
Setelah kejadian di kantin, Shintya jadi bahan bullyan. Teman-teman yang dulunya selalu ada perlahan pergi dan menjauh. Bahkan anak yang dulu pernah di bully sekarang membalas membully dirinya. Berbanding terbalik dengan Talita, dulu dihindari bahkan dijauhi sekarang dipuji, dan banyak yang mendekati. Rani, Dara dan Vida merasa risih dengan sikap sok akrab mereka dengan Talita.
"Heiii, apa yang kalian lakukan!" Vida mendorong seseorang yang melakukan pembullyan kepada Shintya.
"Ngapain kamu nolong dia, selama ini dia memanfaatkan kami." Kata Rini
"Apa bedanya kamu dengan dia, sama jahatnya." Ejek Dara.
"Tapi dia berteman dengan setan." Rini menunjuk Shintya yang menahan sakit di kakinya.
"Kamu juga berteman dengan setan, mau aku buktikan!" Tantang Talita.
Rini kaget mendengar ucapan Talita, dia dan teman-temannya meninggalkan mereka di ruang ganti.
"Shintya kamu tidak apa-apa?" Talita membantu Shintya berdiri.
"Iya, terima kasih kalian sudah menolongku." Shinya berdiri dan merasakan nyeri di kakinya.
"Sudah sini kami bawa ke UKS, kalian berdua tolong kami berdua ijin sebentar ya." Vida dan Dara membawa Shintya ke UKS.
"Ok, siap. Jangan sampai dua jam pelajaran ijinnya." Kata Rani.
Talita dan Rani berjalan melewati lorong kelas. Mereka berpapasan dengan seorang siswa Cowo , tiba-tiba Cowo itu menahan tangan Talita. Cowo itu menatap dalam Talita. Talita yang merasa tidak nyaman berusaha melepaskan pegangan tangannya.
"Angel, it's you?" tanya Cowo itu.
"Hei boy, kamu salah orang." Talita mencoba menjauh.
"Lepaskan!" Delvin muncul dengan tiba-tiba.
Rani serasa menonton drama cinta segitiga. Kehadirannya tak dianggap.
"Angel, aku Robin." Robin masih memegang tangan Talita.
"Lepaskan." Delvin menarik paksa Talita dan merangkulnya.
"Delvin, kenapa harus dia?" tanya Robin.
"Karena dia milikku." Kata Delvin.
"Delvin kamu apa-apaan, Robin maaf aku bukan Angel." Talita melepaskan rangkulan Delvin dan menarik tangan Rani yang masih melongo untuk menjauh dari Delvin dan Robin.
Tidak jauh Talita dan Rani melangkah. Tiba-tiba ada putaran angin menyapu Talita, Rani, Delvin dan juga Robin. Mereka seperti masuk ke dalam mesin waktu. Mereka jatuh dari udara.
BRUUUKK!
"Tempat apa ini?" Mata Talita berkeliling.
"Talita, kita dimana?" Rani memperhatikan pepohonan rindang yang mengitari mereka.
"Delvin, lindungi mereka. Ada yang mengintai kita." Robin waspada.
"Talita, Rani tetap berada di belakang kami." Delvin berhati-hati.
KRAAAKKKK!
__ADS_1
Ada seseorang yang muncul dari semak-semak. "Selamat datang Angel."
"William!" Robin dan Delvin menemui teman lamanya.
"Hallo Robin, Delvin kita bertemu lagi. Hallo Angel, ini adalah pertemuan pertama kita. Kenalkan aku William, orang yang akan mendampingimu." William melambaikan tangannya.
"Maaf, aku bukan Angel. Mengapa kalian semua memanggil aku Angel. Dan mengapa kalian semua ingin berdampingan denganku?" Talita dengan kebingungannya.
"Jika ingin tahu jawabannya, jadilah pasanganku." William menjentikkan jarinya, tubuh Talita melayang mengarah ke William.
"Talita!" Delvin sekuat tenaga menarik kembali Talita.
Talita mengeluarkan energinya, dia memukul William dari jarak jauh. William terhempas. Tiba-tiba dari berbagai arah muncul serigala-serigala yang bersiap menerkam.
ROAARRRR! ROAAARR!
"Oh tidak, tooolooonggg!" Teriak Rani.
Serigala mengepung mereka dan siap menyerang, Robin, Delvin, Talita dan Rani terdesak ke tengah.
"Robin, Talita, Rani mari berpegangan tangan. Keluarkan semua energi kalian!" Delvin pun mengalirkan energinya.
Angin besar berputar kembali menarik mereka ke dalam mesin waktu, mereka berpusing-pusing, terbentur, tertabrak satu sama lain, dengan susah payah akhirnya mereka berhasil kembali ke sekolah.
