
“Bi, kenapa diam saja?” Lila kembali mengulang pertanyaannya saat melihat Biru tak bereaksi apa-apa.
Biru tampak kesal, tapi Lila sendiri tak tau apa yang membuatnya kesal. Padahal Lila berkata jujur. Yang ia tau, benda yang ia pegang adalah kamera karena ia pernah berfoto bersama Jay sewaktu di desa.
“Bi...” suara Lila mulai lirih. Ia sedih kalau Biru mendiamkannya seperti itu.
Biru pun menghela nafas dalam-dalam. Ia tak tega melihat gadis yang ia cintai berwajah mendung.
“Kau tau kenapa aku marah padamu? Kau itu berani sekali berfoto berdua dengan Jay,” jawab Biru sambil mencubit pelan hidung Lila.
“Memangnya tidak boleh, ya?” tanya Lila lagi.
“Tidak boleh!” Biru menjawab dengan cepat. “Sekarang kalau misalnya kalau melihatku berfoto dengan wanita lain bagaimana? Apa kau akan mengijinkannya?”
“Foto saja kan? Salahnya dimana?” Lila masih bingung dengan maksud Biru.
Biru tampak berdecak sebal. “Jadi boleh aku foto dengan wanita lain? Kau tidak cemburu?”
Kening Lila tampak mengkerut. Tak lama ia malah tersenyum ke arah Biru. “Jadi kau cemburu, ya? Iya kan?” tebak Lila.
“Siapa yang cemburu? Aku kan hanya bertanya padamu,” sanggah Biru. Gengsinya masih terlalu besar untuk mengaku kalau ia memang cemburu.
“Yakin tidak cemburu? Kalau begitu, aku mau mengajak Jay berfoto lagi ah dengan handphone ini,” kata Lila sambil menunjukkan handphone-nya.
Biru langsung menatap Lila dengan tajam. “Coba saja kalau kau berani.” Suara Biru terdengar mengancam.
“Tapi tadi katanya tidak cemburu.”
Biru berdecak lalu segera berdiri. Ia kesal Lila masih belum memahami perasaannya. Lila pun ikut berdiri dan menahan Biru agar tak pergi.
“Bi, tunggu!” Lila memegang tangan Biru. “Aku minta maaf. Aku hanya becanda. Aku tau kau cemburu. Aku janji tidak akan berfoto lagi dengan pria manapun selain dirimu,” ucap Lila dengan cepat.
“Benarkah? Kau tidak bohong kan?”
Lila menggeleng dengan cepat. “Aku janji,” jawab Lila sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
Barulah Biru menarik sudut bibirnya lalu ia memeluk Lila. “Aku sudah membawamu kesini, tentu saja bagiku kau sangat berarti. Aku tidak rela kau berdekatan dengan siapapun termasuk Jay. Awas saja dia kalau berani dekat-dekat lagi padamu.”
__ADS_1
“Iya, Bi. Aku mengerti. Jangan ngambek lagi, ya. Aku disini hanya sebatang kara, kalau kau ngambek padaku, aku harus mengadu pada siapa,” ucap Lila tiba-tiba yang membuat Biru merasa bersalah.
Biru melepas pelukannya dan menatap Lila dalam-dalam. “Kenapa bicara seperti itu? Aku tidak akan meninggalkanmu. Kau bisa mengadu apapun padaku. Jangan bilang kau sebatang kara lagi, ya. Sekarang kau punya aku. Kapanpun kau butuh, aku akan selalu ada untukmu.”
Mata Lila mendadak memanas mendengar ungkapan Biru padanya. Ungkapan itu terdengar manis di telinga dan hangat di hatinya. Ia pun kembali ke dalam pelukan Biru.
“Makasih, Bi. Kau sangat baik. Aku menyayangimu,” ucap Lila dengan tulus.
“Aku juga menyayangimu. Ya sudah, sekarang kita istirahat dulu disini. Nanti malam kita ke rumahku untuk bertemu dengan keluargaku. Aku ingin mengenalkanmu pada mereka.”
Lila mendongak. “Bertemu ayah dan ibumu?”
“Iya, bertemu ayah dan ibuku,” jawab Biru. Lila terdiam sejenak. Jantungnya mendadak deg-degan saat tau akan bertemu orang tua Biru. Ia masih khawatir orang tua Biru belum bisa menerima gadis desa sepertinya.
Biru menangkap raut kegelisahan di wajah Lila. Ia pun menangkup kedua pipi gadis penyelamatnya itu. “Kenapa? Pasti kau khawatir orang tuaku tidak menerimamu kan?” tebak Biru.
