
Pagi ini ia rasanya Biru merasa tidak konsentrasi dalam bekerja. Ia duduk di kursinya sambil menatap foto Lila yang dikirim oleh Jay tadi malam. Biru merasa sangat cemas dengan keadaan Lila di desa. Apalagi gadis itu tinggal sendiri. Mau menghubunginya langsung tapi terkendala pada alat komunikasi.
Biru menyandarkan punggungnya sambil memikirkan cara agar Lila bisa aman dari Reza. Satu-satunya cara hanya dengan meminta bantuan Paman Hardi, pikirnya.
“Ya, aku rasa Paman Hardi bisa menolong Lila. Atau...apa aku perlu mengirim bodyguard untuk menjaga Lila? Tapi apa itu tidak berlebihan? Lagipula mau tinggal dimana bodyguard itu nanti? Lila malah tidak akan nyaman jika ada bodyguard berada di dekatnya,” ucap Biru menimbang-nimbang apa yang terbaik untuk Lila.
Sedang asik berpikir, handphone di atas meja bergetar. Ada panggilan masuk dari tunangannya, Luna. Ah, dia sampai lupa dengan tunangannya sendiri karena terlalu sibuk memikirkan Lila.
“Hallo, Luna,” sapa Biru saat mengangkat panggilan itu.
“Hallo, Sayang. Semenjak kembali ke kota kau jarang sekali menghubungiku. Apa kau tidak tau aku sangat merindukanmu?” rengek Luna dengan suara manjanya.
“Kita kan sudah pernah bertemu kemarin.”
“Ish, hanya sekali tau. Tidak cukup. Aku mau kita bertemu lagi. Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Kau mau?” ajak Luna.
Bukan tanpa alasan wanita itu menelepon Biru dan mengajaknya untuk makan siang. Luna akan meminta Biru untuk segera menikahinya sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Bisma.
“Hmmm aku rasa aku sedikit sibuk siang ini,” tolak Biru secara halus.
“Ck, tuh kan! Kau berubah semenjak pulang dari desa. Jangan-jangan kau disana sudah ada kekasih baru ya?” tuduh Luna sembarangan.
“Please Luna, jangan kekanakan begini. Aku memang lagi sibuk. Banyak kerjaan yang harus aku urus. Kita bisa makan siang lain waktu,” bujuk Biru.
“Ya, ya, ya, terus saja mengataiku kekanakan. Aku makin yakin kau memang sudah tidak cinta lagi padaku dan memiliki kekasih lain di desa.” Luna berpura-pura ngambek, ia mulai memancing Biru agar tunangannya itu merasa bersalah dan mengikuti kemauannya.
Biru menghembuskan nafas dengan kasar. Belum selesai memikirkan soal Lila, sekarang tunangannya malah bertingkah.
“Begini saja. Kalau kita makan malam saja bagaimana? Mau? Biar aku jemput nanti malam. Kita makan di restoran biasa.” Biru pun mengalah pada akhirnya.
Luna tersenyum lebar, memang ini yang dia inginkan. “Oke, Sayang. Kalau itu aku setuju. Jangan terlambat menjemputku ya, atau aku akan ngambek padamu.”
__ADS_1
“Iya, iya, kita ketemu nanti malam, ya.”
“Oke, Sayang. I love you.”
Biru tak menjawab.
“Sayang? Kau masih disana? I love you, Biru,” ulang Luna lagi.
“Hmm...ya, I love you too,” jawab Biru dengan perasaan yang aneh. Dia merasa tak nyaman mengatakan kalimat itu pada Luna.
Ada apa dengan hatinya? Kenapa rasanya sekarang malah berbeda? Padahal Luna adalah tunangannya dan sebelumnya mereka biasa saling melontarkan kata-kata mesra seperti itu. Entahlah, banyak hal yang berubah pada dirinya semenjak ia kembali dari desa.
