Gadis Pilihan

Gadis Pilihan
Di ujung Maut


__ADS_3

BRAAKKK!


BRAAKKK!


Bagian belakang Raize Danish diseruduk mobil Hanin.


"Weeiiii gila loe yaa!" Danish menepikan mobil, dengan penuh emosi Danish turun dari mobil, mengambil sesuatu dari bagasi mobil dan menghampiri mobil Hanin.


CRAAAAACK!


CRAAAAANG!


Danish memukul Kap mobil dan lampu depan Rocky Hanin dengan tongkat bisbol.


"Loe cari masalah sama Gue!" Hanin turun dari mobilnya.


"Hello, bukannya loe yang cari masalah dengan kita-kita. Mobil Gue salah apa coba, loe main seruduk aja!" Danish memegang tongkat bisbolnya.


"Danish orang gila jangan diladenin, apa sih masalah loe?" Aydan juga keluar dari mobil.


"Gue cuman perlu Delvin." Hanin menyilangkan kedua tangannya.


"Ada perlu apa sama gue?" Delvin menghampiri Hanin.


"Hei Delvin, gue gak suka ya loe jalan sama orang lain. Loe itu cuman milik gue." Hanin dengan kepercayaan dirinya.


"Siapa loe?" tanya Delvin.


"Gue orang yang cinta mati sama loe." Hanin penuh percaya diri.


"Maaf gue gak cinta sama loe. Hanin cukup, gue selama ini diam bukan berarti gue suka sama loe. Gue diam karena gak mau ribut. Satu perusahan sudah loe bikin gaduh dengan gosip kita berdua bertunangan. Dan sayangnya Papa loe juga mendukung aksi gila loe itu. Papa dan anak sama saja." Delvin berbalik masuk ke dalam mobil."


"Danish yuukk!" Aydan juga meninggalkan Hanin dan masuk ke dalam mobil.


"Sekali lagi loe berulah, lihat nanti!" Danish meninggalkan Hanin yang terlihat emosi.


"Bro, perasaan gue gak enak." Kata Aydan.


"Apa karena Khanza?" tanya Talita.


"Bukan, bentar gue kirim pesan ke Ayah dulu." Aydan mengetik sesuatu dari ponselnya.


"Talita, gue antar pulang sekalian antar Aydan." Danish melajukan mobilnya.

__ADS_1


"Aydan, emang seberapa kenalnya sama Hanin?" tanya Delvin.


"Gue dulu tetangganya Hanin. Papa dan Mamanya bercerai, karena Papanya Hanin seorang Cassanova. Hanin dimanjakan Papanya, apa pun yang diinginkan selalu dikabulkan. Oleh karena itu Hanin harus mendapatkan keinginannya termasuk cinta." Aydan cerita.


"Maaf gaeeesss gue nyela. Apa perasaan gue ya, mobil hitam di belakang dari tadi ngikutin kita. Bentar gue belok arah dulu." Danish mutar mobilnya ke arah kanan.


Mobil hitam di belakang juga ke kanan. Danish mutar ke kiri, mobil hitam itu pun mengikuti.


"Tuh kan gue yakin 10000 persen, ini pasti orang-orangnya Hanin. Mereka juga gila bro sama kayak bosnya. Untung gue laporan ke Ayah." Aydan merasa was-was.


"Danish jangan terpancing, tetap jalan." Kata Delvin dari belakang kursi Danish.


Danish tetap melaju dengan mobilnya. Mobil hitam yang mengikuti mereka tiba-tiba dengan kencang menyalip. Mobil itu menghilang dalam kemacetan.


"Aman gaeessss." Kata Danish.


"Syukurlah." Talita mengusap dadanya.


Tiba-tiba dari arah belakang mobil, BRAAAKKK! dari samping kanan mobil BRAAAKK!


"Weyyy main keroyokan." Danish mengendalikan mobilnya yang menyentuh trotoar jalan.


"Hati-hati Bro, mereka pro!" Teriak Aydan.


Danish berusaha menghindari kejaran dua mobil putih yang ada di samping dan di belakangnya. Danish menyelip mobil yang ada di depannya. Terus melaju kencang, mobil Danish meliuk ke kiri dan ke kanan. Mereka memasuki jalan yang sepi. Tiba-tiba dari arah depan mobil hitam yang sebelumnya mengejar mereka melaju kencang hendak menabrakkan diri ke arah mobil Danish.


"AWAAAAAAAASSSS!" Talita, Delvin dan Aydan berteriak kencang.


