Gadis Penyelamat Tuan Biru

Gadis Penyelamat Tuan Biru
34. Menentukan Pilihan


__ADS_3

Lila masih terisak di atas tempat tidurnya. Ia duduk disana sambil memeluk bantal guling, meratapi nasib sebagai yatim piatu yang sangat lemah dan sedang terancam. Ia ingin hidup bahagia bersama orang yang ia cintai. Bukan dengan orang yang kasar dan suka memaksa. Tidak ada yang suka dengan perangai pria seperti itu. Apesnya, pria itu justru sangat menginginkannya.


Kemudian tiba-tiba saja ia teringat akan kalung pemberian Biru yang ada di lehernya. Entah kenapa ia jadi rindu dengan pria itu. Pria yang pernah berjanji akan datang kembali, tapi sampai saat ini belum datang menepati janjinya.


“Kalau nanti kau merindukanku, kau bisa pegang liontin itu dan tutup kedua matamu, bayangkan aku berada di depanmu dan tersenyum padamu.”


Kata-kata terakhir dari Biru terngiang kembali di telinganya. Ia pun menutup matanya dan menggenggam erat liontin berinisial L yang ada di kalungnya. Kenangan indah saat bersama Biru kembali bermain dalam pikirannya. Bukannya tersenyum, ia malah menangis semakin terisak karena merindukan Biru. Lila sangat membutuhkan sosok Biru sekarang ini.


***


Seperti memiliki keterikatan batin dengan Lila yang berada di desa, Biru saat ini juga ikut gelisah memikirkan gadis penyelamatnya itu. Ia teringat apa yang disampaikan Jay kemarin. Ada seorang pria yang mengintai Lila dan ia yakin itu pasti Reza.


“Apa sebaiknya aku membawa Lila ke kota saja, ya?” gumam Biru sambil menggosok-gosok dagunya.


“Tapi kalau aku bawa ke kota, dia akan tinggal dimana? Apa sebaiknya aku suruh dia tinggal di apartemenku saja untuk sementara waktu?” tanya Biru pada dirinya sendiri.


“Tapi kalau orang lain tau aku membawa gadis dari desa, lalu menyuruhnya tinggal di apartemenku  pasti jadi berita yang heboh. Sementara aku sendiri sudah punya tunangan. Akkkkhhhh kenapa masalah ini membuatku pusing?!”


Biru mengacak-ngacak rambutnya dengan kasar. Belum selesai urusan dengan Lila, ia sudah harus memikirkan masalah Luna. Hal itu benar-benar membuatnya pusing.


Tok tok tok.


“Masuk!”


Jay pun masuk ke ruangan Biru dengan membawa beberapa berkas di tangannya. Melihat rambut bosnya yang acak-acakan, membuat Jay mengernyit heran. Tanpa diminta ia mengeluarkan sisir kecil dari saku celananya dan mengulurkannya pada Biru.


Plaakkkk.


Biru menepisnya. “Apa-apaan kau ini?! Aku tidak butuh sisir,” ketus Biru.

__ADS_1


“Oh, maaf Tuan. Saya pikir Tuan membutuhkannya. Soalnya saya lihat rambut Tuan acak-acakan sekali hehehe,” jawab Jay sambil memasukkan kembali sisirnya ke dalam saku.


“Ck, bukan rambutku saja yang sedang acak-acakan! Kepalaku juga mau pecah rasanya,” keluh Biru.


“Tuan kenapa? Apa kepala Tuan sakit lagi bekas kecelakaan dulu? Perlu saya panggilkan dokter, Tuan?” tanya Jay khawatir.


Biru menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. “Duduklah dulu! Aku mau minta pendapatmu.”


“Baik, Tuan.” Jay pun duduk di kursi sesuai perintah Biru.


Biru tampak menghela nafas dengan berat. Sepertinya ada beban pikiran yang masih mengganjal di otaknya.


“Aku bingung, Jay. Aku tiba-tiba khawatir dengan Lila. Aku....”


“Saya juga khawatir dengan Nona Lila, Tuan. Saya kepikiran dengan pria yang kemarin mengintainya. Apalagi Nona Lila tinggal sendiri. Bisa saja pria itu berbuat jahat padanya,” potong Jay dengan cepat.


“Sekali lagi kau potong pembicaraanku, aku potong habis gajimu sampai tiga bulan ke depan!”


