
12 tahun sudah berlalu, Rafi, Alina, Talita dan adik laki-lakinya bernama Pasya kini tinggal di kota A. Talita sekarang tumbuh menjadi gadis remaja berusia 16 tahun. Sejak kejadian 12 tahun yang lalu dimana Talita bertarung melawan Nyai, Talita bisa melihat makhluk-makhluk tak kasat mata. Talita kecil sering membantu makhluk tak kasat mata tersebut bersama Falisha saudara kembarnya. Karena kelebihannya itu, Talita kecil sempat dikucilkan oleh teman-temannya. Karena sering bicara sendiri, tertawa sendiri, ketakutan sendiri.
Setelah berumur 12 tahun Talita mulai terbiasa dengan dunianya. Yang membuat Talita tidak biasa adalah semakin dewasa kecantikannya semakin membuat orang tergila-gila. Tidak sedikit gadis seusianya yang menaruh iri terhadapnya. Talita memutuskan menutup wajahnya menggunakan masker.
Tahun ini Talita akan memasuki sekolah tingkat SMA. Talita mendapatkan bea siswa dari dua sekolah yang terbilang favorit di kota A.
"Talita sudah kamu putuskan sekolah dimana Nak?" tanya Rafi.
"Talita masih bingung Pa, apa Talita memilih Sekolah Negeri aja?"
"SMA Nusantara dekat dengan kantor Papa, SMA Negeri lumayan jauh dari rumah kita." Kata Rafi.
"Kalo Mama terserah kamu saja sayang, mau sekolah dimana." Alina menyuguhkan sarapan di atas meja.
"Kak Talita mau sekolah dimana pun pasti membuat ribut satu sekolah." Pasya duduk di samping Talita.
"Memangnya kenapa?" Talita mengerutkan dahinya.
"Ya itu karena wajah Kak Talita, Pasya gak bisa lindungin Kak Talita karena Pasya masih kecil." Pasya menyantap nasi goreng di hadapannya.
"Makanya makan yang banyak biar cepat besar bisa lindungin Kakak." Talita mengusap kepala Pasya.
"Pa, Ma, nanti Talita di jemput Rani, mau jalan-jalan, boleh?"
"Boleh sayang, ayo habisin dulu sarapannya." Kata Alina.
"Mau kemana sayang?" tanya Rafi.
"Mau jalan-jalan ke rumah Nenek Rani Pa." Jawab Talita.
"Hati-hati di jalan, jangan ngebut, pulang jangan malam. Nanti kamu lihat yang macam-macam lagi."
"Iya Pa." Talita tersenyum ke Papanya.
TIT! TIT!
"Ma, Pa itu Rani jemput, pergi dulu ya." Talita mencium punggung tangan ke dua orang tuanya. Tak lupa Talita mencium kening Pasya.
"Pulang bawa pacar ya Kak." Pasya menggoda Talita.
"Oke deh, nanti Kakak bawa sepuluh." Talita melambaikan tangannya.
"Ran, udah sarapan?" Talita memakai helmnya.
"Sudah, ayo nanti keburu mataharinya keluar." Rani melajukan motor maticnya.
Udara pagi yang sejuk, matahari yang masih malu-malu bersembunyi di balik awan putih, mengiringi perjalanan dua gadis cantik menyusuri jalan yang masih belum begitu ramai. Dari jauh nampak seorang Nenek tua dengan tongkatnya berdiri di pinggir jalan, Talita dan Rani menghentikan motornya.
"Ran, berhenti. Ayo kita tolong Nenek itu." Talita melepas helmnya dan turun dari motor menghampiri si Nenek.
"Permisi Nek, mau kemana?" tanya Talita.
__ADS_1
"Mau ke seberang sana, tapi Nenek takut." Jawab si Nenek.
"Mari Nek biar kami bantu nyebrang." Talita menggandeng tangan Nenek.
Rani berjalan di depan mereka, tangannya memberi isyarat untuk berjalan pelan kepada para pengendara jalan.
Tiba-tiba angin bertiup sedikit kencang, meniup rambut panjang Talita, masker Talita terlepas. Semua mata tertuju kepada Talita. Tidak terkecuali Seseorang yang melihat Talita di balik kaca mobilnya. Talita segera mengambil masker dan menutupi wajah cantiknya.
Tiba lah mereka di seberang jalan. Nenek tua itu berterima kasih kepada Talita dan Rani.
"Terima kasih Nak. Kalian sudah menolong Nenek. Kalian berdua akan mendapatkan kabar baik." Nenek itu tersenyum.
"Iya Nek, kami permisi." Rani dan Talita kembali ke seberang jalan.
"Talita ayo cepetan, tuh penggemar kamu banyak di belakang." Tunjuk Rani kepada orang yang di belakang mereka.
