
Bibi Fatma, Lila serta Ferdi segera pergi ke Balai desa. Sesampainya disana, mereka mendapati Paman Hardi sudah terbaring tak sadarkan diri. Ada Pak mantri, Pak Kades dan beberapa warga juga disana.
“Ayah....kenapa jadi begini, Yah?”
Bibi Fatma langsung menangis dan memeluk sang suami yang terbaring di atas ranjang. Ferdi pun iku menangis memeluk ayahnya di bagian kaki.
“Sabar, Bu Fatma. Sepertinya Paman Hardi mendapat kecelakaan, tapi kita masih belum tau siapa yang menabrak beliau. Untuk saat ini mari kita fokuskan pada pengobatan beliau dulu,” ucap Bapak Kepala Desa mencoba menenangkan Bibi Fatma.
“Siapa yang tega menabrak suami saya, Pak? Suami saya orang baik. Suami saya tidak pernah mengganggu urusan orang lain,” ungkap Bibi Fatma dengan kecewa. Sudah sebaik itu suaminya pada banyak warga tapi masih saja ada yang tega melukainya.
Sementara Lila yang melihat Bibi Fatma terus bersedih, memeluk wanita itu sambil mengusap-usap lengannya. Ia berusaha menenangkan wanita yang sudah seperti ibunya sendiri itu. Dalam hati, Lila tiba-tiba teringat akan Reza. Saat ini yang patut dicurigai hanya pria itu saja. Tapi ia tak memiliki bukti apapun untuk menuduh Reza.
“Mohon maaf, Bu. Saat ini saya dibantu warga lain masih mencari tau siapa pelakunya. Sementara itu yang lebih penting kita urus saat ini adalah pengobatan Paman Hardi. Tadi Pak mantri sudah memeriksa kondisi Paman Hardi. Beliau memiliki luka yang cukup parah di bagian kepala. Sudah dijahit tapi Paman Hardi masih membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut dan sayangnya di desa kita ini sangat terbatas fasilitas kesehatannya,” terang Pak Kades.
“Untuk itu, kemungkinan besar besok Paman Hardi kami sarankan agar dibawa ke kota untuk mendapat pengobatan lebih baik. Besok akan ada mobil yang datang menjemput. Jadi saya harap Bu Fatma bersedia untuk menemani Paman Hardi ke kota untuk berobat lebih lanjut,” sambung Pak Kades.
Di desa tempat mereka tinggal memang sangat terbatas sekali fasilitas kesehatannya. Bahkan puskesmas pun belum juga dibangun di desa itu. Bibi Fatma tentu tak bisa berbuat banyak. Demi kesembuhan suaminya, ia hanya bisa mengikuti saran Pak Kades. Mereka harus berangkat ke kota.
“Baiklah, Pak. Saya akan ke kota besok kalau itu memang terbaik untuk suami saya. Yang penting suami saya sehat kembali, Pak,” jawab Bibi Fatma di sela-sela isak tangisnya.
“Baik kalau begitu, Bu. Besok pagi kita akan berangkat.”
Bibi Fatma pun mengangguk setuju.
***
__ADS_1
Menunggu datangnya fajar terasa begitu lama bagi Bibi Fatma. Dengan sabar ia menemani sang suami bersama Lila dan juga Ferdi. Meskipun Lila sudah beberapa kali meminta Bibi Fatma untuk tidur, tapi wanita paruh baya itu tetap setia terjaga demi suaminya. Sampai akhirnya ia kelelahan sendiri barulah ia tertidur di dekat sang suami.
Lila tentu sangat sedih sekali melihat musibah yang menimpa keluarga Paman Hardi. Sejenak ia teringat kembali akan Reza. Ia khawatir kalau ini semua ulah pria itu. Kalau hal itu memang benar adanya, tentu Lila akan sangat merasa bersalah. Paman Hardi seperti ini karena sudah melindunginya.
Saat matahari sudah menyapa, Bibi Fatma dan yang lain bergegas pulang. Bibi Fatma bersiap-siap membawa pakaian dan juga sejumlah uang yang Biru berikan. Uang itu rencananya akan dipakai untuk berobat Paman Hardi.
