
Jarum jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Lila tampak masih bergelung di bawah selimut tebalnya. Tidur di atas tempat tidur yang empuk dengan sprei yang sangat lembut membuat Lila enggan membuka matanya.
“Hoaaammmm,” Lila menguap panjang. “Sudah pagi sepertinya,” gumamnya dengan suara yang serak khas orang baru bangun tidur.
Lila berusaha membuka matanya dengan sempurna. Ia melihat ke arah jam dinding di kamarnya untuk mencari tau sudah jam berapa ini. “Hah? Sudah jam tujuh?”
Lila terkejut. Ia segera duduk dan mengucek kedua matanya. Ia melihat sekali lagi jam dinding yang tergantung di kamarnya. Ternyata benar sudah jam tujuh pagi.
“Ya ampun, aku kesiangan. Kenapa Biru tidak membangunkanku?”
Lila tak enak hati. Baru satu hari menginap di apartemen itu, ia sudah banun kesiangan. Lila pun segera turun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi. Ia hanya mencuci mukanya saja lalu menyikat gigi. Kemudian ia segera menuju ke dapur untuk membuatkan sarapan pagi untuk Biru.
Ting nung ting nung.
Belum sampai di dapur, bel apartemen sudah berbunyi. Lila pun segera menuju ke pintu depan dan membukanya.
“Maaf, cari siapa, ya?” tanya Lila.
“Maaf Nona, apa benar ini apartemen Tuan Biru Adhitama?” pria yang datang itu malah balik bertanya.
“Benar.”
Pria itu pun memberikan satu kantong plastik berisi makanan di tangannya. “Ini, Nona. Saya kesini untuk mengantarkan pesanan makanan atas nama Tuan Biru Adhitama.”
Lila pun menerima makanan tersebut. “Oh, terimakasih. Kalau begitu tunggu sebentar ya, Pak. Saya ambil uangnya dulu.”
“Tidak usah, Nona,” cegah kurir pengantar makanan itu. “Semua sudah dibayar. Kalau begitu saya permisi.”
Kurir itu pun segera berbalik dan meninggalkan apartemen tersebut. Lila kembali masuk ke dalam dan membawa makanan itu ke dapur. Ia langsung memindahkan makanan itu ke dalam beberapa piring.
“Kapan Biru belinya? Apa dia tadi sudah keluar sewaktu aku masih tidur? Atau mungkin dia beli lewat telfon?” gumam Lila sendiri sambil memindahkan makanan itu. “Entahlah, di kota kan semua serba canggih. Kalau di desa ya kita harus ke warungnya langsung kalau mau membeli sesuatu.”
“Aku memesannya secara online,” jawab Biru tiba-tiba.
Biru tampak sudah rapi dengan setelan jasnya. Tadi saat akan masuk ke dapur, ia mendengar Lila bicara sendirian. Ia pun menghampiri gadis itu dan mencium pipi kiri Lila dengan tiba-tiba.
“Bi,” protes Lila.
__ADS_1
“Morning kiss, Sayang,” jawab Biru lalu duduk di kursi meja makan.
“Aku belum mandi. Lagipula jangan sering-sering menciumku ih. Ingat, kita belum menikah.” Lila pun beranjak mengambilkan air putih untuk mereka berdua.
“Kau sangat menggemaskan. Aku tidak bisa kalau tidak menciummu.”
“Pokoknya tidak boleh. Kalau kau menciumku tanpa ijin lagi, aku tidak mau bicara padamu,” ancam Lila dengan bibir yang sudah maju.
“Iya, iya, Sayang. Baiklah, aku minta maaf. Lain kali aku akan ijin dulu. Tapi kalau kita sudah menikah nanti, kau tidak boleh menolak kalau aku mau menciummu kapanpun itu,” tuntut Biru.
“Oke, aku setuju. Ngomong-ngomong, online tadi maksudmu apa?” tanya Lila tidak mengerti.
“Memesan online itu artinya memesan sesuatu lewat aplikasi. Jadi, kita tidak perlu repot-repot keluar rumah jika membutuhkan sesuatu.”
“Aplikasi itu apa?” tanya Lila lagi.
Biru tersenyum. “Sepertinya kau harus lebih banyak belajar. Nanti sore sepulang kerja aku akan mengajarimu beberapa hal. Sekarang kita sarapan dulu. Aku harus segera ke kantor. Ada beberapa pekerjaan penting yang harus aku urus pagi ini.”
Lila pun mengangguk. “Baiklah. Aku akan menunggumu disini.”
“Jangan keluar kemana-mana dulu, ya. Tunggu sampai suamimu ini pulang,” ucap Biru seraya mengedipkan matanya.
