
Disambut dengan hangat dan ramah, tentulah membuat Lila merasa nyaman. Ia sama sekali tak menyangka akan semudah ini diterima di keluarga ini. Pantas saja Biru pria yang sangat baik. Orang tuanya saja sangat baik padanya. Tentu saja sifat baik Biru menurun dari kedua orang tuanya.
“Lila, ayo tambah lagi makanannya,” tegur ibu saat melihat Lila tampak diam memperhatikan Biru dan keluarganya.
“Iya, Bu. Terimakasih,” jawab Lila malu-malu lalu kembali melanjutkan makannya.
Biru sendiri tersenyum saat melihat ke arah Lila yang duduk di sampingnya. Ia tau, Lila pasti merasa sungkan.
“Kamu juga lanjutkan makanmu, jangan melirik ke Lila terus,” tegur ibu lagi.
Biru hanya terkekeh saat tertangkap basah sang ibu sedang melirik Lila. Ia tak berkomentar apa-apa selain melanjutkan makannya. Kalau Lila jangan ditanya, wajahnya semakin menunduk karena malu. Ia tak menyadari kalau tadi Biru asik melihat ke arahnya.
Setelah selesai makan malam, mereka bersantai di ruang keluarga. Ibu Biru tampak antusias bercerita tentang Biru sewaktu anaknya itu masih kecil. Ia juga menceritakan pada Lila apa saja yang Biru suka dan tidak.
“Jadi Biru memang pintar dari kecil. Tapi ya begitu, dia juga manja. Saking manjanya, dia tidak bisa memakai tali sepatunya sendiri. Dia baru bisa melakukan itu saat sudah SMA,” ucap ibu sambil melirik ke arah Biru.
Biru tampak berdecak. “Bu, jangan membongkar aibku, nanti Lila tidak mau denganku lagi,” goda Biru pura-pura merajuk.
“Tapi kau memang tidak bisa melakukan pekerjaan rumah. Sewaktu di desa, kau tidak membantuku apa-apa untuk pekerjaan rumah,” timpal Lila.
“Benarkah?” ibu terkejut. Lila pun mengangguk. “Jadi, siapa yang mengerjakan pekerjaan rumah? Lila saja?”
“Iya, Bu. Dia bilang tidak bisa melakukan pekerjaan rumah,” jawab Lila sambil tersenyum mengejek pada Biru.
“Ish, kamu ini menyusahkan Lila saja. Untung saja Lila baik, jadi dia mau menampungmu di rumahnya,” celetuk ibu.
__ADS_1
“Siapa bilang aku tidak membantumu? Aku kan membantumu mengambil air di sungai,” sanggah Biru.
“Di sungai? Memang tidak ada keran air di rumah?” Ayah Biru ikut penasaran.
“Tidak ada, Ayah. Kalau mau menggunakan air, hanya bisa mengambil air dari sungai atau menadah air hujan,” jawab Lila.
Ayah dan ibu tampak mengangguk. Mereka dapat membayangkan sesulit apa kehidupan disana.
“Ibu salut padamu, Lila. Kamu bisa hidup sendiri dan melakukan semuanya sendiri. Kamu bahkan sudi menampung Biru waktu itu, padahal kamu sendiri pasti sudah cukup kesulitan memenuhi kebutuhanmu sendiri,” ucap Ibu penuh iba.
“Tidak apa-apa, Bu. Lila sudah terbiasa,” sahut Lila.
“Aku juga salut pada Lila, Bu. Dia bahkan rela berbagi makanan denganku. Yaaaa meski kadang dia suka mengungkitnya juga,” ledek Biru.
“Ih, aku kan hanya bercanda,” ucap Lila dengan cepat.
“Tidak. Aku hanya bercanda waktu itu.”
Biru pun tergelak melihat Lila sudah malu dikatai pelit. Ia mengusap rambut Lila dengan gemas. “Iya, iya, aku tau kau bercanda.”
Tengah asik bercanda bersama, tiba-tiba kedatangan seseorang menjeda obrolan mereka.
“Selamat malam semuanya.”
Semua orang sontak melihat ke arah suara tersebut. Suara yang berasal dari Luna, yang datang dengan tiba-tiba. Ia tampak menenteng sesuatu di tangannya.
__ADS_1
Perasaan Lila mendadak tak enak melihat sosok wanita yang baru datang itu. Hatinya mulai menerka-nerka siapa wanita itu.
“Luna? Kapan kau kesini?” tanya Biru.
Luna tak langsung menjawab. Matanya menatap intense ke arah gadis yang duduk bersebelahan dengan Biru. Sepertinya baru kali ini ia melihat gadis itu di rumah ini. Siapa dia?
“Ah iya, aku baru saja sampai. Aku mampir untuk membawakan ini untuk Om dan Tante.”
Luna menghampiri ayah dan ibu Biru untuk bersamaan dan memberikan cake yang ia bawa. Kemudian ia langsung saja duduk di sebelah Biru. Jadi saat ini Biru duduk di antara Luna dan Lila.
Biru menoleh ke arah Lila. Ia tau, Lila pasti bertanya-tanya dalam hati tentang wanita yang baru datang ke rumahnya itu.
“Dia.....”
Belum sempat Biru selesai bicara, Luna sudah lebih dulu memperkenalkan dirinya. “Aku Luna, tunangan Biru.”
Deg.
Lila terkejut. Ia tak dapat menyembunyikan raut keterkejutan di wajahnya. Ternyata tebakannya benar.
Ternyata dia adalah tunangan Biru. Gumam Lila dalam hati.
Luna sendiri tampak tersenyum sinis ke arah Lila. Entah mengapa ia langsung tak suka dengan gadis yang duduk di sebelah Biru itu. Wajahnya tak ada mirip-miripnya sama sekali dengan Biru atau keluarganya. Ia menebak, gadis itu tidak ada hubungan keluarga dengan Biru.
.
__ADS_1
Bersambung...