
Lila membulatkan matanya saat merasakan sesuatu yang lembut menempel di bibirnya. Bahkan bukan hanya menempel tapi kini sudah memagut juga dengan pelan tapi menuntut.
Ya Tuhan, ada apa dengan otaknya? Ia mendadak tak bisa berpikir apa-apa. Apalagi saat ini jantungnya berdegup semakin kencang. Ia panik sekaligus bingung harus berbuat apa. Saat nafasnya mulai tersengal, ia menepuk-nepuk bahu Biru. Seolah meminta pria itu memberinya ruang untuk bernafas sekejap.
Tapi Biru masih terbuai dengan bibir manis itu, dia bukan menarik diri malah terus memperdalam ciumannya.
Tok tok tok.
Hahhhhh, akhirnya!
Lila langsung senang mendengar suara ketukan pintu. Seperti tebakannya, Biru langsung melepaskan bibirnya. Lila pun segera menghirup udara banyak-banyak.
Biru tersenyum. Ekspresi Lila sangat lucu sekali saat mengambil nafas seperti itu.
“Aku buka pintu dulu, ya. Nanti kita lanjutkan lagi,” ucap Biru sambil mengusap pipi Lila.
“Ti-tidak. Jangan, Bi. Kita belum menikah. Seharusnya tidak boleh melakukan itu,” tolak Lila dengan terbata.
Baru saja Biru ingin menjawab lagi, pintu sudah kembali diketuk. Ia pun segera bangkit lalu pergi membukakan pintu kamarnya. Ternyata sang ayah yang mengetuk pintunya.
“Ayah menyuruhmu membawa Lila ke lantai atas, maksud ayah ke ruang keluarga lantai dua, bukan ke kamarmu,” omel ayahnya langsung saat pintu sudah dibuka.
“Hehe, maaf Ayah. Takut tadi Luna menyusul ke atas,” kata Biru beralasan.
“Sudah, temui Luna di bawah. Selesaikan urusan kalian.”
__ADS_1
“Baik, Ayah. Aku turun sekarang.”
Biru pun berpamitan sekejap pada Lila, setelah itu dia turun ke lantai bawah menemui Luna. Begitu tiba di bawah, wajah Luna terlihat masam. Rupanya tadi orang tua Biru sudah menjelaskan lebih dulu siapa Lila.
“Luna.....”
“Jadi benar gadis itu yang membuatmu ingin memutuskan pertunangan kita?” tanya Luna tanpa basa-basi. Ia bahkan tak membiarkan Biru menyelesaikan kalimatnya.
“Aku memang mencintainya,” jawab Biru dengan jujur.
“Kau juga bilang kau mencintaiku sebelum bertemu dengannya. Iya kan? Kenapa kau tega memutuskan pertunangan kita begitu saja?” Suara Luna terdengar meninggi. Mumpung orang tua Biru sudah tidak ada disana. Di ruangan itu hanya ada mereka berdua saja.
“Dia lebih tulus mencintaiku, Luna. Dia sudah menyelamatkanku, dia yang merawatku dan dia menerimaku apa adanya meski aku tidak punya apa-apa. Aku nyaman berada di sampingnya.”
“Kau bisa bilang begitu sekarang. Tapi bagaimana dengan dulu? Dulu kita saling mencintai kan, Biru.”
Luna terdiam. Pertanyaan Biru seperti sebuah jebakan baginya. “Mau. A-aku mau. Aku tulus mencintaimu. Bukan karena siapa dirimu.”
Biru menggeleng. “Kau tampak ragu.”
“Tidak! Aku mencintaimu dengan tulus. Apapun kondisimu, aku akan tetap mencintaimu. Pokoknya aku tidak mau pertunangan kita putus. Aku tetap ingin bersamamu.”
“Tapi aku tidak, Luna. Maaf, aku memilih Lila.”
Luna pun langsung berakting menangis di depan Biru. “Biru, aku mohon jangan seperti ini. Aku masih mencintaimu. Aku tidak mau pertunangan kita putus.”
__ADS_1
Luna sengaja menangis dengan kuat. Ia berharap orang tua Biru akan menghampiri mereka dan membelanya.
Mendengar kegaduhan tentu saja orang tua Biru turun lagi ke bawah. Mereka turun bersama Lila. Melihat Lila ada disana, Luna langsung menghampiri gadis tak bersalah itu.
“Dasar gadis desa murahan! Kau pakai pe-let apa sampai Biru tergila-gila padamu? Hah? Dasar gadis tidak tau diri!” Luna yang kesal dengan Lila langsung menjambak rambut gadis itu.
Biru terbelalak. Mereka yang ada disana tak menyangka Luna akan senekat itu. Biru berusaha sekuat tenaga untuk melepas tangan Luna dari rambut Lila. Bahkan orang tua Biru juga ikut membantu meleraikan mereka sampai akhirnya Luna melepaskan rambut Lila yang ia tarik.
“Gadis kampungan! Perebut tunangan orang!” hardik Luna.
“Cukup Luna! Sekarang pergi dari sini! Kau hanya membuat keributan disini!” usir Biru dengan geram.
Lila pun akhirnya angkat bicara. “Kau bilang aku kampungan? Kelakuanmu lebih kampungan! Seenaknya saja menyerang orang lain dengan tiba-tiba. Dan satu hal yang harus kau tau, Biru yang menjemputku ke desa. Itu karena dia mencintaiku dan aku juga mencintainya. Aku tidak merebut siapapun!”
“Berani kau mengataiku?”
“Kenapa aku harus takut? Kau duluan yang mulai!” Lila tampak tak mau kalah.
“Kau memang.....”
“Cukup!” tegur ayah Biru. “ Luna, sekarang tinggalkan rumah ini! Saya tidak ingin ada keributan di rumah saya lagi. Pulang sana, jangan buat keributan disini!”
Kali ini Luna langsung terdiam. Ia tak berani membantah kalau sudah ayah Biru yang angkat bicara. Dengan berat hati ia pun pergi meninggalkan rumah itu.
Setelah kepergian Luna, tak lama Biru pun mengajak Lila kembali pulang ke apartemen. Ia ingin bicara berdua saja dengan gadis itu tentang hubungan mereka.
__ADS_1
.
Bersambung...