
Setelah Bisma pergi dari perusahaannya, Biru memanggil asisten pribadinya, Jay, untuk datang ke ruangannya. Rencananya ia akan memberi tugas penting untuk Jay. Ia akan meminta Jay untuk ke desa, memberikan imbalan seperti yang sudah ia janjikan pada Lila dan tentunya tanda terimakasih untuk Paman Hardi dan keluarganya juga.
“Permisi, Tuan. Tuan memanggil saya?” tanya Jay saat masuk ke ruangan Biru.
Biru menunjuk kursi di depannya dengan dagunya. “Duduklah! Ada yang mau aku sampaikan.”
Jay pun duduk di kursi tersebut dan menunggu perintah dari Biru. Biasanya kalau sudah begini akan ada tugas penting yang akan Biru sampaikan padanya.
“Aku ingin kau memberikan tanda terimakasihku kepada orang-orang di desa yang sudah membantuku. Aku ingin kau yang menyampaikannya langsung,” jelas Biru.
“Maksud Tuan, orang-orang yang sudah menyelamatkan Tuan? Apa Tuan ingin memberikan sejumlah uang sebagai imbalan untuk mereka?” tanya Jay memastikan.
“Bukan hanya uang. Tapi ada beberapa barang lain yang juga harus kau bawa,” jawab Biru.
“Contohnya Tuan? Apa Tuan punya daftar barangnya?” Jay agak kebingungan.
“Jadi begini, waktu aku hanyut ke desa, aku ditolong oleh seorang gadis. Namanya Lila. Selama di desa aku dirawat dengan baik olehnya di rumahnya. Aku makan dan minum dengan cukup disana. Untuk itu, aku mau kau membawakan kebutuhan pokok yang banyak untuknya. Selain itu, ada juga tetangganya, namanya Paman Hardi. Beliau yang mengobatiku selama disana. Berikan juga kebutuhan pokok yang banyak untuknya,” jelas Biru.
Jay membuka notebook nya dan mencatat perintah Biru dengan rinci. “Baik, Tuan. Ada lagi?”
“Berikan juga uang tunai untuk mereka. Berikan seratus juga untuk Paman Hardi. Dan untuk Lila.... hmmm....berapa ya? Aku bingung. Aku mau memberikan banyak uang tapi sepertinya dia tidak punya rekening di bank.” Biru mencoba mengingat selama ia di desa, tak pernah sekalipun ia melihat Lila berurusan dengan bank atau semacamnya.
“Boleh saya tau Tuan berencana ingin memberikan berapa pada Nona Lila?” tanya Jay.
“Aku juga bingung. Dia telah menyelamatkan nyawaku. Berapapun uang yang aku berikan, rasanya tidak akan pernah cukup untuk membalas kebaikannya. Apa satu milyar cukup?”
“Satu milyar? Cash?” Jay terkejut sampai melotot pada Biru.
“Kenapa kau memelototiku? Aku tidak memakai uangmu!” ujar Biru.
__ADS_1
“Maaf, Tuan. Maaf. Bukan jumlah uangnya yang membuat saya terkejut. Tapi kalau diberikan secara tunai, saya rasa itu tidak aman untuk Nona Lila nantinya. Apalagi Nona Lila tidak punya rekening di bank,” koreksi Jay dengan cepat agar Biru tak salah paham.
Biru menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Rasanya benar juga apa yang disampaikan oleh Jay. Pria itu tampak mengangguk.
“Kau benar juga. Apalagi rumah Lila sangat tidak aman. Bisa saja rumahnya dirampok kalau ada yang tau dia menyimpan uang banyak,” kata Biru membenarkan.
Rumah Lila hanyalah rumah kecil yang tidak begitu aman. Pintu dan jendelanya terbuat dari kayu. Kuncinya hanya mengandalkan engsel yang tampak sudah longgar dan mudah dibobol dari luar. Menyimpan uang sebanyak itu di rumah tentu akan sangat beresiko untuk Lila. Ditambah lagi gadis itu hanya tinggal seorang diri disana. Itu akan membahayakan Lila.
“Kalau diberikan rutin saja per bulan bagaimana, Tuan? Jadi sebulan sekali saya akan mengunjungi Nona Lila untuk memberikan uangnya,” usul Jay.