"Rani, Rani, bangun!" Robin menepuk pipi Rani.
"Talita kamu tidak apa?" Delvin memangku Talita.
"Aku tidak apa, Rani sadar lah!" Talita membangunkan Rani.
"Kita di sekolah." Kata Talita.
"Bisa kalian jelaskan apa yang barusan terjadi?" Talita menatap Delvin dan juga Robin.
"Delvin tolong kau tunjukkan kepada Talita." Robin mengeluarkan ponselnya.
Delvin memegang tangan Talita dan memejamkan matanya. Ada cahaya terang mengelilingi tubuh Talita, dan di belakang punggung Talita mengeluarkan sayap putih seperti malaikat. Perlahan cahaya itu redup. Rani terkejut dengan apa yang dilihatnya.
"Angel!" Rani memegang dagu dan membuka lebar rahangnya.
"Ini." Robin menunjukkan rekaman video dari ponselnya.
Talita seperti halnya Rani seakan tidak percaya apa yang baru saja mereka lihat.
"Jadi di mata kalian aku seperti ini?" tunjuk Talita ke ponsel Robin.
"Iya, karena kamu istimewa. Tugasku melindungimu dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab." jawab Delvin.
"Mengapa William mengejarku?" tanya Talita
"Talita, William adalah Ketua Geng Tengkorak. Mereka adalah manusia setengah serigala. Untuk menjadi manusia seutuhnya dia harus berdampingan denganmu, atau dia harus meminum darahmu. Kekuatan yang kamu miliki sangat lah besar, tapi itu semua ada campur tangan dari Delvin. Karena dia...." Robin menggantung kalimatnya.
"Karena apa?" Talita mengerutkan dahinya.
"Karena dia yang diutus untuk menjagamu." Ucapan Robin terdengar seperti orang kesal.
__ADS_1
"Robin, ini semua adalah takdir." Delvin menepuk bahu Robin.
"Apa yang harus aku lakukan untuk menghindari mereka?" tanya Talita.
"Hadapi mereka. Aku akan berusaha berada di sisimu. Jika sesuatu yang sangat genting terjadi. Panggil namaku di hatimu." Kata Delvin.
Tiga orang siswa cowo yang amat lah ganteng mendekat. Rani takjub. Matanya tak berkedip.
”Robin, Delvin." Panggil Danish.
"Kemana saja kalian?" tanya Vicky.
"William mengundang kami ke tempatnya." Jawab Robin.
"Apa yang terjadi?" tanya Rakha.
"Dia ingin mengambil Talita. Untuk kami masih bisa menyelamatkan diri dan selamat." Delvin menghela nafas.
"Hallo aku Rakha, dia Vicky." Rakha mengenalkan diri.
"Hallo aku Rani dan ini Talita." Rani masih tersihir dengan ketampanan mereka.
"Kami di kelas XI.1. Kalian kelas berapa?" tanya Vicky.
"Kami kelas X.5. Kalian udah punya...?" belum habis Rani bertanya tangannya sudah ditarik sama Talita.
"Udah dulu ya kami duluan masuk kelas, dahhhh." Talita berlalu dan Rani mewek melambaikan tangan.
"Iiiihhhh Talita, belum juga minta nomor WA mereka. Gagal deh punya pacar." Rani cemberut.
"Mikir Cowo mulu, sudah berapa jam kita bolos." Talita mempercepat langkahnya.
"Mampus gua, mana hari ini mapel Bu Wina. Ayooo cepetan." Rani berlari menuju kelas.
...----------------...
"William, bagaimana dengan lukamu?" tanya Anya teman wanita William.
"Tidak terlalu dalam, gadis itu masih belum menyadari kekuatan yang dia punya." William memegang dadanya yang nyeri.
"Apakah harus berdampingan dengan dia?" Anya seolah tidak rela William bersama dengan orang lain.
"Sejak awal aku hanya menginginkan darahnya, tapi setelah aku berjumpa, aku mulai menyukainya." William tersenyum mengingat pertemuan singkatnya dengan Talita.
"Bagaimana denganku?"
"Kamu tetaplah teman wanitaku, yang harus selalu di sampingku." William menatap Anya.
"Hanya sebagai teman?" Anya merasa kecewa.
"Kamu adalah cinta pertamaku. Orang yang selalu mengisi hari-hariku."
"Cinta pertamamu, apakah bukan orang yang akan mendampingimu?" Anya membalas menatap William.
"Kita lihat nanti. Sekarang aku akan memuaskan mu." William dan Anya bercumbu.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...