Lila mengangguk pelan. “Jangan khawatir, mereka pasti menerimamu. Percayalah padaku,” kata Biru menyemangati.
“Baiklah. Semoga saja orang tuamu mau menerimaku, Bi,” ucap Lila penuh harap.
***
Malam harinya sekitar jam 7 malam, Biru memenuhi janjinya. Ia benar-benar pulang ke rumahnya bersama Lila. Sebelumnya ia sudah mengabari ayah dan ibunya melalui telepon. Jadi, orang tuanya sudah tau tentang kedatangannya, bahkan sudah menyiapkan makan malam spesial untuk menyambut Lila.
“Bi...” Lila menarik lengan Biru saat akan masuk ke rumah orang tua Biru. Gadis itu tampak gelisah.
Biru langsung menggenggam tangan Lila dengan erat. “Tenang saja. Orang tuaku sangat baik. Masa sama calon mertua sendiri takut?” canda Biru agar Lila tak begitu gugup.
“Ayo, kita masuk! Orang tuaku sudah menunggu,” ajak Biru. Ia menuntun Lila untuk masuk ke dalam rumahnya.
Begitu masuk ke dalam rumah, Lila kembali dibuat kagum dengan rumah Biru yang sangat besar dan mewah. Lantai rumahnya saja sangat licin dan bersih hingga memberi pantulan sinar dari cahaya lampu. Belum lagi hiasan, lampu gantung, dan furniture lainnya. Semua terkesan mewah dan mahal.
Saat mereka masuk ke ruang tamu, ternyata sudah ada ayah dan ibu Biru yang sudah menunggu kedatangan mereka.
“Ayah, ibu, aku sudah pulang. Ini aku bawa calon menantu ayah dan ibu sekalian,” ucap Biru tanpa basa-basi.
Lila tampak terkejut dengan ucapan Biru yang terlalu blak-blakan menurutnya. Seharusnya ia memperkenalkan nama dulu, bukan bilang calon menantu.
__ADS_1
“Jadi ini yang namanya Lila, ya?” tanya ibu Biru dengan ramah.
“I-iya, Nyonya,” jawab Lila terbata. Ia merasa sangat sungkan.
“Loh, kok panggil Nyonya? Panggil ibu juga dong. Ayo sini, jangan malu-malu.” Dengan sangat ramah ibunya Biru meminta Lila mendekatinya.
Lila pun mengangguk lalu menghampiri ibu Biru dan mencium tangannya. Tak Lila sangka, setelah itu, ibunya Biru malah memeluknya.
“Selamat datang di keluarga kami. Jangan sungkan. Anggapan kami seperti orang tuamu sendiri.”
Deg.
Hangat dan haru membaur jadi satu di hatinya Lila. Ternyata ia sangat diterima di keluarga itu.
“Iya, Bu. Terimakasih sudah sudi menerima Lila,” ucap Lila dengan suara bergetar karena haru.
Ibu Biru tersenyum lalu mengusap-usap punggung Lila. Ia tau perasaan Lila saat ini. "Tentu saja kami menerimamu. Biru sudah memilihmu. Sekarang kamu juga akan menjadi bagian dari keluarga kami."
Ibu melerai pelukannya. Mata Lila tampak mengembun. "Jangan nangis, nanti cantiknya hilang." Wanita itu menyeka airmata Lila. "Ayo, sekarang salam sama ayahnya Biru."
Lila mengangguk. Ia pun menghampiri ayah Biru dan menyalaminya. Ayah Biru mengusap kepala Lila dengan lembut. "Ayah senang akhirnya Biru membawamu kesini. Semoga kamu cepat beradaptasi dan betah tinggal di kota. Kalau butuh apa-apa, jangan sungkan untuk bilang pada Biru."
"Baik, Ayah. Terimakasih sudah menerima Lila," ucap Lila dengan rasa haru lagi.
Ayah Biru pun mengangguk.
"Kau tidak salaman denganku juga Lila?" canda Biru tiba-tiba.
"Tidak perlu. Tadi saja pas datang kesini sudah pegangan tangan. Jangan-jangan sewaktu menjemput Lila malah sudah berpelukan," tebak ibunya Biru.
"Namanya juga rindu, Bu," jawab Biru sambil menggaruk keningnya.
"Tuh kan, benar tebakan ibu. Ya sudah, sekarang waktunya makan. Ayo, ayo, kita ke meja makan sekarang!" ajak ibu Biru menyudahi perkenalan mereka.
.
Bersambung...
__ADS_1