
Hari ini Reza kembali memaksa orang tuanya. Ia tetap bersikeras ingin menikahi Lila. Ia tak mau mengulur-ngulur waktu lebih lama lagi. Hanya ada dua pilihan yang akan ia berikan pada orang tuanya. Mau meminang Lila untuk menikah dengannya atau dia akan berbuat hal lain yang tentu tidak akan disukai.
Reza yang baru pulang dari luar rumah, mendapati sang ayah sedang duduk di ruang tamu membaca sebuah buku yang tampak usang. Ia pun segera duduk di kursi yang berhadapan dengan ayahnya.
“Ayah, aku ingin bertanya pada ayah tentang permintaanku kemarin. Jadi kapan ayah akan melamar Lila untukku?” tanya Reza to the point.
Pria paruh baya itu menghentikan aktivitasnya. Menutup buku dan meletakkannya di atas meja.
“Apa kau lupa dengan apa yang ayah sampaikan kemarin? Lila tidak mencintaimu. Bagaimana mungkin ayah melamarnya untukmu sedangkan kau sendiri sudah tau jawabannya?” kata ayah Reza balik bertanya.
“Dia pasti menerimaku!” jawab Reza dengan yakin.
“Karena kau sudah mengancamnya?” tebak sang ayah. “Percaya pada ayah, sesuatu yang dipaksakan tidak akan baik ujungnya.”
“Sudahlah, Ayah! Ayah tinggal melamar Lila apa susahnya?” suara Reza mulai meninggi. Ia terus mendesak sang ayah untuk melamar Lila.
Ibunya yang sedang membereskan pakaian di kamar langsung keluar ke ruang tamu mendengar suara anaknya itu.
“Reza, kau ini kenapa selalu berteriak pada ayahmu? Coba bicara baik-baik, jangan seperti itu!” omel sang ibu lalu duduk di sebelah ayah.
“Ah, aku bosan bicara pelan-pelan, baik-baik, tetap saja tidak ada hasilnya!” bantah Reza dengan wajah kesal.
“Itu karena permintaanmu tidak benar! Cari saja gadis lain yang mau menikah denganmu! Jangan paksa Lila menjadi istrimu!” bentak sang ayah yang sudah terpancing emosi.
Reza pun nampak semakin geram. Dadanya bergemuruh naik turun menahan kesal pada ayah dan ibunya.
“Baik, kalau memang ayah dan ibu tidak mau melamar Lila. Aku akan pakai cara sendiri!” ancam Reza dengan serius.
__ADS_1
“Kau jangan bersikap melewati batas, Reza!” cegah sang ayah. Walau bagaimanapun juga, ayahnya takut kalau Reza sampai menyakiti Lila.
“Hanya ada dua pilihan. Lamar Lila untukku atau aku sendiri yang akan memilikinya dengan caraku!” ancam Reza lagi yang tak main-main kali ini. Ia sudah terlalu bosan menunggu lama untuk bisa memiliki gadis pujaan hatinya itu.
“Reza, kau tidak boleh seperti itu pada Lila. Kau mau apakan dia?” Ibunya sangat cemas kalau sampai Reza nekat dan berbuat buruk pada Lila.
“Itu urusanku mau aku apakan. Yang jelas, dia akan jadi milikku. Aku tidak butuh lamaran dari ayah dan ibu lagi.”
Reza pun berdiri hendak keluar lagi dari rumahnya, tapi suara sang ayah menahannya.
“Tunggu, Reza!”
Reza pun menghentikan langkahnya. Ia tersenyum samar karena tau ayahnya akan melakukan apa yang dia minta. Gertakannya berhasil juga ternyata.
Ayah Reza tampak menghela nafas dengan berat. “Baiklah, ayah akan lamar Lila untukmu. Tapi ingat, jangan pernah kau berani-berani menyakitinya!”
Reza pun berbalik dan mengangguk pada ayahnya. “Baik, Ayah. Aku setuju. Kalau begitu, sekarang juga kita lamar Lila ke rumah Paman Hardi.”
Keluarga Paman Hardi beserta Lila tentu terkejut dengan kedatangan keluarga Reza ke rumahnya. Lila yang melihat mereka datang langsung bersembunyi di balik punggung Bibi Fatma.
“Bi, aku tidak mau sama Reza,” cicit Lila pada Bibi Fatma dengan suara memelas.
