Gadis Penyelamat Tuan Biru

Gadis Penyelamat Tuan Biru
24. Musuh Dalam Selimut


__ADS_3

Hari ini Biru sudah kembali ke kantornya. Ia didampingi sang ayah memberi pengumuman ke publik bahwa ia telah selamat dari sebuah kecelakaan dan akan kembali memimpin perusahaan milik keluarga Adhitama.


Semua karyawan dengan penuh suka cita menyambut kedatangan Biru Adhitama. CEO perusahaan yang sangat bijaksana dan selalu memperlakukan karyawan yang dengan baik. Mereka mengucapkan selamat kepada Biru karena telah selamat dan dapat kembali memimpin perusahaan.


Saat ini Biru sudah berada di ruang kerjanya. Ruangan yang sudah hampir dua bulan tak dikunjungi olehnya. Ia duduk di kursi kebesarannya dan menyandarkan punggungnya dengan lega. Akhirnya ia bisa kembali lagi duduk di kursi kerjanya itu.


Inilah dunia Biru yang sebenarnya. Pria yang selalu berkutat dengan bisnis dan meetingnya. Bukan hanya diam di rumah dan tak melakukan apa-apa seperti yang pernah terjadi saat di desa. Ia rindu akan rutinitasnya yang padat seperti dulu.


Tok tok tok.


“Masuk!” sahut Biru.


Muncullah seorang pria seumuran Biru dari balik pintu dengan wajah bahagia menyambut kedatangan temannya kembali.


“Biru? Kau benar-benar selamat, Kawan!”


Bisma yang datang menjenguk Biru, langsung menghampiri Biru dan memeluknya sekilas. Lalu Biru mengajak Bisma duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


“Ya. Seperti yang kau lihat, aku selamat sekarang. Aku merasa sangat bersyukur bisa kembali lagi ke kota,” ucap Biru dengan antusias.


“Ke kota?” Bisma mengernyitkan keningnya.


Biru mengangguk. “Kau tau, waktu aku kecelakaan dan jatuh ke dalam jurang, aku berusaha keluar dari mobil dan malah jatuh ke sungai. Dari sana aku terbawa arus sampai ke sebuah desa,” jawab Biru dengan jujur.


“Kau tidak bercanda kan?” tanya Bisma memastikan.


Biru tersenyum tipis. “Untuk apa aku bercanda? Aku benar-benar hanyut sampai ke desa. Syukurnya aku diselamatkan oleh seseorang. Aku lama berada di desa itu karena aku sempat hilang ingatan.”


“Hilang ingatan?” ulang Bisma terkejut.

__ADS_1


Biru kembali mengangguk. “Aku sempat hilang ingatan sebentar. Aku tidak ingat identitasku bahkan siapa namaku. Makanya aku sampai dua bulan disana. Karena satu kejadian, aku bisa kembali mengingat siapa diriku. Setelah itu, barulah aku mencari jalan untuk pulang ke kota.”


Biru menceritakan semua pada Bisma secara jujur. Dalam hati, Bisma mengutuk Biru, seharusnya pria itu selamanya berada di desa dan tak kembali lagi ke kota.


Seharusnya kau amnesia seumur hidupmu saja. Supaya kau selamanya berada di desa itu dan tidak datang lagi ke kota ini. Umpat Bisma dalam hati.


“Syukurlah kalau begitu. Aku senang kau kembali lagi,” ucap Bisma yang berbeda dengan kata hatinya.


“Aku juga senang bisa kembali lagi kesini. Aku senang bisa menjalankan rutinitasku lagi. Disana aku tidak memiliki kegiatan apapun. Itu cukup membosankan. Disini ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Aku merindukan pekerjaanku.”


“Ya, kau memang pekerja keras,” puji Bisma dengan senyum kepalsuannya. Di depan Biru ia bertingkah seolah teman. Tapi sebenarnya ia adalah musuh dalam selimut.


***


Setelah pergi dari perusahaan Adhitama, Bisma langsung menelepon Luna, tunangan Biru. Ia meminta wanita itu untuk bertemu dengannya di sebuah restoran. Tampaknya ada hal penting yang akan ia sampaikan pada wanita itu.


