikhawatirkan Lila. Pria itu bisa saja berbuat macam-macam padanya.
Lila pun segera menuju ke rumah Paman Hardi. Rumah pria paruh baya itu tampak sepi dari biasanya. Jendela dan pintu juga tertutup rapat.
Tok tok tok.
“Paman....Bibi.....”
Tok tok tok.
“Paman....Bibi Fatma.....”
Lila kembali mengetuk pintu itu dengan penuh harap meskipun firasatnya mengatakan tak ada orang di rumah itu.
“Lila,” panggil seorang tetangga yang melintas di depan rumah Paman Hardi.
Lila menoleh ke arah suara.
“Kau mencari Paman Hardi? Mereka tidak ada di rumah.”
Lila terkejut lalu menghampiri tetangganya itu. “Mereka kemana, Bi? Tadi pagi baru saja Bibi Fatma ke rumahku mengantar roti,” tanya Lila.
“Mereka pergi ke desa sebelah, ke tempat saudara Bibi Fatma. Ada keperluan disana sepertinya. Tadi Bibi sempat bertemu dengan mereka di jalan,” jawab wanita itu yang membuat Lila merasa cemas.
__ADS_1
“Begitu ya, Bi. Baiklah Bi, terimakasih informasinya. Kalau begitu aku pulang saja,” ucap Lila dengan lesu.
Wanita itu mengangguk dan melanjutkan perjalanannya. Sementara Lila terpaksa kembali ke rumahnya dengan rasa cemas. Padahal tadi ia berencana mau mengabarkan pada Paman Hardi dan Bibi Fatma tentang ancaman dari Reza. Tapi kini, mereka malah tidak ada.
Sampai di rumah, Lila dengan cepat menutup rapat pintu dan jendela rumahnya. Meskipun hari masih siang, tapi ia merasa khawatir bisa saja Reza akan datang kesana. Apalagi suasana di desa itu sangat sepi sekali. Jarak dari rumah satu warga dengan warga lain juga cukup jauh. Kalau berteriak, belum tentu ada yang bisa mendengar.
Hari itu Lila tak pergi kemana-mana lagi. Ia hanya berdiam diri di rumah dengan penuh cemas sampai malam menjelang.
Saat malam, ia berbaring di atas tempat tidurnya sambil memandangi langit-langit kamar. Ia tampak menggenggam erat liontin berinisial L yang tergantung di kalung pemberian Biru.
“Bi, coba kau ada disini, aku pasti tidak akan setakut ini. Aku sangat takut sendirian disini. Paman dan Bibi juga pergi ke desa sebelah. Entah kapan mereka pulangnya. Aku takut sekali, Bi.”
Lila mengubah posisinya menjadi tidur menyamping.
“Ah, percuma saja mengadu padamu. Aku tidak yakin kau masih mengingatku. Apalagi kalau kau sudah kembali pada tunanganmu. Jangan-jangan kau sudah melupakan aku.” Lila tertunduk lesu.
Ia pun melakukan itu. Ia memejamkan mata dan mengingat semua tentang Biru. Semua kenangan tentang Biru berputar kembali di kepalanya. Tatapan mata pria itu, caranya tersenyum, saat mereka berebut makanan, semua teringat jelas dengan sempurna.
Tapi tiba-tiba....
Tok tok tok.
Lila terkejut lalu membuka matanya. Terdengar suara ketukan dari luar. Tidak berasal dari pintu, tapi dari jendela kamarnya. Lila pun segera duduk dan menyibak selimutnya. Ia menoleh ke arah jendela kamarnya.
Tok tok tok.
Lila sampai berjingkit mendengar suara ketukan itu. Suara itu benar berasal dari jendela kamarnya. Siapa yang kurang kerjaan mengetuk jendela kamarnya malam-malam begini?
Lila memberanikan diri untuk turun dari tempat tidur. Meskipun sebenarnya ia sangat takut, tapi ia penasaran sekali siapa yang melakukan itu.
__ADS_1
Tok tok tok.
Lila kembali terkejut. Suara ketukan itu terdengar lebih keras. Bukan dari jendela kamarnya tapi sepertinya dari pintu depan.
Lila segera keluar dari kamarnya dan memeriksa siapa yang sedang menakut-nakutinya itu. Tentu saja ia tak berani membuka pintu depan. Ia hanya mengintip dari celah jendela saja.
Mata Lila langsung terbelalak. Ia melihat Reza tersenyum menyeringai ke arahnya. Ia pun menyandarkan dirinya di dinding dengan jantung yang berdegup sangat kencang karena ketakutan. Ia khawatir Reza akan nekat menerobos masuk ke dalam rumahnya.
Bagaimana ini? Reza ada di depan. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Jerit Lila dengan takut dalam hati.
“Lila....” Terdengar suara Reza memanggilnya dari luar. Lila tak menjawab. Ia hanya diam sambil ketakutan.
“Pikirkan lagi perkataanku, Lila. Kesabaranku ada batasnya. Kali ini, aku cukup mengunjungimu dari balik pintu. Tapi lain waktu, aku ingin mengunjungi hingga ke kamarmu. Jendela yang aku ketuk tadi benar kamarmu, bukan?”
Lila merasa semakin panik. Jantungnya semakin berpacu dengan kencang. Ia sangat ketakutan saat itu, terlihat dari keringat yang membasahi keningnya.
Akhirnya ia memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu itu rapat-rapat. Ia lalu pergi mencari sesuatu di dalam lemari bajunya. Ia menemukan sebuah gun-ting disana. Ia memegang gun-ting itu dengan erat lalu duduk di atas kasurnya dengan penuh was-was. Setidaknya gun-ting itu bisa ia pakai untuk melindungi diri, pikirnya.
Sementara di luar, Reza tertawa sinis saat mendengar langkah kaki Lila berlari dengan tergesa. Ia yakin Lila pasti sedang ketakutan saat itu. Tidak ada cara lain untuk membuat Lila menjadi miliknya. Ia akan menakutkan Lila sampai gadis itu luluh padanya.
"Ini baru permulaan, Lila. Aku ingin lihat sampai kapan kau akan menolakku. Aku sangat menghormatimu. Aku memintamu menjadi pendampingku dengan cara yang baik-baik. Tapi kau terus menerus menolakku sampai aku muak harus bersikap baik padamu. Jadi, jangan salahkan aku kalau nanti aku bisa melakukan hal yang lebih buruk padamu, Lila."
Reza tersenyum menyeringai menatap pintu Lila yang tertutup rapat. "Sampai bertemu di lain waktu, Sayangku."
Malam ini ia pikir cukup sampai disini. Ia pun pulang meninggalkan rumah itu setelah menakuti Lila.
.
Bersambung...
__ADS_1