
Biru dan Lila sama-sama tertidur di kursi belakang. Lila tampak tidur dengan posisi kepala berada di dada bidang milik Biru. Sementara pria itu memeluknya dengan posesif. Lagi-lagi Jay harus menghela nafas dalam-dalam melihat kemesraan mereka berdua.
Nasib jomblo ya begini. Gumam Jay dalam hati.
Entah berapa lama mereka tertidur karena kelelahan, Lila sepertinya lebih dulu terbangun. Gadis itu bergerak membuat Biru juga ikut terbangun.
“Tidur saja lagi. Nanti Jay akan membangunkan kita kalau sudah sampai.” Biru mengeratkan pelukannya dan mengusap-usap punggung Lila agar gadis itu mau tidur lagi.
Bukannya tidur lagi, Lila malah melihat pemandangan di luar jendela mobil. Ada deretan bangunan bertingkat yang menjulang tinggi. Ia penasaran dengan apa yang ia lihat. Ia menarik diri dari Biru dan duduk dengan tegak lalu kembali melihat pemandangan di luar jendela.
“Bi, ini dimana?” tanya Lila dengan rasa penasaran yang tinggi.
“Kita sudah sampai di kota, Nona. Sebentar lagi kita akan sampai di apartemen tempat tinggal Nona di kota,” jawab Jay.
Mendengar Jay yang menjawab pertanyaan Lila, Biru ikut membuka matanya dan membetulkan posisi duduknya.
“Memangnya namamu Bi? Dia bertanya padaku, kenapa kau yang menjawab?” sewot Biru.
Jay mengernyit heran. Padahal dia hanya membantu menjawab saja. Ah, dia lupa. Tuannya ini sangat posesif kalau berkaitan dengan Lila.
“Maaf, Tuan. Saya hanya bantu menjawab saya,” jawab Jay kemudian.
Biru beralih pada Lila. Gadis itu sampai nyaris menempelkan wajahnya di kaca jendela mobil saking ingin melihat pemandangan di luar.
Takjub! Itulah gambaran perasaan Lila kali ini. Ia sangat takjub melihat gedung-gedung dibangun dengan sangat tinggi. Jalanan di kota juga terlihat sangat bagus, bersih dan rapi. Pohon-pohon di tanam di sepanjang jalan dengan tersusun rapi sebagai penghijau jalan. Suasana di kota sangat berbeda dengan di desa.
“Kita sudah sampai di kota. Sebentar lagi aku akan menunjukkan apartemen tempat untukmu tinggal selama di kota,” ucap Biru.
Lila menoleh ke arah Biru. “Tempatku tinggal? Lalu kau tinggal dimana?” tanya Lila bingung.
“Kau mau aku tinggal bersamamu?” goda Biru.
“Bukan begitu. Memangnya kau punya berapa banyak rumah di kota? Apa kita tidak tinggal bersama? Lalu kau akan tinggal dimana?”
“Aku biasanya tinggal bersama orang tuaku di rumah keluarga kami. Sekarang kita akan menuju ke apartemen tempat kau tinggal nanti.”
__ADS_1
“Itu artinya aku akan tinggal sendiri?” Lila mulai cemas. Tinggal sendirian membuatnya merasa takut saat ini.
Biru mendekatkan wajahnya ke wajah Lila, tidak peduli dari depan Jay memperhatikan mereka.
“Katakan padaku kalau kau ingin tinggal bersamaku. Kalau kau mengatakan itu, baru kita akan tinggal bersama,” pinta Biru.
Dari kursi depan Jay menahan diri untuk tidak tertawa.
Moduuusss...moduuusss...bisa-bisanya Tuan menyuruh Nona Lila mengatakan itu. Padahal dia sendiri mau juga tuh tinggal bersama. Dasar bucin! Umpat Jay dalam hati.
Lila tampak menunduk malu. Tentu saja ia sangat senang bisa tinggal bersama Biru seperti waktu di desa dulu. Apalagi dia baru datang ke kota, tentu dia tidak berani tinggal sendirian.
“Apa orang tuamu tidak marah kalau kita tinggal bersama?” tanya Lila malu-malu.
“Tergantung. Kau mau tidak tinggal bersamaku?” tanya Biru lagi.
“Hmm...” Lila bergumam sebentar, setelah itu ia menganggukkan kepalanya. Biru pun tersenyum senang.
“Baiklah. Kita akan tinggal bersama,” ucap Biru.
***
Ting!
Bunyi lift berdenting, pintu lift pun terbuka. Lagi-lagi Lila dibuat terkesima dengan banyak hal baru yang baru ia lihat seumur hidupnya.
“Ayo masuk!” Biru merangkul pinggang Lila mengajaknya masuk ke dalam lift.
Lila mengangguk lalu mengikuti langkah Biru. Saat pintu lift kembali tertutup, Lila tampak sedikit takut. Ia refleks memeluk Biru. Biru pun tersenyum.
“Ini namanya lift. Digunakan untuk naik atau turun ke lantai lain tanpa harus lelah menggunakan tangga,” ucap Biru memberitahu Lila.
“Apa ini aman?” tanya Lila sambil mendongak menatap Biru.
Biru pun balas menatap Lila. “Terkadang tidak aman juga,” jawab Biru setengah berbisik. Ia sengaja menakuti Lila. Dan hal itu berhasil ia lakukan saat merasakan tangan Lila semakin kuat merangkulnya.
__ADS_1
“Kenapa tadi tidak lewat tangga saja?” tanya Lila yang mulai cemas.
“Kenapa? Kau takut?”
Lila langsung mengangguk tanpa ragu.
“Aku ada ide untuk menghilangkan rasa takutmu,” ucap Biru dengan sebuah ide di kepalanya.
“Apa itu?” tanya Lila dengan polos.
Biru mulai menangkup kedua pipi Lila. Ia memiringkan wajahnya dan semakin mendekat ke wajah Lila.
Ting!
Lift kembali berdenting dan pintunya kembali terbuka.
“Bi, pintunya sudah terbuka lagi!” seru Lila dengan senang.
Lila segera menarik diri dari Biru dan langsung keluar dari lift itu, meninggalkan Biru yang bergumam kesal karena idenya tidak berhasil.
Biru pun ikut keluar dan mengajak Lila ke unit apartemen miliknya. Ia membuka pintu apartemen dan mengajak Lila masuk ke dalam.
“Selamat datang di apartemen kita,” ucap Biru sambil merentangkan kedua tangannya.
Lila yang masih berdiri di depan pintu ikut masuk sambil melihat ke sekelilingnya. Tempat itu sangat mewah sekali baginya. Sangat jauh berbeda dengan tempat tinggalnya di desa.
“Wahhhh...Bi, ini besar sekali. Kita akan tinggal disini?” tanya Lila hampir tak percaya.
“Tentu saja. Kau suka?”
Lila beralih menatap Biru yang berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Ia berlari ke arah pria itu lalu memeluknya dengan erat.
“Aku sangat suka. Terimakasih, Bi,” ucap Lila dengan perasaan bahagia.
.
__ADS_1
Bersambung