
“Luna, aku...”
“Jangan bilang kau tidak mau menikahiku?!” tanya Luna dengan mata yang berkaca-kaca.
Melihat Biru tampak ragu dan tak bersemangat saat ia membahas soal pernikahan membuat Luna menebak kalau Biru terasa berat untuk menikahinya.
“Luna, please, kita bicarakan ini nanti. Oke?” bujuk Biru.
Luna tersenyum sinis mendengarnya. Ia tau itu hanya alasan klise untuk menolak secara halus permintaannya.
Tiba-tiba Luna mengambil tasnya lalu bangkit dari duduknya. Melihat itu Biru cepat-cepat mencegahnya. Ia memegang tangan wanita itu agar tak langsung pergi begitu saja.
“Luna, ayolah. Duduk dulu. Semua bisa kita bicarakan baik-baik,” cegah Biru.
“Kau tidak ingin membahas soal pernikahan, sementara aku ingin membahas itu. Kita sedang tidak sepemikiran jadi tidak ada yang perlu kita bahas lagi. Aku ingin pulang!” Luna tak mau dibantah. Ia ingin segera pulang dan memikirkan cara lain untuk mendesak Biru agar mau menikahinya.
“Oke, oke. Kita pulang sekarang. Aku akan mengantarmu.”
Biru pun mengalah. Ia ikut berdiri dan mengikuti kemauan Luna untuk pulang. Luna tampak masih marah padanya. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam tanpa ada pembicaraan apapun.
Baru saja Luna masuk ke kamarnya, sudah ada panggilan masuk dari Bisma. Luna yakin, pria itu pasti mau menanyakan hasil rencananya malam ini.
“Bagaimana? Apa dia menyetujui permintaanmu?” tanya Bisma tanpa basa-basi begitu panggilannya diangkat.
“Aku baru saja sampai di rumah. Kau sudah menanyakan hal itu padaku,” jawab Luna dengan sewot.
__ADS_1
“Aku butuh kabar darimu,” desak Bisma.
Luna memutar bola matanya malas. “Dia tidak mau membicarakan masalah pernikahan.”
“Itu artinya dia menolak untuk menikahimu?” tanya Bisma memastikan. Dahinya tampak mengkerut. Ia tak senang mendengar kabar itu.
“Bukan menolak. Dia hanya belum siap membahas masalah pernikahan secepat ini. Dia baru saja kembali ke kota. Banyak urusan yang harus dia kerjakan. Sepertinya dia belum siap menikahiku dalam waktu dekat,” jelas Luna.
“Kau harus memaksanya!”
“Akan aku coba.”
“Lakukan secepatnya!” titah Bisma dengan tegas.
“Apa kau tidak bisa bersabar sedikit?” Luna mulai kesal dengan pria itu.
“Aku sudah bertahun-tahun bersabar untuk menghancurkan perusahaannya! Karena perusahaannya lah perusahaan ayahku bangkrut! Ibuku sakit-sakitan dan kami sampai tidak punya biaya untuk berobat, sampai akhirnya ibuku meninggal. Lalu kau masih memintaku bersabar? Hah?!”
Dada Bisma nampak naik turun menahan amarah. Ia mudah sekali terpancing emosi saat berhubungan dengan almarhum ibunya.
“Aku sudah cukup lama bersabar. Aku memulai perusahaan ayahku lagi dari nol sampai saat ini. Tapi tetap saja, aku belum bisa menyaingi perusahaan Adhitama.”
“Dan satu-satunya cara yang bisa aku jalankan saat ini untuk melakukan rencanaku adalah dengan bantuanmu. Kau harus menikah dengannya, minta saham Adhitama atas namamu lalu setelah itu kalu alihkan saham itu untukku. Dengan begitu aku akan mudah menghancurkan perusahaan itu.”
“Kesabaranku sudah habis, Luna. Kau harus bergerak cepat. Kau tau apa resikonya jika kau tidak melakukan apa yang aku perintahkan,” ancam Bisma dengan serius.
__ADS_1
Wajah Luna langsung pucat. Ia tentu tak berani lagi membantah perkataan pria ambisius itu.
“I-iya, akan aku lakukan,” jawab Luna dengan gugup.
Seringai tajam muncul pada raut wajah Bisma. Ia senang Luna mau menurutinya.
“Bagus. Lakukan perintahku secepatnya!” ucap Bisma mengakhiri pembicaraan mereka malam ini.
Luna langsung merebahkan dirinya di atas ranjang. Ia merasa seperti boneka yang begitu mudah dipermainkan dan diperintah seenaknya oleh Bisma. Ia menyesal menerima banyak bantuan dari pria itu.
Sekarang dia sudah banyak berhutang budi pada Bisma. Kalau sudah termakan budi, beginilah susahnya. Apapun perintah Bisma, akan sulit untuk dia tolak.
Beberapa tahun yang lalu, jauh sebelum ia mengenal Biru, Luna sudah lebih dulu berpacaran dengan Bisma. Mereka berpacaran tidak lama, hanya hitungan bulan saja. Mereka putus atas kehendak Bisma. Pria itu tidak serius mencintai Luna. Ia hanya mau bersenang-senang saja, tapi tidak mau terikat dalam hubungan apapun.
Beberapa tahun setelah mereka berpisah, takdir kembali mempertemukan mereka. Saat itu keadaan Luna tak lagi seperti dulu. Keluarganya mengalami kesulitan finansial. Ia bahkan harus ikut banting tulang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Kesempatan itu ternyata dimanfaatkan oleh Bisma. Ia membantu Luna, memberi pekerjaan yang layak pada ayah Luna, hingga kehidupan mereka membaik seperti semula. Tapi ternyata itu semua tidak gratis. Bisma meminta Luna membantunya menjalankan rencananya.
Luna yang sudah termakan budi baik Bisma pun menyetujui hal itu. Ia dikenalkan Bisma dengan salah satu temannya, yaitu Biru.
Dari Bisma, yang merupakan teman Biru, Luna tau apa yang disukai dan tidak disukai oleh Biru. Hal itu tentu saja untuk mempermudah Luna mengambil hati pria itu. Dan ternyata berhasil. Luna berhasil menjadi kekasih lalu bertunangan dengan Biru.
Siapa yang akan menolak pesona seorang Biru Adhitama? Pria tampan yang merupakan CEO sukses di kota itu. Luna tentu saja menyetujui tawaran Bisma. Sayangnya hal itu sekarang menjadi boomerang untuk dirinya sendiri. Ia sudah jatuh cinta pada Biru, tapi ia juga dipaksa untuk menghancurkan pria yang dicintainya.
Mampukah Luna meneruskan rencana jahat Bisma?
__ADS_1
.
Bersambung...