Pandangan Danish terhalang silauan cahaya lampu mobil, refleks Danish membanting setir ke arah kiri jalan dan menabrak jembatan. Mobil Danish meluncur jatuh ke dalam sungai.


BYUUURRR!


Talita, Delvin, Aydan dan Danish berusaha melepaskan seat belt dan membuka pintu mobil. Tekanan air membuat pintu mobil tidak bisa terbuka. Benturan keras berulang-ulang terjadi.


CELEPUK! CELEPUK! CELEPUK!


Air sungai dengan cepat memenuhi dalam mobil.


Delvin melepaskan headrest yang terpasang di kursi depan mobil yang di duduki Danish, dan memukulkan besinya ke jendela mobil. Tapi tenaga Delvin lemah.


Mereka sekuat tenaga berusaha menyelamatkan diri. Gelembung-gelembung air keluar dari nafas mereka. Perut terasa pecah seakan meminum bergalon-galon air. Hidung terasa sesak dan panas. Delvin memberikan oksigen melalui mulut Talita. Tak berlangsung lama, Delvin tak sadarkan diri, disusul Danish dan Aydan yang mengambang.


Siapapun tolong kami, batin Talita. Dan Talita pun kehabisan nafas.

__ADS_1


Dari atas jembatan, driver mobil hitam dan dua orang temannya yang mengendarai mobil putih memeriksa keadaan. Setelah dirasa tidak ada yang mencurigakan, mereka segera meninggalkan tempat kejadian.


Haris Papanya Aydan setelah mendapatkan pesan langsung mencari keberadaan Aydan.


Haris yang waktu itu masih berada di rumah Alan segera menceritakan tentang Hanin. Alan dan Conan menghubungi orang-orang kepercayaan untuk mencari anak-anak mereka.


Conan mendapatkan informasi ada tabrakan yang terjadi di jalan tol arah luar kota, ada saksi mata yang melihat kejadian seorang pengemis melihat sebuah mobil menabrak jembatan dan terjatuh ke sungai. Setelah melaporkan ke pihak kepolisian, akhirnya pencarian pun dilaksanakan.


Conan, Alan, Haris dan orang-orang kepercayaan mereka beserta pihak kepolisian dan tim SAR tiba di lokasi kejadian. Dari atas jembatan terlihat gelembung-gelembung besar muncul dari permukaan sungai. Semakin lama semakin besar. Sesuatu yang besar timbul, perlahan naik seolah ada sesuatu yang mengangkatnya ke permukaan. Nampaklah sebuah mobil dengan kondisi bagian belakang dan kiri kanan yang penyok bekas hantaman keras. Air sungai mengucur deras jatuh dari dalam mobil. Pemandangan yang sungguh di luar akal manusia. Tidak ada seorang pun di sana yang mengeluarkan mobil itu dari dalam sungai. Mobil itu keluar dengan sendirinya.


"Itu mobil Danish, cepat selamatkan mereka!" Kata Alan.


"Delvin, Talita dan Aydan juga ada di dalam." Conan segera mendekati mobil Danish.


"Maaf biar kami melakukan tugas kami." Pihak kepolisian segera mencek keadaan empat orang anak remaja yang berada di dalam mobil.


"Ay, Ay, bangun."


Aydan dengan berat membuka mata, "Khanza."


"Kamu harus bangun." Khanza tersenyum menatap Aydan.


"Aku ingin seperti ini bersamamu." Aydan bangun dan memeluk erat Khanza.


"Aku akan selalu ada di hatimu. Kamu harus kuat. Jalanmu masih panjang." Khanza membalas pelukan Aydan.


"Aku tidak ingin berpisah lagi denganmu." Aydan tidak melepaskan pelukannya.


"Belum waktunya kita bersama. Aku ingin melihat kau hidup bahagia."


"Khanza, aku tidak tau bagaimana nanti hidupku tanpamu. Mengapa kau tidak mengajakku?" Aydan lirih.


"Baiklah aku akan bersamamu." Khanza melepaskan pelukannya dan mengulurkan tangannya.


"Khanza aku akan ikut denganmu." Aydan berdiri memegang erat tangan Khanza dan mengikuti langkah Khanza.


Khanza menarik tangan Aydan kekasihnya. Dengan lembut Khanza mencium kening, pipi kiri dan kanan Aydan. Khanza juga mencium tangan Aydan.


"Masuklah ke dalam cahaya itu." Khanza menunjuk cahaya putih di hadapan Aydan.


Aydan patuh, dengan perasaan cintanya yang begitu dalam, Aydan masuk ke dalam cahaya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2