"Sudah, meluncur!" Kata Talita.
Mereka melaju melanjutkan perjalanan.
"Ikuti dua gadis itu, akhirnya aku menemukanmu." Kata Seseorang di dalam mobil.
Mereka memasuki area rumah makan yang mana di sampingnya ada kolam pemancingan.
"Hmmmm, lapar." Rani mencium aroma ikan bakar.
"Lumayan dua jam perjalanan, cacing di perut sudah mulai konser." Talita memegang perutnya.
"Halo Om Anton. Rani masuk dulu ya." Rani dengan sopan menyapa.
Langkah Talita terhenti, di depan pintu masuk berdiri sesosok Genderuwo tinggi besar. Rani yang telah lama mengenal sahabatnya menyadari ada sesuatu yang terjadi.
"Talita ada apa?" Rani berbisik.
"Ada Genderuwo kiriman, mungkin ini ada hubungannya dengan bisnis Nenekmu." Kata Talita.
"Baiklah aku mengerti, aku masuk dulu. Ingat hati-hati." Rani segera berlalu.
"Eheem, hai makhluk jelek berbulu. Apa tidak lelah berdiri di situ?" Talita sengaja mengejek.
Makhluk itu berbalik memandangi Talita.
"Siapa kau? Apa kau melihatku?"
"Siapa yang tidak bisa melihatmu. Apa tujuanmu datang kemari?" tanya Talita.
"Aku ditugaskan mengunci rumah makan ini, agar tidak ada yang datang ke sini." Jawab Genderuwo.
"Jangan menutup rejeki mereka, kasian mereka menghidupi keluarganya dari rumah makan ini." Kata Talita.
"Aku hanya menjalankan perintah. Pergi kau anak kecil. Jangan ganggu urusanku." Genderuwo marah, dia menyerang Talita.
__ADS_1
Talita berlari mencari tempat yang sepi dari keramaian.
Sebuah mobil masuk ke area pemancingan. Seseorang keluar dari mobil dan ikut mengejar Talita.
"Pergilah, aku memintamu baik-baik. Katakan kepada Tuanmu jangan mengganggu di tempat ini." Talita berusaha membujuk Genderuwo.
Tapi Genderuwo tidak perduli, dia mengangkat tubuh Talita. Talita menggoreskan luka di leher Genderuwo. Makhluk itu kesakitan dan melempar tubuh Talita ke dalam kolam pemancingan.
Talita tenggelam, Seseorang berlari masuk ke dalam kolam. Talita sempat membuka matanya samar-samar di dalam air terlihat seorang Pria menolongnya. Pria itu mendekatkan diri dan memberikan oksigen ke mulut Talita. Pandangan Talita gelap.
Aroma ikan bakar membangunkan Talita.
"Aduh, kenapa kepalaku pusing?" Talita memegang kepalanya.
"Talita, kamu sakit?" tanya Rani.
"Apa yang terjadi? Bajuku?" Talita melihat rambutnya basah dan bajunya sudah berganti dengan baju yang lain.
"Kamu tenggelam, beruntung Pangeran tampan menolong." Kata Rani dengan senyuman dibibirnya.
"Pangeran tampan?" Talita menyipitkan matanya.
"Sudah ayo temui Pangeranmu." Rani membawa Talita ke rumah makan Neneknya yang berada persis di depan rumah Neneknya.
"Talita, bagaimana keadaanmu?" Nenek Rani memegang tangan Talita dan menyuruhnya duduk.
"Kepala saya masih sakit Nek." Talita menatap Pria tampan di depannya.
"Tadi kamu tenggelam di dalam kolam, beruntung anak ini menolongmu." Kata Kakek Rani.
"Terima kasih sudah menolongku. Namaku Talita." Talita mengulurkan tangannya.
"Iya sama-sama. Namaku Delvin." Delvin menjabat lama tangan Talita.
Ada aliran listrik yang mengalir seakan memporak porandakan jantung Talita. Degupannya sangat kencang. Talita memegang dadanya.
"Kenapa? Kamu sakit?" Delvin memegang kening Talita.
"Ah tidak." Talita melepaskan pegangan Delvin. Wajahnya merona.
"Oh iya, kenalin ini sepupuku Danish."
"Hallo aku Danish." Sapa Danish.
"Hallo, aku Talita dan ini Rani sahabatku." Talita menunjuk Rani.
"Ayooo semua di makan, ini masakan khas rumah makan Nenek. Aneka Ikan bakar, sayur asem, urap, juga ada sambel. Makan yang banyak ya. Khusus untuk kalian gratis." Kata Nenek.
"Terima kasih Nek." Mereka menyantap semua hidangan. Tanpa terkecuali. Kapan lagi dapat makan gratis 😉.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1