Gadis Penyelamat Tuan Biru

Gadis Penyelamat Tuan Biru
27. Kiriman Dari Biru


__ADS_3

Matahari tampak semakin meninggi. Jay yang sedang menyetir melihat jam tangannya, ternyata sudah lima jam lebih ia menyetir mobil. Selama perjalanan hanya sekali saja ia beristirahat untuk meregangkan otot-ototnya dan juga mengisi bensin. Setelah itu ia kembali melanjutkan perjalanan hingga masuk ke kawasan pedesaan.


Bersyukurnya Jay, meskipun desa tempat Lila tinggal sangat pelosok, tapi jalanannya sudah bagus dan sangat lebar sehingga memudahkan mobilnya terus masuk hingga ke tempat tujuan. Jay tak dapat membayangkan jika jalanan itu kecil dan ia harus mencari rumah Lila dengan berjalan kaki.


“Bisa mati kelelahan aku kalau harus berjalan kaki lagi,” umpat Jay.


Tak lama mobil pun sampai di sebuah lapangan besar. Berdasarkan cerita dari Biru, Jay sangat yakin ini lapangan yang dimaksud tuannya itu. Setelah dari sini berarti rumah Lila sudah tidak jauh lagi.


“Akhirnya...sebentar lagi sampai juga. Semoga Nona Lila ada di rumahnya. Jadi aku tidak perlu repot-repot mencarinya.”


Anak Paman Hardi yang sedang bermain di teras rumahnya melihat ada dua mobil melintas di depan rumah. Kedatangan mobil itu tentu menyita perhatiannya. Ia pun berlari ke dalam untuk memberitahu ayahnya. Saat itu ayahnya sedang berada di ruang tengah sambil menyusun beberapa obat ke dalam botol.


“Ayah....Ayah....ada mobil. Dua, Ayah. Yang satu seperti mobil box. Yang satunya lagi mobil bagus. Sangat mengkilap,” ucap Ferdi dengan antusias.


“Kau beli baru? Atau punya temanmu?” tanya Paman Hardi tanpa menoleh ke arah anaknya. Pria itu masih sibuk dengan urusannya.


Ferdi terdengar berdecak. “Ck, bukan, Ayah. Mobil asli, mobil betulan. Bukan mobil mainan,” jawab Ferdi sedikit ngotot agar ayahnya percaya.


Barulah Paman Hardi menghentikan aktivitasnya lalu beralih menatap anaknya.


“Mobil truk pengangkut barang?”


Ferdi menggeleng. “Bukan. Mobil-mobil ini lebih bagus, Ayah. Aku baru sekali ini melihatnya. Sepertinya mobil dari kota,” jawab Ferdi.


Bibi Fatma dan Lila yang baru dari dapur ikut menghampiri mereka. Sekilas Bibi Fatma dan Lila juga mendengar tentang mobil yang dibicarakan Ferdi.


“Kau yakin melihat mobil itu lewat depan rumah kita, Nak?” tanya Bibi Fatma.


“Yakin, Bu. Kalau tidak percaya ayo kita lihat keluar! Sepertinya mobil-mobil tadi mengarah ke rumah Kak Lila,” jawab Ferdi.


“Ke rumah Kakak?” ulang Lila.


“Iya, Kak. Siapa tau itu teman Kakak.”


Apa mungkin itu Biru? Tanya lila dalam hati.


Ia kembali mengingat kalau Biru berjanji akan datang kembali untuk menemuinya. Biru juga berjanji akan mengirimkan sesuatu padanya. Raut wajah Lila tampak sumringah. Ia berharap memang Biru yang datang dengan mobil yang dilihat Ferdi tadi.


“Ya sudah, sebaiknya kau pulang bersama Bibimu. Lihat apakah benar yang Ferdi bilang tadi,” saran Paman Hardi.

__ADS_1


“Baik, Paman.”


“Aku ikut, ya? Aku mau lihat mobilnya,” pinta Ferdi.


Lila pun merangkul bahu anak laki-laki itu. “Tentu saja boleh. Ayo!”


Mereka bertiga pun pergi ke rumah Lila untuk melihat siapa yang datang. Ternyata tebakan Ferdi benar. Kedua mobil itu terparkir tepat di depan rumah Lila. Tampak seorang pria berkaca mata hitam sedang mengetuk pintu rumah Lila yang kosong. Pria itu adalah Jay.


“Bu, benar kan apa kataku. Ada orang dari kota. Wawww mobilnya keren sekali!” seru Ferdi yang melihat mobil milik Jackson dari dekat.


Lila pun segera menghampiri Jay yang berdiri di depan pintu rumah.


“Maaf, Tuan. Tuan cari siapa, ya?” tanya Lila dengan ramah.


Jay berbalik lalu menoleh ke arah Lila. Ia membuka kaca matanya dan melihat Lila secara seksama.


“Maaf, apa anda Nona Lila?” Jay malah balik bertanya.


“Benar, Tuan. Saya Lila. Saya pemilik rumah ini,” jawab Lila.