“Ciyeee yang salah tingkah,” goda Biru saat melihat pipi Lila yang mulai memerah.
“Bi.....”
***
Pagi ini Biru tiba di kantornya dengan wajah yang sangat gembira. Dengan adanya Lila membuat suasana hatinya selalu ceria. Lila seperti memberikan energi positif tersendiri pada dirinya.
Meeting nya hari itupun berjalan dengan sangat lancar. Apalagi tak ada satupun laporan dari bawahannya yang membuatnya kecewa. Semua berjalan dengan baik.
“Tuan, ada Tuan Bisma yang suah menunggu Tuan di lobby,” kata Jay saat meeting mereka telah usai.
“Sepertinya hari ini aku tidak ada jadwal bertemu dengannya bukan?” tanya Biru.
“Benar, Tuan. Saya juga kurang tau ada keperluan apa Tuan Bisma datang kemari. Apa perlu saya tanyakan dulu padanya?”
__ADS_1
“Tidak usah. Tolong temui dia dan minta dia menemuiku di ruanganku. Mungkin dia mau membicarakan sesuatu yang penting,” titah Biru.
“Baik, Tuan.”
Biru pun segera kembali ke ruangannya. Sementara Jay menjalankan perintah dari Biru. Tak lama, Bisma pun masuk ke dalam ruang kerja Biru.
“Duduklah, lama sekali kita tidak bertemu,” ucap Biru mempersilahkan Bisma duduk di sofa yang ada di ruang kerjanya.
“Itu karena Tuan Muda Adhitama ini yang selalu sibuk bekerja tanpa henti,” sahut Bisma yang sudah duduk di sofa seberang Biru.
“Biasa saja. Ada beberapa hal yang membuatku sibuk. Tidak hanya urusan pekerjaan,” jawab Biru.
“Bukan urusan pekerjaan? Lalu? Jangan bilang kau sedang merencanakan pernikahanmu dengan Luna. Apa itu benar? Wah, diam-diam ternyata kalian sudah berencana mau menikah saja,” tanya Bisma tidak pura-pura tidak tau. Padahal tadi malam ia sudah ditelepon oleh Luna. Luna sudah menceritakan semua padanya termasuk kedatangan Lila ke kota.
Biru tampak menghela nafas dengan berat. “Bukan, aku sedang tidak merencanakan pernikahan dengannya. Aku bahkan sudah memutuskan pertunanganku dengan Luna,” jawab Biru dengan jujur.
“Apa? Putus?” Bisma pura-pura terkejut.
Biru mengangguk.
“Bagaimana bisa? Bukannya kalian sudah lama bertunangan? Apa Luna mengkhianatimu?” Pintar sekali Bisma berakting di depan Biru.
“Bukan. Dia tidak berkhianat. Hanya saja aku merasa tidak bisa melanjutkan lagi pertunanganku dengannya. Aku mencintai gadis lain, namanya Lila. Gadis yang menyelamatkanku sewaktu aku hanyut sampai ke desa,” jelas Biru.
“Kau benar-benar mencintai gadis desa itu? Maksudku, kau kan belum lama kenal dengannya, bisa jadi ketertarikanmu pada gadis itu cuma sebatas rasa terimakasihmu karena dia sudah menolongmu. Sedangkan dengan Luna, kau sudah kenal baik dengan dirinya. Dia juga selama ini selalu setia padamu. Kasihan dia, pasti dia cukup shock saat kau memutuskannya.” Bisma mulai mempengaruhi Biru.
“Tidak. Aku yakin dengan perasaanku. Aku yakin aku mencintai Lila. Dia gadis yang bisa menerimaku apa adanya. Dia gadis yang sangat tulus. Aku malah lebih merasa nyaman saat bersama Lila. Aku tidak akan melepaskannya. Malah rencananya aku ingin segera menikahinya.”
Kali ini Bisma baru benar-benar terkejut. Biru sudah sangat serius pada gadis itu. Ini tidak boleh terjadi, pikir Bisma. Ia harus memikirkan ide lain untuk membatalkan rencana Biru menikahi Lila.
“Kalau kau memang sudah yakin padanya, aku sebagai sahabatmu hanya bisa mendukungmu saja. Semoga apa yang kau rencanakan berjalan dengan lancar,” kata Bisma seolah sangat mendukung keputusan Biru saat ini.
“Kau memang sahabat terbaikku,” ujar Biru.
‘Musuh berkedok sahabat lebih tepatnya,’ umpat Bisma dalam hati.
.
__ADS_1
Bersambung...