
“Sayang...” panggil Biru saat Lila melengos begitu saja masuk ke dalam kamarnya. Mereka saat ini sudah berada di apartemen lagi.
Brak!
Lila langsung menutup pintu kamarnya. Biru yang tadi mengekorinya dari belakang, hampir saja terkena terpaan pintu.
“Hampir saja.” Biru mengelus dadanya. “Dia galak juga kalau lagi ngambek,” gumam Biru.
“Sayang, aku masuk, ya,” ijin Biru lalu membuka pintu kamar itu. Tampak Lila sedang duduk di atas tempat tidurnya. Ia masih cemberut setelah habis ditarik rambutnya oleh Luna.
Biru pun mendekat. Ia duduk di tepi tempat tidur Lila.
“Sayang, maafkan aku, ya.”
Lila tak menjawab. Dia malah berbaring lalu menarik selimut dan menutup seluruh tubuhnya sampai kepala. Ia masih ngambek pada Biru.
Biru tersenyum. Ia merasa gemas melihat tingkah Lila kalau sedang ngambek begini. Bukannya pergi, Biru malah ikut memposisikan diri hendak berbaring di samping Lila.
Lila terlanjur kaget. Ia pun membuka selimutnya dan kembali duduk.
“Apa yang kau lakukan? Kita tidak boleh tidur bersama,” tanya Lila.
“Ohhh, tidak boleh, ya? Habisnya kau diam saja. Jadi aku pikir kau mengajakku tidur,” jawab Biru pura-pura tidak tau sambil memasang wajah sok polosnya.
__ADS_1
Lila pun berdecak sebal. “Aku lelah, ingin tidur. Kepalaku juga sakit habis dijambak tadi sama tunanganmu.” Terselip kecemburuan dalam ucapannya.
“Mantan, Sayang,” koreksi Biru. Pria itu lalu mengusap-usap kepala Lila. “Sakit ya tadi dijambaknya? Ya sudah, kau boleh balas menjambakku untuk mengungkapkan kekesalanmu.”
Lila mengernyit. “Untuk apa? Dia yang menjambakku, bukan dirimu. Yang harusnya aku balas adalah dia, bukan dirimu.”
“Trus kenapa tadi tidak balas menjambaknya?” Biru menyelipkan anak rambut Lila ke belakang kupingnya.
“Aku berbeda dengannya. Meskipun aku dari desa, tapi aku tidak mau dibilang kampungan. Menyerang orang lain secara tiba-tiba itu tidak baik,” jawab Lila. “Orang tuaku selalu mengajarkanku untuk tidak menyakiti orang lain,” tambah Lila lagi.
Lila lalu menatap Biru dengan serius. “Bi, sebaiknya selesaikan urusanmu dulu dengan mantan tunanganmu. Selesaikan secara baik-baik. Aku tidak mau ke depannya dia akan berbuat yang sama seperti tadi.”
Biru pun menggenggam tangan Lila. “Aku tidak akan membiarkan Luna melakukan hal tadi lagi padamu.”
Biru menggeleng dengan cepat. “Tidak, Sayang. Kau bukan perusak hubungan kami. Baiklah, aku akan menuruti perkataanmu. Aku akan tegas kali ini. Antara aku dan dia sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Karena aku hanya ingin memiliki hubungan denganmu saja.” Biru mengeratkan genggaman tangannya.
Lila pun mengangguk menyetujui ucapan Biru. Senyum manis pun melengkung di bibirnya.
“Sudah tidak ngambek lagi?” goda Biru.
Lila menggeleng.
“Tadi kau hampir melukai hidungku. Hidungku hampir kena pintu,” protes Biru.
__ADS_1
“Siapa suruh mengekoriku di belakang? Sudah tau aku sedang kesal,” jawab Lila acuh.
Biru pun mencubit pipi Lila. “Kau sudah pintar menjawab, ya.”
“Bi, sakit tau. Lepas. Sudah, sudah. Kembali sana ke kamarmu. Kita harus istirahat, besok kan kau harus bekerja.” Lila menarik tangan Biru dari pipinya.
“Baiklah, Nyonya Biru Adhitama. Saya akan menuruti perintah, Nyonya,” sahut Biru seolah sedang bicara pada majikannya.
Lila terkekeh lucu. “Hm, kalau begitu pindahlah ke kamarmu.”
“Boleh, tapi upah jalan dulu,” ucap Biru sambil menunjuk pipinya.
Lila pun menurut dan hendak mencium pipi Biru. Saat sudah dekat, Biru ikut menoleh dan mencium bibir Lila dengan cepat.
Cup!
“Bi.........” teriak Lila.
Sementara Biru sudah langsung kabur menghilang di balik pintu.
.
Bersambung...
__ADS_1