Kening Biru tampak mengkerut. “Untuk apa kau sering-sering mengunjunginya? Kau mau cari kesempatan untuk mendekatinya?”
“Memangnya Nona Lila itu cantik, Tuan?”
Pluk!
Biru melempar pulpen yang pas mengenai jidat Jay. Ia merasa tidak suka Jay menanyakan soal itu. Padahal Jay hanya sekedar bertanya saja. Tidak ada maksud apa-apa.
Jay agak bingung dengan sikap Biru yang terkesan posesif dan cemburu padanya. Tapi ia tak mau berpikir macam-macam karena yang ia tau, Biru sudah memiliki tunangan.
“Maaf, Tuan. Saya tidak bermaksud mendekatinya. Hanya memberikan saran saja, Tuan,” ucap Jay.
Biru tampak diam sejenak memikirkan sesuatu. Lalu akhirnya sebuah ide muncul di kepalanya.
“Begini saja, beri saja dia seratus juta juga. Nanti bulan depan biar aku yang kesana langsung untuk memberikan uang padanya,” ucap Biru.
Menurutnya itu lebih baik. Jadi, setiap sebulan sekali ia bisa sekaligus menjenguk Lila. Dengan begitu pasti Lila akan senang karena ia tak melupakan jasa Lila padanya.
"Kalau begitu, setiap sebulan sekali, kau atur jadwalku untuk pergi ke desa. Kalau bisa, buat jadwalnya di akhir pekan saja, biar tidak menyita waktu kerja," tambah Biru lagi.
__ADS_1
“Baik, Tuan. Ada lagi Tuan yang harus saya bawa kesana?” tanya Jay lagi.
“Ada. Bawakan pakaian yang bagus untuknya. Kau beli di butik yang terbaik. Beli yang banyak. Tubuhnya langsing, tingginya sekitar 160 senti saja. Belikan pakaian harian, pakaian ke pesta dan juga piyama tidur yang bagus. Aku mau semua yang berkualitas bagus," jawab Biru sambil mengingat kembali sosok Lila di kepalanya. Gadis itu selalu memakai pakaian yang lusuh. Jauh dari kata modis. Jangankan modis, bahkan warna pakaiannya saja sudah banyak yang memudar. Entah berapa tahun sekali gadis itu membeli pakaian baru.
Jay pun mencatat kembali apa yang harus ia bawa. “Oke, Tuan. Ada lagi?”
“Bawakan juga coklat untuknya, dia pasti suka. Dan juga vitamin yang lengkap.” Ya, Lila butuh nutrisi yang cukup juga untuknya. Di desanya sana sepertinya tidak ada yang menjual vitamin. Kalaupun ada, jarang yang beli. Penduduknya akan mengutamakan membeli kebutuhan pokok saja.
Jay pun mencatat lagi. “Sudah, Tuan?”
Biru mengangguk. “Aku rasa segitu cukup.”
“Baik, Tuan. Besok akan saya bawakan semua yang Tuan minta ke desa.”
“Ya, terimakasih. Ingat, kau harus memberikannya sendiri. Berangkatlah jam empat subuh dari kota. Perjalanan kesana cukup jauh. Kau harus sudah kembali lagi di hari yang sama.”
“Siap, Tuan. Demi Tuan akan saya lakukan,” sahut Jay dengan antusias.
“Cih, kau senang sekali ditugaskan ke desa! Awas saja kalau kau berusaha mendekati Lila!”
“Memangnya Nona Lila masih jomblo juga, Tuan?” Jay penasaran.
“Sekali lagi kau bertanya tentangnya, bukan pulpen ku yang melayang. Tapi kursiku yang akan melayang ke kepalamu.” Biru sepertinya tak main-main dengan ucapannya.
“Maaf, Tuan. Baiklah kalau begitu saya siapkan dulu barang-barang yang harus saya bawa besok, Tuan. Saya permisi.”
Jay cepat-cepat berdiri lalu keluar dari ruangan Biru sebelum kursinya benar-benar melayang ke kepalanya. Jay malah jadi penasaran dengan sosok Lila yang dimaksud Biru. Apa dia gadis yang cantik atau malah sebaliknya? Tapi kenapa tuannya begitu perhatian pada gadis itu?
.
__ADS_1
Bersambung...