Bibi Fatma awalnya ingin pergi sendiri saja ke kota, Ferdi akan ia titipan pada Lila. Tapi karena anak itu merengek ingin ikut, jadi mau tidak mau Bibi Fatma membawanya pergi ke kota. Sementara Lila sendiri juga awalnya ingin ikut, tapi mobil sudah tidak muat lagi karena Pak mantri dan Pak Kades juga ikut mengantar ke kota untuk membantu mengurus keperluan pengobatan Paman Hardi.
Oleh karena itu mau tidak mau Lila terpaksa tinggal sendirian di rumahnya. Jujur saja, kalau sudah begini, Lila jadi cemas takut kalau sewaktu-waktu Reza mendatanginya.
Setelah mengantar Bibi Fatma sampai ke Balai desa untuk menaiki mobil bersama yang lain, Lila pun segera pulang ke rumahnya. Ia tak mau kalau sampai Reza menghampirinya lagi. Sekarang sudah tidak ada keluarga Paman Hardi, tentu saja Reza akan merajalela mendekatinya.
Lila tampak berjalan dengan terburu-buru sekali untuk segera sampai ke rumahnya. Dan apesnya, hal yang paling Lila takutkan pun terjadi. Baru saja Lila masuk ke dalam rumahnya dan ingin menutup kembali pintu itu, tiba-tiba Reza memaksa masuk dan segera menutup pintu rumah itu bahkan menguncinya.
“Reza! Mau apa kau masuk ke rumahku?!” teriak Lila dengan kuat.
Reza berbalik setelah mengunci pintu lalu menatap Lila dengan tatapan mesumnya.
“Mau apa kau bilang? Mau apa lagi kalau bukan menyentuhmu,” jawab Reza dengan entengnya. Ia sengaja menakut-nakuti gadis itu.
“Kau gila! Keluar dari rumahku! Keluar aku bilang!” teriak Lila sambil terus mundur karena Reza kian mendekat.
Lila mencoba melirik ke sekitar untuk mencari benda-benda yang bisa ia pakai untuk melindungi diri tapi sayang tidak ada.
Bukannya pergi Reza malah tertawa keras. “Hahahahaha, keluar katamu? Hah? Baiklah, aku akan keluar setelah aku bisa menidurimu, Sayang.”
__ADS_1
“Tidak! Aku jijik padamu.”
Lila segera berlari masuk ke kamarnya. Ia baru saja hendak mengunci pintu kamar tapi Reza langsung mendobrak pintu itu dengan kuat sampai terdorong ke belakang.
“Awwhhhh.....” jerit Lila.
Reza pun bergegas masuk dan menghampiri Lila yang terjatuh di lantai.
“Pergi dari sini!” usir Lila.
Gadis itu hendak lari tapi Reza menahannya. Ia mengangkat tubuh Lila yang kecil dan menghempasnya ke atas ranjang milik Lila.
“Reza, hentikan! Aku mohon, Reza. Jangan begini!” pinta Lila yang kini sudah menangis. Ia terus menggelengkan kepalanya meminta Reza agar tidak mendekatinya.
Pria itu seakan tuli. Ia mendekati Lila dan mencekal kedua tangan gadis itu. Lila kini sudah berada di bawah kungkungannya.
Lila semakin terisak. Ia memalingkan wajahnya ke samping karena tak ingin melihat Reza dari jarak sedekat itu. Rasa takut dan jijik berbaur jadi satu di hatinya.
Berbeda dengan Lila, Reza justru malah semakin berhas-rat melihat wajah Lila dari dekat. Ia bahkan bisa menghirup aroma tubuh Lila yang semakin membuatnya tergila-gila. Da-rahnya semakin berdesir memberikan dorongan untuk melakukan lebih pada gadis polos itu.
“Tolong jangan sakiti aku.... jangan lakukan ini padaku,” pinta Lila dengan lirih di sela isak tangisnya. Gadis ini sama sekali tak berdaya untuk melawan Reza.
Reza mendekatkan hidungnya menghirup aroma tubuh di leher Lila. Gadis ini sangat memabukkannya. “Kau tau, Sayang. Kau yang memaksaku melakukan hal ini. Kalau saja kau menerima lamaranku. Tidak akan begini jadinya.”
.
__ADS_1
Bersambung...