Gadis Penyelamat Tuan Biru

Gadis Penyelamat Tuan Biru
35. Penolakan Luna


__ADS_3

Abimanyu dan istrinya sedang duduk di ruang keluarga. Mereka menghabiskan waktu bersama untuk menonton TV setelah makan malam. Tak lama Biru ikut bergabung menghampiri kedua orang tuanya. Ia mau membicarakan prihal keputusannya untuk memutuskan pertunangan dengan Luna.


“Ayah, Ibu, ada yang mau aku bicarakan sama Ayah dan Ibu. Aku juga sekalian ingin minta pendapat Ayah dan Ibu,” kata Biru memulai pembicaraan.


Biru sedikit gugup, tapi ia harus tetap mengabarkan hal ini kepada orang tuanya.


“Ayah tebak ini bukan soal perusahaan,” tebak ayah Biru lalu meneguk secangkir teh hangat miliknya.


“Benar, Ayah. Ini bukan soal perusahaan. Ini urusan pribadi, tentang pertunanganku dan Luna.”


Ayah dan ibunya saling pandang, lalu mereka menoleh ke arah Biru untuk menunggu pembicaraan selanjutnya.


“Aku ingin memutuskan pertunanganku dengan Luna,” ucap Biru pada akhirnya.


“Alasannya?” selidik sang ayah.


“Aku sudah tidak mencintainya lagi, Ayah. Dan aku tidak bisa memaksakan diri untuk tetap mempertahankan hubungan ini,” jawab Biru dengan jujur.


“Dari mana kau tau kalau kau sudah tidak mencintainya? Apa kau sudah menemukan gadis lain yang kau cintai?” Ayah sepertinya dapat membaca gelagat sang anak.


“Ayah benar. Aku mencintai Lila, Ayah. Gadis penyelamatku sewaktu di desa.”


“Biru, coba kau pikirkan baik-baik. Apa kau benar-benar mencintai Lila atau sekedar simpati saja padanya karena dia sudah menyelamatkanmu waktu itu? Ibu hanya tidak mau kau terlalu tergesa dalam memutuskan keputusan seperti ini. Kau sudah cukup lama menjalin hubungan dengan Luna. Coba pikirkan baik-baik.”


Ibunya tak ingin Biru salah langkah. Ia mau Biru memastikan dulu dengan benar perasaannya. Maklumlah, hati ini sifatnya mudah terbolak-balik. Hari ini masih suka, besok sudah lain lagi ceritanya.


“Aku yakin, Bu. Sangat yakin. Perasaanku padamu Lila murni karena cinta. Sementara dengan Luna, aku hanya merasa tertarik saja padanya. Luna selalu tau apa yang aku suka dan tidak. Dia wanita yang anggun dan pintar. Tapi sekarang aku sadar, aku hanya tertarik pada apa yang dia miliki, bukan karena cinta.”


Biru menyandarkan punggungnya di sofa. Lalu ia mengingat kembali sekilas kenangan yang bersama Lila. Gadis itu berhati tulus dan bersikap apa adanya. Tidak ada yang dibuat-buat. Ia melakukan semuanya tulus dari hati.

__ADS_1


“Beda dengan Lila, Bu. Dengan Lila aku selalu merasa nyaman. Aku selalu merasa ingin bersamanya setiap hari. Dia gadis yang baik, hatinya sangat lembut dan dia sangat tulus. Dia gadis yang apa adanya, tidak ada yang dibuat-buat.  Dia tidak pernah berusaha menarik perhatianku, tapi aku lah yang justru tertarik padanya. Aku yakin, aku sangat mencintainya, Bu.”


“Sekarang di desa keadaan Lila sedang tidak aman. Ada seorang pria yang menyukainya dan aku takut pria itu nekat berbuat macam-macam padanya Lila. Aku khawatir padanya. Untuk itu aku ingin membawa Lila ke kota. Tapi sebelumnya, aku harus mengurus urusanku dengan Luna dulu. Bagaimana menurut Ayah dan Ibu?” tanya Biru.


Sang ayah tampak menghela nafas dengan berat. Memutuskan pertunangan secara sepihak bukan hal yang mudah. Tapi tidak mungkin juga mau memaksakan untuk tetap dilanjutkan jika memang Biru sudah tak nyaman dengan hubungan ini. Jalan terbaik adalah bertemu dengan keluarga Luna dan membicarakan semuanya baik-baik.


“Kalau memang kau sudah yakin begitu, ayah dan ibu hanya bisa mendukung keputusanmu. Mumpung besok hari sabtu, kita akan ke rumah Luna dan membicarakan soal ini. Orang tuanya juga berhak tau karena saat bertunangan, mereka juga ada merestui kalian,” jawab sang ayah.


“Baik, Ayah. Aku setuju.”


