Gadis Penyelamat Tuan Biru

Gadis Penyelamat Tuan Biru
53. Mendaftar Kursus


__ADS_3

“Good morning, Sayang,” sapa Biru saat masuk ke dapur. Ia sudah rapi dengan setelan jasnya. Lalu ia duduk di salah satu kursi meja makan.


Lila sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk kekasihnya itu. Pagi ini ia menyiapkan nasi goreng dan teh hangat saja karena persediaan di kulkas sangat terbatas. Mereka belum belanja bahan kulkas.


Lila menyajikan sepiring nasi goreng dan secangkir teh hangat di hadapan Biru. “Semoga kau suka. Aku hanya masak ini saja,” ucap Lila. Ia tak membalas sapaan Biru tadi. Ia lalu duduk di samping Biru.


“Baunya menggugah seleraku. Tenang saja, apapun yang kau masak, aku selalu suka. Kau ingat kan sewaktu kita di desa? Aku memakan apapun yang kau masak. Malah selalu nambah,” balas Biru lalu mulai menyendokkan makanan ke mulutnya.


"Hmmm, benar kan. Ini enak," puji Biru.


“Aku ingat. Kau memang suka menghabiskan persediaan makananku saja,” jawab Lila sambil tersenyum mengejek.


“Ohhh, kau mengungkit itu lagi, ya?” tanya Biru sambil mencubit pelan pinggang Lila.


“Bi, tanganmu ih. Nakal sekali,” ujar Lila sambil menepis tangan Biru.


“Siapa suruh mengejekku duluan.”


Lila tak menjawab lagi. Ia hanya mencibirkan bibirnya lalu melanjutkan sarapannya saja.


“Kenapa bibirmu begitu? Minta dicium lagi?”


“Tidak. Awas ya kalau kau menciumku lagi seperti tadi malam. Aku akan ngambek padamu,” ancam Lila.


“Iya, maaf. Padahal tadi malam kau tidak marah tuh.”


“Sudah ah, bisa tidak lanjut makan saja? Kau membahas itu terus,” cibir Lila.

__ADS_1


“Baiklah, baiklah. Padahal tadi aku mau memberitahukanmu kalau hari ini aku mau mengajakmu mendaftar kursus. Nanti siang aku akan pulang menjemputmu. Kita makan siang bersama dan pergi mendaftar kursus. Kursus komputer dan bahasa inggris. Aku rasa kau harus punya bekal dulu sebelum masuk ke perguruan tinggi. Bagaimana? Kau mau?”


Kali ini baru Lila semangat dengan perkataan Biru. Ia pun mengangguk dengan senang.


“Mau, Bi. Aku sangat mau. Jam berapa kau akan menjemputku?” Lila tampak sangat antusias.


“Nanti aku akan menelfonmu. Kau sudah tau kan bagaimana caranya menjawab panggilan di handphone?”


“Tentu. Kau kan sudah mengajariku. Bahkan mengirim pesan saja juga aku tau, bermain game juga tau.”


Biru mengacak rambut Lila dengan gemas. “Baguslah. Kau cepat sekali belajar. Aku ke kantor dulu, ada meeting pagi. Nanti siang kita bertemu lagi.”


“Oke. Aku akan menunggumu,” ucap Lila dengan penuh harap.


***


Siang ini sesuai dengan janjinya, Biru menjemput Lila saat jam makan siang. Mereka memutuskan untuk makan di salah satu restoran seafood terlebih dahulu sebelum pergi ke lembaga kursus tempat Lila belajar nantinya. Kali ini mereka kembali pergi berdua. Jay tidak ikut menemani karena harus mengurus urusan kantor.


“Bi, aku rasa banyak yang memperhatikan kita,” bisik Lila saat berjalan bersama Biru.


“Kau terlalu cantik, makanya mereka memperhatikanmu,” jawab Biru sambil bercanda. Biru sendiri tidak memperhatikan orang-orang di sekitar mereka. Ia hanya fokus pada tujuannya saja. Orang mau berkata apa tentangnya, itu bukan urusannya.


