
“Aku senang kalau kau suka. Kita akan tinggal disini bersama tapi sebelumnya aku akan mengenalkanmu pada orang tuaku dulu.”
Lila melerai pelukannya lalu mendongak menatap Biru. Mendengar Biru akan mengenalkannya pada orang tuanya, Lila mendadak gugup. Ia khawatir orang tua Biru tidak akan suka dengan gadis desa sepertinya.
“Kenapa? Kau takut?” tanya Biru saat melihat raut wajah Lila yang berbeda.
Lila mengangguk. “Kalau mereka tidak suka padaku bagaimana?”
“Hmmm...mungkin hubungan kita cukup sampai disini saja.”
Deg.
Hati Lila langsung berdenyut. Wajahnya berubah sendu.
Beberapa detik kemudian, Biru malah mencium keningnya kuat-kuat.
“Hei, aku hanya becanda! Mana mungkin hubungan kita berakhir begitu saja. Aku sudah susah payah menjemputmu ke desa, aku tidak akan melepasmu begitu saja,” ucap Biru dengan cepat tapi mata Lila sudah terlanjur berkaca-kaca.
“No, no, no, jangan menangis, aku hanya becanda.” Biru menyeka airmata Lila yang terlanjur tumpah. “Maafkan aku ya, aku hanya becanda.”
Lila pun menghentikan tangisnya. “Kau kelewatan! Aku sudah takut kalau kita akan berpisah lagi. Kau tau, berpisah denganmu sangat menyiksaku.” Lila memukul-mukul dada Biru beberapa kali.
Biru kembali memeluk Lila. Ia mengusap-usap punggung gadis itu. “Maaf ya, Sayangku. Aku hanya becanda. Serius, hanya becanda. Lagipula sebelum pergi menjemputmu, aku sudah berpamitan pada orang tuaku. Mereka sudah tau kalau aku akan menjemputmu. Mereka pasti akan menerimamu. Kau tidak perlu khawatir soal itu.”
“Kau yakin, Bi?” tanya Lila setengah tak percaya.
“Tentu saja. Aku jamin itu. Sekarang, bagaimana kalau kita lihat-lihat ruangan lain di apartemen ini, kau mau?” tawar Biru saat melerai pelukannya.
Barulah Lila tersenyum kembali sambil mengangguk dengan cepat. Sudah dari tadi dia menantikan hal itu.
“Oke. Kalau begitu, kita mulai dari dapur. Let's go!”
Biru langsung menarik tangan Lila. Mereka bahkan setengah berlari untuk pergi ke dapur. Mata Lila langsung berbinar melihat sebuah ruangan yang luas dengan banyak kabinet. Ada meja makan juga disana. Tapi yang Lila bingung, ia tak melihat ada kompor maupun perlengkapan dapur lain seperti piring, gelas, wajah dan sebagainya.
“Bi, dimana kompor dan piring-piringnya?” tanya Lila seraya menggaruk kepalanya.
“Sini, aku tunjukkan!” Biru kembali menarik tangan Lila tepat ke depan kompor. Ia menghidupkan kompor hingga api menyala. Lila tampak takjub dengan itu.
“Wahhh, keren sekali. Dari mana asal apinya?” tanya Lila bingung. Ia bingung hanya dengan memutar sebuah benda kecil, bisa langsung menghasilkan api. Ia bahkan tak melihat ada kompor disana karena kompor di apartemen mereka sejajar dengan meja dapur.
Biru pun mengacak gemas rambut Lila. “Asalnya ya dari kompor ini, Sayangku. Sekarang coba kau yang nyalakan.”
__ADS_1
Lila memgangguk dengan semangat. Ia meniru apa yang Biru lakukan dan kompor itu kembali menyala. “Yeayyy, aku bisa!” seru Lila dengan senang. Ia seperti menemukan mainan baru.
“Lalu, dimana peralatan masaknya?”
Biru pun membuka satu per satu kabinet yang ada di dapur. Lagi-lagi Lila takjub melihat semua peralatan dapur tersusun rapi pada tempatnya.
Setelah dari dapur, Biru menunjukkan ruang tamu dan ruang menonton TV, kemudian ia mengajak Lila untuk melihat kamar tidur yang akan ia tempati.