“Kau harus siap dengan semua konsekuensinya. Luna tentu kecewa dengan keputusanmu dan mungkin saja dia akan menolak hal ini. Sebagai seorang pria, kau harus berani menghadapi resiko semacam ini dan tetap perlakukan Luna dengan baik.”


Biru mengangguk dengan yakin. Memang inilah resiko yang harus dia hadapi sebelum membawa Lila ke kota.


“Baik, Ayah. Aku siap menghadapi apapun resikonya. Aku harus segera membawa Lila ke kota.”


***


Ia berpikir Biru datang untuk membicarakan soal pernikahan mereka. Ternyata semudah itu membujuk Biru agar mau segera menikahinya, pikir Luna.


Setelah keluarga Biru dan keluarga Luna berkumpul barulah Biru memberitahu apa sebenarnya tujuan mereka datang ke rumah Luna.


“Sebelumnya saya ingin minta maaf sebesar-besarnya pada Luna dan keluarga.” Mendengar itu senyum di wajah Luna sudah mulai memudar. Ia menunggu dengan penasaran kalimat selanjutnya.


“Luna, maafkan aku karena aku tidak bisa melanjutkan kembali pertunangan kita.”


“Apa?!” Luna langsung terkejut bukan main.


Bukannya membicarakan tentang pernikahan, Biru malah ingin memutuskan pertunangan mereka begitu saja. Bukan hanya Luna saja, kedua orang tuanya juga ikut terkejut mendengar hal itu. Setau mereka selama ini hubungan antara Luna dan Biru baik-baik saja. Mereka tidak pernah bertengkar.

__ADS_1


“Biru, kau jangan bercanda! Ini bukan sesuatu yang bisa dipermainkan, Biru. Kita sudah lama bertunangan.” Luna tentu mengotot tak ingin memutuskan hubungannya dengan Biru. Selain tak ingin melepaskan Biru, ia juga takut akan mendapat ancaman dari Bisma kalau sampai ia gagal.


“Aku mengerti, Luna. Untuk itu aku minta maaf padamu. Tapi aku tidak bisa meneruskan pertunangan kita. Daripada nantinya kita berdua malah tidak nyaman, lebih baik kita akhiri hubungan ini sekarang juga,” jelas Biru.


“Apa ini karena kemarin malam aku memintamu agar kau menikahiku secepatnya? Kalau iya, aku masih bisa memberimu waktu. Aku tidak akan mendesakmu lagi.” Luna berusaha membujuk Biru, jangan sampai pertunangannya diputuskan begitu saja.


“Bukan. Ini bukan karena itu. Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang. Tapi yang pasti, aku hanya ingin mengakhiri pertunangan kita.”


“Tidak!” bantah Luna dengan cepat. Ia langsung berdiri dari duduknya. “Aku tidak mau! Aku mencintaimu dan aku mau pertunangan ini tetap dilanjutkan!”


Setelah mengatakan itu Luna segera pergi meninggalkan ruang tamu lalu mengunci diri di kamar. Luna menolak mentah-mentah niat Biru untuk memutuskan pertunangan mereka.


Akhirnya Abimanyu selaku ayah dari Biru ikut bersuara. Ia menjelaskan alasan kenapa Biru tidak melanjutkan pertunangan dengan Luna. Biru sudah tidak merasa nyaman dengan Luna dan memilih gadis lain. Memang sangat menyakitkan bagi Luna. Tapi hal ini harus diputuskan segera daripada tetap dilanjutkan namun keduanya saling tak nyaman.


Orang tua Luna tak bisa berbuat banyak kalau sudah begini. Mereka hanya bisa pasrah meskipun sebenarnya mereka sangat tidak menginginkan hal ini terjadi. Sekarang tinggal bagaimana caranya membujuk Luna saja lagi.


Di dalam kamar Luna langsung menelepon Bisma. Ia memberitahu apa yang baru saja terjadi.


“Jangan mau! Kau harus tetap meminta Biru melanjutkan pertunangan kalian. Bujuk dia!” titah Bisma.


“Aku sudah berusaha. Tapi sepertinya Biru serius kali ini. Orang tuanya bahkan ikut datang ke rumahku,” jelas Luna.


“Kalau begitu kau ancam saja dia! Bilang kau akan bu-nuh diri kalau sampai Biru memutuskan pertunangan kalian!” usul Bisma.


“Kau yakin? Apa aku harus melakukan itu?” Luna agak ngeri mendengar saran dari Bisma.


“Harus! Kau jangan mau menerima keputusannya begitu saja! Kau harus menggertaknya! Sekarang, pergi ambil pi-sau atau alat yang ta-jam lainnya. Tunjukkan pada Biru kau akan bu-nuh diri kalau sampai dia tetap ingin memutuskanmu!”


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2