
“Ngomong-ngomong kau belum memperkenalkannya padaku,” ujar Bisma kemudian. “Apa dia masih tinggal di desa atau sudah di kota?”
“Aku sudah membawanya ke kota. Dia tinggal di apartemenku,” jawab Biru tanpa tau Bisma sengaja menggali informasi tentang Lila.
“Kau tinggal dengannya? Atau dia tinggal sendiri saja di apartemenmu? Kalian belum menikah siri kan?” tanya Bisma lagi.
Biru tergelak. “Untuk apa aku menikah siri dengannya? Aku akan menikahinya secara resmi.”
“Tapi kalian sudah tinggal bersama.”
“Aku hanya khawatir kalau membiarkan dia tinggal sendirian di kota besar seperti ini. Dia itu gadis yang sangat polos. Ini kali pertamanya datang ke kota. Jadi aku harus melindunginya.”
Bisma bertepuk tangan mendengar jawaban Biru. “Luar biasa. Kau terlihat sangat mencintainya sampai tak rela berjauhan darinya,” puji Bisma.
“Makanya kau harus cari wanita untuk kau jadikan kekasih, supaya nanti kau tau bagaimana rasanya jatuh cinta dan tak ingin berpisah jauh darinya,” sahut Biru.
Bisma mengangkat bahunya sekilas. “Lihat nanti, aku tidak mau tergesa-gesa dalam menjalin hubungan. Ada hal penting lain yang harus aku urus terlebih dahulu daripada mengurus percintaanku.”
‘Dan itu adalah merebut perusahaanmu,’ tambah Bisma dalam hati.
“Akan ada waktunya nanti kau jatuh cinta,” sambung Biru.
Kemudian Bisma pun mengalihkan topik pembicaraan mereka. Ia mulai mengajak Biru membahas soal bisnis saja.
***
Sekitar jam enam sore, Biru baru sampai di apartemen. Mendengar ada yang datang, Lila langsung segera berlarian menyambutnya. Ia yakin itu pasti Biru.
Lila sudah sangat bosan seharian menunggu Biru di apartemen. Saking senangnya melihat Biru pulang, ia pun langsung berhamburan memeluk pria itu.
Grep.
__ADS_1
Biru hampir terhuyung ke belakang saat Lila memeluknya tiba-tiba. Untung saja dia kuat menahan tubuh kecil gadis itu,
“Kau lama sekali. Aku bosan menunggumu tanpa mengerjakan apa-apa,” curhat Lila yang masih berada dalam dekapan Biru.
“Maaf, Sayang. Ada banyak pekerjaan di kantor. Lalu sebelum pulang aku mampir membeli ini untukmu.” Biru melerai pelukannya dan memberikan sebuah paper bag di tangannya pada Lila.
“Coklat?” tanya Lila dengan mata berbinar saat mengintip isi dari paper bag itu.
“Kau suka?”
“Tentu. Aku jarang sekali makan coklat di desa. Dan semua coklat yang kau berikan rasanya jauh lebih enak dari yang pernah aku makan.” Lila kemudian menatap Biru dengan lekat. “Terimakasih, Bi. Kau memberikanku banyak hal. Sementara aku tidak memberikanmu apa-apa,” lanjut Lila yang terdengar sedikit menyedihkan.
Biru pun menangkup kedua pipi gadis cantik di depannya itu. “Kau bilang tidak memberiku apa-apa?”
Lila mengangguk, sementara Biru malah menggeleng. “Kau memberikanku segalanya. Kau memberiku cinta dan pengorbanan. Apa yang kau lakukan padaku selama aku amnesia saat di desa dulu jauh lebih berharga daripada barang-barang yang sudah aku berikan padamu. Itu jauh lebih berharga, Sayang.”
Biru melanjutkan, “aku tidak mau apa-apa darimu selain cinta dan kesetiaanmu saja. Hanya itu. Itu sudah lebih cukup dariku. Kau bersedia untuk selalu setia padaku?”
“Kau lebih segalanya dari mereka, Sayang. Apalagi nanti saat kau sudah terbiasa tinggal disini, bergaul dengan teman-teman barumu, kau akan lebih bersinar daripada mereka.”
“Teman-teman baru?” ulang Lila.
“Aku berencana memasukkanmu ke perguruan tinggi atau lembaga kursus. Kau masih muda. Kau harus berkembang.”
“Maksudmu....aku.....sekolah lagi?” tanya Lila hampir tak percaya. Sorot matanya memancarkan keterkejutan dan rasa bahagia secara bersamaan.
Biru mengangguk. “Kau berhak hidup lebih baik, Sayang. Kau harus berkembang dan lebih maju lagi. Mau?”
Lila tentu sangat menginginkan itu. Ia pun mengangguk dengan cepat. “Tentu aku mau.” Baru saja hal itu terlintas di pikirannya tadi saat ia melamun sendirian di rumah.
“Aku senang kalau kau setuju. Kita bahas ini lagi nanti malam.”
__ADS_1
“Kenapa tidak membahas sekarang?” Lila tampak antusias.
Biru terkekeh lalu mengacak gemas rambut Lila. “Aku bahkan belum sempat mandi dan berganti pakaian.”
“Hehehe, maaf,” ucap Lila sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Ya sudah, aku mandi dulu. Kau juga ganti baju, ya. Aku ingin mengajakmu makan malam di luar. Sekalian kita melihat suasana malam di kota. Mau?”
“Serius?” Lila lagi-lagi hampir tak percaya.
“Iya, katanya kau bosan. Kita jalan-jalan berdua saja. Aku akan menunjukkan padamu beberapa tempat yang aku suka. Pergilah, ganti bajumu!”
“Oke, Bos.” Lila mengacungkan satu jempolnya.
Begitu Lila berbalik hendak masuk ke dalam kamar, Biru malah menarik tangannya. “Tunggu, tunggu. Upahnya mana?” Biru menunjuk pipinya.
“Tapi janji hanya di pipi,” tuntut Lila.
“Iya, tapi kiri dan kanan,” pinta Biru.
Lila pun berjinjit dan mencium pipi kiri Biru. “Selesai.”
“Mana satu lagi?” tagih Biru.
“Nanti setelah pulang jalan-jalan. Wleeeeeee...” Lila menjulurkan lidahnya lalu segera berlari masuk ke dalam kamar.
Biru pun tergelak karena Lila berhasil mengerjainya. Ia jadi semakin gemas dengan kekasihnya itu.
.
Bersambung...
__ADS_1