Bahu Jay meluruh. Ia tak berani lagi bersuara. Padahal ia hanya terlalu bersemangat bercerita tentang apa yang ia lihat kemarin saat di desa. Tapi sepertinya waktunya tidak tepat. Mood bosnya sedang tidak baik.


“Ma-maaf, Tuan,” ucap Jay pelan.


Biru pun kembali melanjutkan, “aku juga berpikir begitu. Makanya aku berencana ingin membawanya ke kota. Tapi masalahnya, aku sudah punya tunangan disini. Itu yang membuatku pusing saat ini. Belum lagi tadi malam Luna memintaku segera menikahinya. Aku bingung, Jay. Entah kenapa, aku tidak siap untuk menikahinya dalam waktu dekat.”


“Tuan tidak siap menikah dengan Nona Luna dalam waktu dekat, atau Tuan memang tidak ingin menikah dengannya?” tanya Jay to the point.


“Maksudmu?” Biru tampak bingung dengan pertanyaan Jay.


“Menurut saya, Tuan bukan tidak siap menikah dalam waktu dekat. Tapi Tuan tidak siap menikah dengan Nona Luna karena Tuan sudah memiliki perasaan pada Nona Lila,” jawab Jay.

__ADS_1


Biru terdiam sejenak. Wajahnya terlihat sedang mencerna perkataan Jay dengan benar.


“Kemarin waktu di desa, saya juga sempat bertanya-tanya tentang Tuan pada Nona Lila. Bahkan Tuan rela memberikan kalung yang Tuan siapkan untuk Nona Luna pada gadis itu. Saya yakin antara Tuan dan Nona Lila pasti sudah mulai tertarik satu sama lain. Tapi karena status Tuan yang sudah bertunangan, akhirnya Tuan mengabaikan perasaan itu,” lanjut Jay.


“Semua belum terlambat, Tuan. Mumpung Tuan belum menikah dengan Nona Luna. Tuan harus segera mengambil keputusan yang tepat. Tuan harus segera menentukan pilihan. Pilih Lila atau Luna. Semua ada di tangan Tuan sendiri. Tuan yang tau siapa yang bisa membuat Tuan merasa nyaman,” kata Jay mengakhiri pendapatnya.


Benarkah begitu? Apa aku benar-benar sudah memiliki perasaan pada Lila? Apa karena itu aku jadi selalu risau memikirkan keadaannya? tanya Biru dalam hati.


Mendengar perkataan asistennya itu membuat Biru semakin yakin akan rencananya untuk membawa Lila ke kota. Ia akan mengikuti kata hatinya untuk memilih Lila dan meninggalkan Luna. Dan tentunya ia juga harus siap menghadapi segala konsekuensi atas keputusannya ini.


“Kau benar, Jay. Aku rasa aku harus segera menentukan pilihanku. Aku akan membawa Lila ke kota. Tapi sebelum itu, aku harus memutuskan pertunanganku dulu dengan Luna,” ucap Biru dengan sangat yakin.


Jay pun mengangguk. “Saya setuju, Tuan. Saya akan mendukung semua keputusan, Tuan. Tuan jangan khawatir, saya akan terus berada di belakang Tuan untuk memberikan dukungan."


Barulah Biru bisa tersenyum lebar. "Terimakasih, Jay. Kalau begitu gajimu tidak jadi aku potong."


"Yang benar, Tuan?" kali ini Jay pula yang tersenyum lebar.


Biru mengangguk. "Ya, asal kau jangan membuatku kesal lagi! Dan kau juga tidak boleh mendekati Lila. Kau sudah tau sendiri kan bagaimana posisinya di hatiku?"


Jay mencibir. "Kemarin-kemarin tidak yakin, sekarang sudah bilang bagaimana posisinya di hatiku," ledek Jay.


Biru tergelak. "Wahhh, kau baru aku maafkan, sekarang sudah mulai meledekku. Sepertinya kau senang sekali kalau aku memotong gajimu," ancam Biru yang tentu saja tidak serius.


"Jangan, Tuan! Jangan dong, Tuan! Saya hanya becanda saja, Tuan. Cicilan apartemen belum lunas, Tuan." Lagi-lagi cicilan apartemen yang ia jadikan alasan.


"Alah, cicilan apartemen terus yang kau bahas!"


"Hehehe, memang tinggal itu saja Tuan yang belum lunas," sahut Jay sambil menggaruk keningnya yang tidak gatal.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2