“Nah, ini kamar tidurnya. Ada kamar mandi juga di dalam sini.” Biru masuk lalu membuka pintu kamar mandi yang ada di dalam kamar. Lila tertegun melihat kamar mandi yang sangat luas itu. Lebih luas dari kamar tidurnya di desa.
“Baju-bajumu bisa kau simpan di lemari sana. Ini meja riasmu, dan ini...” Biru menghempaskan badannya ke atas tempat tidur. “Ini tempat tidurmu.”
Biru kembali bangun dan duduk di pinggir ranjang. “Kau suka?”
Lila tersenyum lebar lalu mengangguk. “Tentu aku suka. Kamar ini luas sekali. Sudah seperti kamar di istana,” jawab Lila sambil duduk di samping Biru.
“Aku senang kau suka. Kita akan tinggal disini bersama. Kita akan memulai hidup baru kita disini.” Biru menatap Lila dengan penuh kesungguhan.
“Ngomong-ngomong kamarmu dimana? Di kamar sebelah?”
Biru menggeleng. “Aku akan tidur disini juga,” jawab Biru sambil menepuk ranjang itu.
“Di kota boleh-boleh saja.” Biru mulai iseng lagi.
Lila tercengang. “Yang benar? Kalau digrebek warga bagaimana? Kita harusnya menikah dulu baru bisa tidur sekamar.”
“Tidak akan ada warga yang menggrebekmu. Jadi, maukan tidur sekamar denganku?” goda Biru.
“Tidak, ah. Tetap tidak boleh, Bi,” tolak Lila.
“Boleh-boleh saja kalau mau. Mau ya? Ya, ya, ya?”
“Ish, tidak, tidak! Sekali tidak tetap tidak!” Lila mendorong bahu Biru yang menempel di lengannya.
"Ayolah, tidak apa-apa kok. Kau takut digrebek ya?" Biru menyenggol bahu Lila.
"Bi, aturannya memang tidak boleh. Mau di desa atau di kota tetap saja sama. Menikah dulu baru tidur sekamar."
"Bilang saja kau sudah tidak sabar ingin menikah denganku kan?" goda Biru sambil menoel hidung Lila.
"Ihhh, kau ini. Kau sengaja menggodaku ya?" Lila membuang mukanya yang sudah merah ke arah lain.
__ADS_1
Biru kembali menoel-noel hidung Lila. "Iya kan? Iya kan? Bilang saja kalau kau mau menikah denganku secepatnya."
Ting tung ting tung.
Suara bel dari depan menghentikan kejahilan Biru. Biru pun pergi ke depan untuk melihat siapa yang datang. Ternyata itu adalah Jay yang datang dengan sebuah paper bag di tangannya.
“Ini Tuan, pesanannya.” Jay tampak mengulurkan papaer bag dan Biru langsung menerimanya.
“Terimakasih.”
Brakkk.
Pintu langsung ditutup kembali oleh Biru tanpa basa-basi. Hampir saja menyentuh hidung mancung milik Jay.
“Ck, begini nih kalau sudah bucin. Aku dipanggil kalau diperlukan saja. Hiksss, malang sekali nasibku,” keluh Jay lalu berbalik meninggalkan apartemen itu.
Biru membawa paper bag dari Jay dan memberikannya pada Lila. “Bukalah, itu untukmu.”
“Wahhh, hadiah lagi? Banyak sekali hadiah yang aku dapat,” ucap Lila sambil membuka isi paper bag itu.
Di dalamnya ada sebuah handphone keluaran terbaru untuk Lila.
“Kamera?” tanya Lila sambil membolak-balik benda pipih di tangannya.
Biru tergelak. “Bukan. Itu handphone. Alat untuk berkomunikasi jarak jauh. Kenapa kau menyebutnya kamera?”
“Aku pernah melihat ini sebelumnya.”
“Oh ya? Kapan?”
“Dulu sewaktu asistenmu datang ke desa. Tapi dia menggunakan alat ini untuk berfoto, bukan untuk berkomunikasi,” jawab Lila dengan jujur.
Wajah Biru yang tadi ceria berubah kesal. Ia masih teringat Lila sempat berfoto berdua bersama Jay. Ia tak suka. Ia masih cemburu kalau mengingat hal itu.
“Bi, kau kenapa tiba-tiba cemberut? Apa aku salah bicara?”
.
Bersambung...
__ADS_1