Bisma sudah memesan ruang VIP di sebuah restoran. Hanya ada dia dan Luna saja yang berada di ruangan itu. Sepertinya ia tak mau orang lain mengetahui pertemuannya dengan Luna.


"Ada apa? Sepertinya ada hal yang sangat penting sampai kau memintaku datang cepat-cepat kesini?" tanya Luna sembari duduk di seberang Bisma. Luna dapat menebak. Ini pasti ada kaitannya dengan Biru.


“Biru sudah kembali lagi ke perusahaannya. Apa kau sudah ada menemuinya sejak dia kembali ke kota?” tanya Bisma tanpa basa-basi.


“Ya, sudah. Aku sudah menemuinya kemarin. Dia selamat dari kecelakaan itu,” jawab Luna jujur.


“Si-al! Seharusnya dia mati saja dalam kecelakaan itu. Untuk apa dia pakai selamat segala!” Umpat Bisma yang tampak sangat kesal.


Luna hanya diam saja menanggapi kekesalan Bisma. Ia tak mau jadi sasaran kemarahan pria itu.


“Berarti kita kembali ke rencana awal kita. Kau satu-satunya wanita yang bisa aku andalkan. Kau harus menikah dengannya. Kalau perlu, kau desak dia untuk segera menikahimu,” kata Bisma lagi.

__ADS_1


“Biru baru saja kembali ke kota. Dia juga baru mulai masuk ke perusahaannya. Aku rasa dia tidak mungkin mau menikah dalam waktu dekat.”


“Kau harus memaksanya! Dia sangat mencintaimu. Buat dia menikahimu dalam waktu dekat!” desak Bisma.


“Aku akan mencobanya," ucap Luna yang tak mau Bisma marah.


“Kau harus memaksanya!” Bisma semakin mendesak.


Luna tampak menghela nafas dengan berat melihat Bisma yang sangat keras kepala ini. “Tapi Biru bukan orang yang mudah dipaksa. Kau tau sendiri dia bagaimana kan?” Luna terdengar kesal karena Bisma terus mendesaknya.


Bisma mendadak emosi. Ia tak suka mendengar bantahan dari Luna. Ia mendekati wanita itu dan mencengkram rahangnya dengan kuat. Luna terkejut dan berusaha memegang tangan Bisma yang mencengkramnya.


“Disini kau yang mengatur atau aku? Hah?! Lakukan saja apa yang aku perintahkan! Ingat, kau bisa jadi seperti sekarang itu karena aku. Jadi jangan lupa kesepakatan kita. Kau harus mematuhi perintahku! Kau mengerti?” bentak Bisma.


“I-iya, aku mengerti, tapi lepaskan dulu tanganmu ini,” jawab Luna dengan takut.


Mendengar itu barulah Bisma melepaskan cengkramannya dengan kasar. "Kau tau aku tidak suka dibantah tapi kau terus membantahku. Cukup jalankan saja apa yang aku perintahkan. Aku tidak bisa mengulur waktu lebih lama lagi untuk bersabar melihat kehancuran Biru."


Luna mendengus pelan. "Terserah kau saja. Aku ikut semua apa katamu. Aku akan segera menemui Biru dan memintanya untuk menikahiku."


Bisma menarik sudut bibirnya membuat senyum menyeringai di wajahnya. "Wanita yang pintar! Itu yang aku mau. Kau harus menuruti semua keinginanku. Tunggu saja kau, Biru. Perlahan tapi pasti, aku akan menghancurkanmu, Biru. Pasti!”


Luna bergidik melihat Bisma tersenyum menyeringai seperti itu. Pria itu tampak tak sabar sekali ingin menghancurkan Biru. Dan lebih si-alnya lagi, Luna lah yang dijadikan alat untuk mempermudah rencananya.


Luna sendiri sebenarnya adalah mantan kekasih Bisma. Ia lebih dulu berpacaran dengan Bisma sewaktu mereka sama-sama sekolah di luar negeri. Setelah selesai menamatkan kuliah mereka, mereka pun putus dan berpisah selama beberapa tahun.


Di suatu kesempatan mereka bertemu kembali dengan kondisi Luna yang berbeda dari saat mereka berpacaran dulu. Saat itu Bisma menawarkan sesuatu yang menarik untuk Luna dengan syarat harus membantunya menjalankan rencananya, yaitu menghancurkan Biru Adhitama.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2