Baik Bibi Fatma maupun Paman Hardi sudah tau tentang Reza yang menginginkan Lila menjadi istrinya. Lila sudah menceritakan semuanya pada mereka.
“Kau tenang saja, biar Pamanmu yang mengurusnya,” ucap Bibi Fatma sambil menoleh ke arah sang suami.
“Benar kata Bibimu. Kau tenang saja, ya. Cukup dengarkan apa mau mereka datang kesini dan bicara seperlunya saja,” sahut Paman Hardi.
__ADS_1
Lila pun mengangguk meski dirinya belum bisa benar-benar tenang.
Reza dan keluarganya pun masuk ke rumah Paman Hardi dan mulai membuka pembicaraan tentang maksud tujuan mereka datang ke rumah itu. Sesuai dengan tebakan Lila, Reza datang bersama keluarganya untuk melamar dirinya.
“Jadi tujuan kami kesini adalah untuk melamar Lila agar mau menikah dengan anak saya, Reza,” kata Ayah Reza langsung pada tujuan.
Paman Hardi tampak mengangguk lalu beralih menatap Reza dan Lila. “Pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Sesuatu yang mengikat dua insan dalam satu ikatan yang abadi dan kalau bisa hanya sekali seumur hidup. Untuk itu dalam menentukan siapa pendamping hidup nanti, tentu harus sesuai dengan kata hati tanpa ada paksaan apapun. Dalam urusan ini, kita harus menanyakan langsung pada Lila. Bagaimana menurut Lila? Apakah kau setuju dengan lamaran Reza untuk menjadikanmu istri?” tanya Paman Hardi.
Lila yang tadi menunduk, menaikkan pandangannya melihat ke arah Reza sekilas. Pria itu menatapnya dengan tatapan mengancam. Lila tampak berat menjawab, tapi ia harus berani menolak lamaran ini.
Lila pun akhirnya menggeleng. “Maaf, aku tidak bisa menerima lamaran ini,” jawab Lila yang membuat Reza langsung mengeraskan rahangnya.
“Lila, pikirkan baik-baik jawabanmu!” ucap Reza dengan pelan tapi penuh penekanan seolah sedang memberikan intimidasi pada gadis itu.
“Maaf, Reza. Seperti yang Paman Hardi sampaikan, aku hanya ingin menikah sekali seumur hidupku. Aku tidak bisa menerimamu sebagai suamiku. Aku minta maaf, tapi aku tidak bisa,” jawab Lila sekali lagi.
Reza mulai panas. Dadanya kian terbakar emosi mendengar Lila dengan lancarnya menolak lamarannya. Ternyata gerakan dan ancaman yang ia berikan beberapa kali pada gadis itu, tak berpengaruh pada Lila. Gadis itu tetap keras kepala menolaknya.
“Karena Lila sudah memutuskan, saya dan keluarga hanya bisa mendukung keputusan Lila saja. Saya harap bapak, ibu dan Reza sendiri bisa menerima keputusan Lila dengan lapang dada. Saya juga berharap setelah ini kita semua bisa tetap menjalin hubungan pertemanan dengan baik, tanpa ada rasa dendam, kecewa ataupun sakit hati.” Paman Hardi mencoba mendinginkan kembali suasana yang mulai memanas.
Namun Reza sepertinya tak terpengaruh dengan kata-kata bijak dari Paman Hardi. Ia langsung berdiri dan menatap Lila dengan kecewa.
“Apapun jawabanmu, aku akan tetap menikahimu, Lila. Aku sudah berkali-kali mengatakan kalau aku hanya menginginkanmu menjadi istriku dan itu harus terjadi," ucap Reza bernada ancaman lalu pergi dari rumah itu begitu saja.
Ayah dan ibunya sampai malu dibuatnya. Sang ayah terpaksa meminta maaf kepada Paman Hardi dan keluarganya atas perbuatan Reza. Pria itu benar-benar tidak bisa menahan emosinya meski sedang berada di rumah orang lain.
Paman Hardi dapat memaklumi itu. Orang tua Reza sama sekali tidak salah. Anaknya lah yang memang tidak bisa menahan emosinya. Melihat seperti itu, wajar saja Lila menolak lamaran Reza, pikir Paman Hardi.
__ADS_1
.
Bersambung...