***
Malam ini sesuai dengan yang Biru janjikan, mereka sudah berada di sebuah restoran favorit mereka untuk makan malam bersama. Luna sudah berdandan cantik sekali malam ini dengan dress berwarna hitam yang cukup seksi. Ia sengaja tampil cantik untuk tunangannya karena malam ini ia harus berhasil melancarkan rencananya.
“Happy?” tanya Biru pada Luna yang tampak begitu ceria malam ini.
“Tidak perlu khawatir lagi. Sekarang aku sudah disini bersamamu,” jawab Biru yang diangguki oleh Luna.
"Dan selamanya kau harus selalu bersamaku. Jangan tinggalkan aku lagi."
Biru pun mengangguki perkataan Luna.
Tak lama makanan yang sudah dipesan pun datang. Mereka mulai makan dengan tenang sambil sesekali mengobrol. Luna memang belum mengatakan maksudnya saat itu. Ia menunggu sampai mereka selesai makan baru ia akan bicara serius pada Biru.
“Kenapa makanmu sedikit sekali?” tanya Biru.
“Aku sedang diet. Aku tidak mau terlalu gemuk. Nanti tubuhku terlihat jelek saat memakai gaun pengantin.” Luna sengaja mencoba bercanda sambil mengarah ke topik utamanya.
Namun Biru yang mendengar kata pengantin malah merasa tak nyaman. Ia tak menganggap lagi candaan Luna. Ia hanya melanjutkan makannya saja.
__ADS_1
Sampai dimana mereka telah selesai menghabiskan makanan utama, barulah Luna mulai membahas tentang permintaannya agar Biru segera menikahinya.
“Habis dari sini kita langsung pulang, ya. Aku agak lelah karena banyak pekerjaan,” ucap Biru. Memang benar, ia sedang mengurus banyak pekerjaan yang sempat tak ditanganinya selama dua bulan saat ia masih di desa dulu.
“Iya, tidak masalah. Seandainya kita sudah menikah, saat kau lelah sepulang kerja aku bisa memijitmu.” Luna mulai menyindir soal pernikahan lagi.
Biru kembali terdiam. Ia hanya tersenyum kikuk menanggapi Luna.
“Kenapa diam saja? Kau seperti tidak suka saat aku bicara soal pernikahan. Aku kan tunanganmu dan nantinya akan menjadi istrimu. Apa aku salah bicara seperti itu?” tanya Luna yang menangkap raut wajah berbeda dari Biru.
“Bukan seperti itu. Apa yang kau katakan tadi memang benar,” jawab Biru singkat. Ia tak mau membahas masalah itu lebih dalam.
“Jadi, kalau seandainya kita melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat, kau tidak keberatan bukan? Aku bisa selalu menemanimu dan aku juga tidak akan merindukanmu lagi seperti saat kau hilang dulu.”
Luna mulai membahas masalah pernikahan secara serius. Biru mendadak tak nyaman dengan topik pernikahan. Entah kenapa, rasanya ia belum siap untuk membahas masalah pernikahan bersama Luna secepat ini.
“Tidak perlu terburu-buru, kita....”
“Kita sudah bertunangan cukup lama, Biru. Apa lagi yang kau tunggu? Apa kau akan menggunakan kesibukanmu untuk menunda pernikahan kita?” tanya Luna tiba-tiba. Biru tak menyangka malam ini Luna akan sangat serius membahas tentang pernikahan.
“Luna, bukan begitu maksudku. Membahas soal pernikahan itu harus dibicarakan dengan matang, bukan mendadak seperti ini.” Biru mencoba menenangkan Luna yang sepertinya mulai kesal.
“Oke, lalu kapan kau siap membahas soal pernikahan kita?” Luna langsung menyerang Biru dengan pertanyaan yang lagi-lagi menjurus pada pernikahan.
“Sudah aku bilang kita tidak usah buru-buru membicarakan hal ini.” Biru mulai terbawa emosi.
“Tapi aku ingin memintamu untuk segera menikahiku,” potong Luna dengan cepat.
Biru langsung terdiam. Ia masih tak menyangka Luna akan meminta untuk menikahinya secepat ini.
.
__ADS_1
Bersambung...