“Ish, tidak begitu. Mereka banyak memperhatikanmu,” bisik Lila lagi. Apalagi para wanita disana, mata mereka tak lepas memandang Biru Adhitama. Lila sedikit cemburu. Biru memang pria yang tampan juga kaya raya. Wajar saja kalau banyak wanita yang terpesona dengan ketampanannya.


Biru mempererat genggaman tangannya pada Lila. “Cuekin saja, Sayang. Ingat, tujuan kita kesini untuk membawamu mendaftar kursus. Yang lain tak usah dipedulikan. Ayo kita masuk.”


Mereka sudah sampai di ruang pendaftaran. Disana Biru langsung disambut dengan ramah. Sebenarnya bisa saja Biru mendaftarkan Lila tanpa harus datang kesana. Pemilik lembaga kursus itu sudah kenal dengan keluarga Adhitama, apalagi ada beberapa karyawan perusahaan Adhitama yang dibiayai untuk kursus disana.

__ADS_1


Tapi Biru sengaja datang langsung mengajak Lila agar gadis itu bisa melihat langsung tempat dimana ia akan belajar. Tak butuh waktu lama, pendaftaran pun selesai. Terlukis senyum kebahagiaan di wajah Lila. Keinginannya untuk kembali belajar bisa terpenuhi.


“Terimakasih, Bi. Kau yang terbaik,” ucap Lila saat mereka keluar dari ruang pendaftaran itu. mereka berdiri di depan koridor sambil saling berhadapan.


“Sama-sama, Sayang. Kau memang layak mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Sekarang bagaimana kalau kita pergi membeli laptop untukmu? Kau bisa pilih laptop mana yang kau suka.”


“Laptop?” ulang Lila sambil mengerutkan keningnya.


“Laptop untuk mengetik tugasmu nanti. Hampir sama seperti komputer fungsinya, tapi lebih mudah dibawa kemana-mana. Aku akan tunjukan padamu nanti,” jawab Biru sambil mengusap rambut Lila. Dia senang sekali bisa mengajari banyak hal baru pada gadisnya ini.


“Mahal tidak? Aku sudah banyak memakai uangmu,” tanya Lila tak enak hati.


“Tidak ada yang lebih mahal dibandingkan dirimu. Tidak usah memikirkan soal harga. Yang penting kau dapat belajar dengan nyaman.”


“Aku berhutang banyak padamu. Terimakasih, Bi," ucap Lila lagi dengan tulus. sudah banyak sekali yang Biru lakukan untuk dirinya.


“Nanti saja terimakasihnya kalau sudah sampai di apartemen,” bisik Biru lalu menggandeng Lila untuk pergi dari tempat itu.


Lila memutar bola matanya dengan malas. Ia tau apa yang Biru maksud. “Ihhh, mulai deh. Pasti mau minta yang macam-macam,” tebak Lila yang membuat Biru tergelak.


Biru kembali mengacak gemas rambut Lila. Bersama Lila ia tak pernah merasa tak bahagia. Begitu pun dengan Lila, ia tak menyangka pria yang ia selamatkan akan jadi kekasihnya hingga saat ini. Ia merasa sangat beruntung memiliki kekasih yang baik dan sangat mengayominya.


Begitu mobil Biru keluar meninggalkan area lembaga kursus tersebut, dari seberang jalan tampak sebuah mobil berwarna hitam yang mengekori mereka dari belakang. Orang yang berada di balik stir mobil tersebut adalah Bisma. Rupanya dari tadi ia sudah mengintai kemana Biru pergi sejak pria itu keluar dari perusahaannya. Ia dapat melihat dengan jelas bagaimana Biru memperlakukan Lila sangat spesial seperti ratunya. Tak salah lagi kalau ia akan mendekati Lila untuk meminta gadis itu menghancurkan Biru.


"Sepertinya gadis itu memang sangat spesial bagimu, Biru. Kau memperlakukannya dengan jauh lebih baik ketimbang kau memperlakukan Luna."


Bisma tersenyum sinis. "Kau bahkan rela kehilangan jam kerjamu hanya untuk mengurus keperluan gadismu. Dapat aku bayangkan betapa spesialnya dia di hatimu. Tapi aku akan merebutnya darimu. Dia harus jadi milikku. Akan ku rebut semua milikmu." Wajah Bisma berubah menjadi sangat menakutkan dan penuh kebencian.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2