“Akhirnya kita bertemu juga, Nona,” seru Jay dengan lega.


“Kiriman dari Biru?” ulang Lila terkejut.


Jay langsung mengernyit mendengar Lila memanggil Biru tanpa sebutan Tuan. Mereka sepertinya sudah sangat akrab, pikir Jay.


“Benar, Nona. Tuan Biru meminta saya secara langsung memberikan beberapa barang untuk Nona. Selain itu, Tuan Biru juga meminta saya memberikan sesuatu untuk Paman Hardi juga,” jawab Jay.


Lila dan Bibi Fatma saling melirik. Lalu Lila mengenalkan Bibi Fatma pada Jay. “Ini istri Paman Hardi dan itu anaknya.”


“Salam kenal, Tuan,” sapa Bibi Fatma.


“Salam kenal, Nyonya. Wah, saya beruntung sekali bisa bertemu langsung dengan orang-orang yang saya cari. Ini memudahkan pekerjaan saya.”


Selanjutnya Jay memanggil dua orang yang tadi berada di mobil box untuk menurunkan barang-barang untuk Lila dan membawanya masuk ke dalam rumah.


“Nona, maaf. Boleh buka pintunya? Saya mau menyuruh anak buah saya memasukkan barang-barang ke dalam,” ijin Jay.


“A-i-iya, iya. Boleh.” Lila yang masih terkejut dengan semua itu bergegas membuka pintu rumahnya dan membiarkan mereka masuk sambil membawa barang-barang itu. Ada beberapa barang yang diletakkan di dapur, ada juga yang diletakkan di ruang tamu.

__ADS_1


“Banyak sekali. Itu semua untuk saya?” tanya Lila keheranan menatap semua barang yang dibawa Jay.


“Benar, Nona. Sisa di dalam mobil ada beberapa barang untuk Paman Hardi dan keluarga. Setelah ini kami akan mengantar ke rumah Paman Hardi,” jawab Jay.


“Terimakasih banyak, Tuan. Saya dan suami merasa sangat terharu diberikan hadiah seperti ini,” ucap Bibi Fatma dengan tulus.


“Tidak perlu sungkan, Nyonya. Ini semua karena Nyonya dan suami sudah sangat baik pada Tuan Biru selama beliau disini.”


Jay mengeluarkan dua buah amplop coklat dari tas nya. Ia memberikan masing-masing amplop itu pada Bibi Fatma dan juga Lila.


“Ini apa, Tuan?” tanya Lila sambil membuka amplop itu. Matanya langsung membulat sempurna, mulutnya juga ikut menganga melihat uang yang sangat banyak di dalam amplop. Seumur hidup baru kali ini ia melihat uang sebanyak itu.


“I-ini...ini uang buat saya?” tanya Lila tak percaya.


“Benar, Nona. Tuan Biru sendiri yang memberikannya,” jawab Jay.


“Tapi ini terlalu banyak. Ini terlalu berlebihan. Aku ikhlas menolongnya, bukan untuk mengharap imbalan seperti ini,” tolak Lila.


“Benar, Tuan. Saya juga merasa uang ini terlalu banyak. Seharusnya uang ini bisa Biru pakai untuk keperluan hidupnya sehari-hari,” imbuh Bibi Fatma.


Jay rasanya ingin tergelak. Mereka belum tau saja uang seratus juta itu belum ada apa-apanya dibandingkan kekayaan yang Tuannya punya.


“Saya mohon Nona Lila dan Nyonya dapat menerima ini. Kalau tidak, bisa-bisa saya dipecat dari pekerjaan saya. Kasihanilah saya, tanggungan saya banyak. Bagaimana nasib saya kalau tidak memiliki pekerjaan nanti.” Jay berpura-pura memelas agar mereka mau menerima pemberian Biru.


Lila dan Bibi Fatma saling pandang. Mereka kasihan juga melihat Jay jika harus dipecat dari pekerjaannya hanya karena mereka tidak mau menerima pemberian Biru.


“Baiklah, kami terima,” ucap Lila pasrah. Barulah wajah Jay kembali senang.


“Terimakasih, Nona. Kalau begitu, saya selamat dari pemecatan,” ujar Jay.


“Ngomong-ngomong Biru sendiri kemana? Kenapa dia tidak ikut datang kesini dan malah menyuruh Tuan yang datang?” tanya Lila yang dari tadi penasaran tentang itu.


Jay kembali mengernyitkan keningnya. “Apa Nona berharap Tuan Biru akan datang kesini dan bertemu Nona? Kalau iya, nanti saya sampaikan pada Tuan Biru.”


“Eh, tidak, tidak. Bukan begitu maksudku. Aku hanya bertanya saja,” ralat Lila dengan cepat. Ah, dia jadi malu karena ketara sekali sedang mengharapkan kedatangan Biru.


Jay pun tersenyum. “Kalau iya juga tidak apa-apa, Nona. Tidak ada yang marah kok,” ledek Jay yang membuat Lila semakin tersipu malu.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2